Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 22



Setelah meeting, mereka kembali menuju perusahaan. Suasana di dalam mobil masih sama. Hening dan menegangkan bagi Arini. Namun santai bagi Reyhan dan Soni. Meeting kali ini berjalan cukup lancar. Jadi mereka bisa kembali ke perusahaan tepat waktu.


"Arini, nanti tolong buatkan saya surat perjanjian tadi dan jangan lupa bawa ke ruangan saya." Titah Reyhan sambil memainkan jarinya dan hanya menatap Arini dengan datar.


"Baik pak, nanti akan segera saya laksanakan." Balas Arini mengangguk. Kemudian menatap luar jendela kembali. Reyhan mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Arini.


"Kamu tidak bertanya dulu apa isi surat perjanjiannya? Dan bagaimana formatnya?" Tanya Reyhan yang tidak percaya Arini akan mengangguk begitu saja.


"Jangan lupa pak, saya juga lulusan dari pendidikan Bahasa Indonesia." Balas Arini dan ia tersenyum kecil.


Soni yang mendengar jawaban Arini tertawa kecil namun tidak mereka sadari. Reyhan hanya ber oh ria saja. Dan kembali menatap ponselnya.


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai di perusahaan. Mereka segera menuju ruangan.


Arini menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia segera membuka komputernya dan menyusun surat perjanjian. Kali ini Arini harus berhasil. Agar Reyhan tidak jadi memecatnya nanti.


Setelah selesai, Arini langsung membawa dokumen tersebut menuju ruangan Reyhan.


Arini mengetuk pintu, setelah mendengar jawaban dari dalam, Arini langsung masuk.


"Ini pak surat perjanjian yang pak Reyhan minta." Ucap Arini ragu-ragu. Arini kali ini sudah mempersiapkan dirinya jika dimarahi Reyhan lagi.


Reyhan menatap sekilas dan segera mengambilnya. Ia membuka dokumen tersebut dan membacanya dengan seksama. Soni yang mengetahui kegugupan Arini langsung mendekati dan menepuk bahu Arini. Sehingga membuat Arini terkejut.


"Tenang saja. Pasti kali ini pak Reyhan tidak akan memarahimu lagi." Bisik Soni mencoba menenangkan Arini. Arini menatap Soni sekilas dan mengangguk.


"Hmm.. Lumayan juga. Sepertinya dia telah berkembang dengan cepat." Batin Reyhan dan menatap Arini sekilas. Kemudian melanjutkan meneliti perjanjian tersebut.


"Oke, tidak buruk juga. Kamu segera hubungi klien tadi dan minta dia datang ke sini untuk menandatangani surat kontrak ini." Ujar Reyhan dan meletakkan dokumen itu diatas meja.


"Baik pak." Jawab Arini dan ia segera meninggalkan ruangan Reyhan.


"Heh, ngapain lo senyum-senyum di sini? Bukannya kerja malah enak-enakan." Ucap Novi secara tiba-tiba yang mengagetkan Arini.


"Ma-maaf mbak." Balas Arini gugup.


"Ahh, minggir sana. Jangan berdiri di depan pintu. Awas-awas!" Ujar Novi dan mendorong Arini dengan kasar. Hampir saja Arini terjatuh.


Arini hanya diam tak membalas. Novi segera masuk ke ruangan Reyhan. Sedangkan Arini melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa mbak Novi sangat benci kepadaku? Aku tidak pernah ada masalah dengannya." Batin Arini menangis. Dirinya tidak pernah mencari masalah dengan siapapun tetapi kenapa selalu diganggu.


"Rey, apa meetingnya tadi berjalan dengan lancar?" Tanya Novi yang sudah bergelayut di belakang Reyhan. Soni menatap jijik dengan sikap Novi yang tidak tahu malu.


"Iya. Kamu jangan seperti ini. Kamu tahu kan ini di kantor?" Ujar Reyhan seraya melepaskan tangan Novi dari tubuhnya.


"Terus, kenapa kamu masih mempertahankan wanita itu di sini?" Tanya Novi sedikit kesal.


Novi benar-benar tak memedulikan Soni yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya. Novi bertingkah seolah hanya ada dirinya dan Reyhan saja.


"Siapa? Arini?" Tanya Reyhan dan mengernyitkan dahinya.


"Siapa lagi kalau bukan dia." Jawab Novi dengan ketus.


Reyhan tersenyum dan terdiam sejenak. Tangannya bergerak menyentuh dagunya.


"Kamu tidak usah ikut campur!" Ucap Reyhan datar.


Novi semakin kesal dan memanyunkan bibirnya. Dirinya mendengus kesal. Soni yang melihatnya hanya terkekeh sambil menahan tawanya. Ia ingin tertawa sekeras-kerasnya. Novi yang kesal langsung keluar dari ruangam Reyhan. Reyhan menghela napasnya dan menyandarkan kepalanya di kursi. Reyhan tahu jika yang diinginkan Novi hanyalah menyingkirkan Arini dari perusahaan.