Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 31



"Gimana? Reyhan, kamu yang memutuskan ini." Ucap Indi lagi.


Reyhan menghela napasnya. Reyhan menatap Arini. Beralih lagi menatap Vian dan mamanya.


"Atau gini aja deh ma. Ke sininya Arini sendiri dulu. Nanti waktu pulang ke rumah, biar Reyhan yang antar setelah Reyhan pulang kerja." Ucap Reyhan memberikan usulan kepada mamanya.


"Arini? Bagaimana? Apa kamu setuju?" Tanya Indi dan kini menatap Arini menunggu jawaban.


"Eh, sebenarnya tidak perlu seperti itu bu. Saya bisa naik taksi nanti." Jawab Arini merasa tidak enak.


"Gak, itu keputusan terakhir. Aku yang akan antar kamu nanti. Tapi hanya sore saja." Ujar Reyhan dan kini ia berdiri. Setelah mengucapkan itu, Reyhan menuju kamarnya.


Indi nampak senang dengan keputusan Reyhan. Sebenarnya ini hanya trik saja. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu dengan Arini, Indi merasa Arini adalah wanita yang cocok mendampingi Reyhan.


Sedangkan Vian sedikit kesal. Pasalnya, ia ingin menjemput dan mengantar Arini. Tetapi tidak diizinkan oleh mamanya. Vian hanya bisa mengalah saja.


Indi memberikan pengarahan tentang apa yang harus Arini lakukan nanti. Selain menjadi guru untuk Zian, Arini juga ditugaskan mengasuh Zian sampai Reyhan pulang.


Di dalam kamar, Reyhan uring-uringan. Mengacak rambutnya dan duduk di tepi ranjang. Keputusannya tadi menambah beban bagi dirinya. Kenapa juga Reyhan tadi melarang Arini untuk menginap di sini. Sekarang, dirinya menyesali keputusannya. Ia harus mengantar Arini pulang setiap hari.


***


Hari semakin sore, Zian begitu antusias belajar dengan Arini. Indi dan Kusuma juga merasa senang, memperhatikan mereka berdua yang sedang belajar di ruang tengah.


Sedangkan Vian keluar entah ke mana. Sejak tadi siang, sampai sekarang juga belum pulang. Reyhan yang nampak bosan berada di kamar terus menerus akhirnya keluar. Reyhan menuruni tangga dan pandangannya mencari keberadaan anaknya dan Arini.


Langkahnya terhenti saat mendengar gelak tawa Zian yang nampaknya begitu senang sejak kedatangan Arini. Tanpa sadar, senyum manis tergurat dibibir Reyhan.


"Kenapa hanya di situ saja? Ayo sini!" Ujar Indi yang menyadari Reyhan tengah memperhatikan Zian dan Arini. Reyhan masih berdiri di anak tangga paling bawah sendiri.


"Nggak ma, Reyhan lupa. Hari ini ada beberapa email yang harus Reyhan pastikan dulu." Balas Reyhan mengalihkan pandangannya. Kini ia segera menuju ruang kerjanya.


Indi hanya menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja anaknya itu.


"Tuh si Reyhan. Malu-malu gitu, nggak mau ke sini." Ucap Indi terkekeh.


"Ooohh.." Balas Kusuma dan kembali fokus ke korannya.


Kusuma memang tidak banyak bicara. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca koran langganannya.


Setelah kegiatan itu, Indi menyuruh bi Inah menyiapkan makanan. Sebelum Arini pulang nanti, Indi ingin Arini makan bersama dengannya dan keluarganya.


"Bi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Arini yang sudah berada di dapur.


"Eh, non. Tidak perlu. Non Arini duduk saja. Ini sudah tugas bibi." Jawab bi Inah dengan sopan.


"Kalau begitu, aku bantu menata piring saja ya bi." Ujar Arini lagi.


"Tapi non.." Bi Inah masih merasa sungkan. Arini hanya tersenyum kemudian mengambil piring dan menatanya di meja makan.


Saat berbalik, Arini tidak sengaja menabrak seseorang. Orang itu adalah Reyhan yang ingin mengambil air minum. Arini terjatuh dalam pelukan Reyhan. Mereka cukup lama dalam posisi ini dan saling bertukar pandangan.


"Ehem." Suara Reyhan membuat Arini gelagapan dan segera menjauh dari tubuh Reyhan.


"Ma-maaf pak." Ucap Arini gugup.


"Lain kali hati-hati." Ujar Reyhan dingin. Kemudian ia mengambil air minum dan meminumnya.


Setelah siap, mereka langsung menuju ruang makan. Kini Zian semakin lengket kepada Arini. Zian merasa nyaman dengan keberadaan Arini.


Mereka makan dengan tenang. Reyhan diam-diam memperhatikan Arini dan Zian. Hatinya merasa senang dengan kedekatan mereka berdua.


Setelah acara makan selesai, Reyhan bergegas mengantar Arini pulang sesuai dengan kesepakatan mereka tadi pagi. Arini tak enak hati, namun tidak berani untuk menolak.