
"Di mana ruangan presdir?" Tanya seorang laki-laki itu saat berhenti di resepsionis.
"Lantai paling atas di sebelah kanan pak." Ujar resepsionis tersebut terpana.
"Terima kasih." Laki-laki itu mengedipkan matanya sebelah kiri sebelum beranjak dari sana. Resepsionis itu hanya menganga merasa tak percaya ada orang setampan itu setelah bosnya.
"Ya Tuhan.. Siapa laki-laki tadi? Tampan sekali." Gumam resepsionis itu yang merasa kagum.
"Ada apa kak? Kenapa menyuruhku segera balik ke Indonesia?" Tanya laki-laki itu yang saat ini sudah duduk santai di sofa.
Reyhan menghentikan aktivitasnya dan menutup laptopnya. Reyhan menghampiri Vian yang berada di sofa. Ya, laki-laki tadi adalah Alvian Candra Kusuma. Adik kandung Reyhan. Selama ini ia menetap di luar negeri untuk melanjutkan studinya. Dan baru kali ini Reyhan memintanya agar segera pulang ke Indonesia.
"Jadilah sekretarisku. Aku membutuhkanmu saat ini." Ujar Reyhan santai.
"Apa? Kak Rey menyuruhku untuk segera pulang hanya untuk jadi sekretaris?" Tanya Vian tidak percaya.
"Kenapa? Rugi kuliah jauh-jauh kalau tidak untuk mengelola bisnis keluarga sendiri. Sudahlah, besok kamu mulai bekerja." Jawab Reyhan dengan santainya.
"Sekretaris kak Rey yang sebelumnya kemana?" Tanya Vian penasaran.
"Sudah aku pecat. Lagian untuk apa punya sekretaris tapi tidak bisa apa-apa." Balas Reyhan dengan asal. Vian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kakaknya ini memang orang yang keras.
Bagaimanapun juga, Vian juga harus mulai belajar bisnis. Vian ingin seperti kakaknya. Sukses diwaktu masih muda dan sekarang perusahaan yang dipimpinnya sudah berkembang dengan pesat. Menjadi sekretaris bukan hal yang sulit bagi Vian. Ini adalah langkah awal untuknya belajar mengelola perusahaan agar bisa seperti Reyhan, kakaknya ini.
***
Sudah tiga hari sejak Reyhan memecat Arini, Arini belum juga memikirkan pekerjaan pengganti. Sekarang, ia lebih termenung dan berdiam diri. Pemecatan waktu itu berakibat tidak baik bagi Arini.
Kegiatan sehari-hari hanya ia gunakan untuk bersih-bersih rumah, memasak dan menonton televisi disaat bosan. Terkadang juga mengajari beberapa anak yang membutuhkan les tambahan.
Gaji yang diberikan oleh Reyhan waktu itu juga lebih dari cukup untuk menghidupinya selama beberapa bulan kedepan. Tapi untuk keluarganya? Bahkan sampai sekarang, Arini belum bisa membanggakan keluarganya sendiri.
Satu pesan masuk ke ponsel Arini. Arini mengambil ponselnya yang terletak tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Hai cantik, lagi apa nih? Aku ganggu gak?"
Isi pesan dari Vian.
Baru tangan Arini ingin mengetik balasannya, kini Vian sudah meneleponnya.
"Ya Vian? Ada apa?" Tanya Arini dan ia mengernyitkan dahinya.
"Mau ajak kamu makan boleh gak? Kalau gak mau juga gak apa-apa sih. Aku sudah ada di parkiran apartemenmu nih." Ujar Vian yang kini berada di dalam mobilnya.
"Hah? Kamu serius?" Tanya Arini tak percaya.
"Gak percaya ya? Coba cek saja ke bawah sini." Balas Vian santai.
Arini mematikan sambungan telepon. Ia bergegas menuju parkiran. Dan benar saja, Vian sudah berada di dalam mobil dan saat ini tersenyum manis pada Arini. Arini menghampirinya.
"Kenapa nggak bilang dulu kalau mau ke sini?" Tanya Arini yang sedikit menunduk di depan jendela pintu mobil.
"Gak boleh ya kalau gak bilang dulu?" Tanya Vian memelas.
"Boleh kok." Balas Arini.
Arini tidak ingin membuat Vian kecewa. Kasihan, ia sudah jauh-jauh datang ke sini. Arini hanya menuruti Vian. Toh, ini hanya makan siang saja kan. Harusnya tidak apa-apa.
Arini kira, Vian mengajaknya keluar untuk makan siang. Namun ternyata Vian sudah menenteng beberapa kotak makanan ditangannya. Niat sekali ini anak untuk mengajak Arini makan siang. Akhirnya, Arini mengajak Vian ke apartemennya. Tidak baik juga jika mereka makan di dalam mobil.
Niat Vian mengajak Arini makan siang dengan membawa nasi kotak sebenarnya hanya kedok saja. Vian diam-diam menaruh hati kepada Arini sejak pertemuan pertama mereka. Vian hanya ingin tahu di mana apartemen Arini. Biar ia lebih mudah jika ingin mengunjungi Arini. Lebih dekat lebih baik kan, hehehe.