
"Ma, pa, Reyhan berangkat dulu." Pamit Reyhan dan menyudahi sarapannya karena sudah kenyang. Reyhan menatap Arini sekilas kemudian memalingkan wajahnya.
Reyhan berdiri dan menghampiri Zian yang ada dipangkuan Arini. Reyhan menunduk untuk mengecup kening anaknya itu.
Sebelum Reyhan mengangkat kepalanya, tatapannya dengan Arini sempat beradu. Mereka sama-sama membuang muka dan setelah itu Reyhan berdiri.
"Daddy berangkat dulu ya sayang. Ingat, jangan nakal. Dan selalu patuh pada tante Arini ya." Ujar Reyhan seraya mengusap lembut puncak kepala anaknya itu.
"Oke dad. Daddy hati-hati." Balas Zian
"Emm.. Arini, jaga anak saya." Ujar Reyhan sebelum ia benar-benar pergi. Arini hanya menjawab dengan anggukan saja.
Reyhan keluar lebih dulu sedangkan Vian masih masih duduk menikmati makannya. Setelah selesai, ia beranjak dan menghampiri Arini.
"Zian jangan nakal ya." Ujar Vian sambil mengacak rambut Zian dengan pelan.
"Siap paman." Balas Zian dengan diiringi acungan jempol.
"I love you." Bisik Vian didekat telinga Arini. Setelah mengucapkan itu, Vian tersenyum dan segera pergi.
Arini menatap Vian dengan terkejut. Dirinya masih terdiam mencerna kata-kata yang dilontarkan Vian barusan.
"Maksudnya apa ya?" Batin Arini dan ia terdiam.
"Tante, Zian sudah kenyang." Ucap Zian membuyarkan lamunan Arini.
"Eh, iya. Yukk kita ke ruang tengah." Ajak Arini.
Seperti biasa, Arini mengajari Zian membaca dan menulis. Belajar menghafal huruf dan angka. Hanya seputar itu saja. Pembelajaran sangat asik dan menarik. Meskipun terlihat santai, namun Zian tetap dapat ilmu dari Arini. Zian tidak pernah bosan jika sudah belajar dengan Arini.
***
"Kamu kenapa lagi sayang?" Tanya Jerry saat mendapati kamar mereka berantakan dan Clara terduduk dilantai dengan penampilan acak-acakan.
Clara masih menangis haru tak menjawab pertanyaan suaminya itu. Hingga Jerry pusing, tak tahu lagi bagaimana cara ia menenangkan istrinya ini.
"Maaf, aku tidak bisa membawa Zian ke mari untuk tinggal bersama kita. Tapi aku akan mencari cara agar Zian bisa kembali bersamamu sayang." Ungkap Jerry. Ia mengira Clara seperti ini karena tidak bisa bertemu dengan anaknya.
"Bodoh! Bukan Zian yang gue tangisi, tapi Reyhan. Gue sih tidak peduli dengan anak sialan itu. Kalau sampai Reyhan menikah lagi, gue tidak akan pernah bisa kembali lagi dengannya." Batin Clara kesal.
Jerry yang tidak tega melihat keadaan istrinya ini merengkuhnya dan mendekapnya. Dengan tujuan agar Clara sedikit tenang dan tidak uring-uringan.
"Mas.. Apa aku bukan ibu yang baik? Apa aku tidak pantas menjadi seorang ibu. Bagaimana bisa mereka melakukan itu padaku." Ujar Clara dalam dekapan Jerry. Dirinya masih menangis. Jerry mengusap lembut punggung istrinya ini.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Tanya Jerry yang masih mengusap punggung istrinya.
"Aku tahu dulu pernah melakukan kesalahan mas. Tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku sayang sama Zian. Aku hanya ingin Zian kembali kepadaku mas." Ungkap Clara yang semakin tersedu. Walaupun sebenarnya bukan itu yang ia takuti dan tangisi. Tujuannya hanya satu, menikah kembali dengan Reyhan.
"Sudahlah sayang. Kita pikirkan cara lain lagi, kamu jangan sedih seperti ini." Hibur Jerry.
Clara mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. Biarkan saja, untuk saat ini suaminya mengira kalau Clara bersedih karena Zian. Sampai nanti ia bisa merebut Reyhan lagi, ia akan meninggalkan Jerry.