
Setelah perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di depan halaman rumah keluarga Kusuma. Vian segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Arini. Arini yang mendapat perlakuan ini nampak malu-malu.
Vian menggenggam tangan kanan Arini dan membawanya masuk ke dalam. Sedangkan Arini tertegun dan memandangi tangannya yang digenggam Vian.
"Kamu duduk di sini dulu ya." Ujar Vian seraya melepas genggamannya dan mempersilakan Arini untuk duduk. Arini mengangguk. Vian pergi memanggil mamanya.
Beberapa saat kemudian, Vian ke ruang tamu lagi bersama mama dan Reyhan. Mereka duduk di sofa.
"Loh, Arini?" Ujar Reyhan yang terkejut. Ternyata teman yang dibawa Vian adalah Arini.
Arini juga terkejut dan ia segera berdiri.
"Pak Reyhan." Arini kini menunduk.
"Kalian saling kenal?" Ujar Indi dan Vian bersamaan.
"Dia pernah bekerja di perusahaan." Ujar Reyhan menatap Arini datar. Vian menyuruh Arini duduk kembali.
"Kita bicarakan itu nanti saja. Ma, walaupun aku belum lama kenal Arini, tapi aku yakin kok kalau Arini bisa menjadi guru yang baik untuk Zian." Ucap Vian meyakinkan mamanya.
"Mama setuju kan kalau Arini yang menjadi guru untuk Zian?" Tanya Vian pelan. Ia sangat berharap mamanya menyetujui usulannya.
"Kalau mama sih terserah Reyhan saja. Kalau dari mama pribadi setuju saja. Dilihat dari sikapnya, Arini sepertinya juga orang yang baik." Balas Indi.
Sedangkan Reyhan hanya diam saja. Sepertinya ia sedang berpikir sesuatu.
"Kak?" Panggil Vian agar segera memberi jawaban.
"Ya, kalau mama setuju aku juga setuju." Ucap Reyhan tanpa ekspresi sama sekali.
"Arini, kamu mau kan menginap di sini? Sekalian saja kamu jadi pengasuh Zian. Bagaimana?" Tanya Indi antusias.
Arini terlihat bingung. Ia menatap Vian sekilas dan beralih menatap Reyhan. Ia meremas-remas jari-jarinya.
"Gak usah lah ma. Kasihan Arini, ia harus mengurus keluarganya kan?" Ujar Reyhan. Entah mengapa, Reyhan tidak ingin Arini menginap di rumahnya.
Indi menatap bingung ke arah Reyhan. Bingung dengan sikap anaknya ini. Kenapa begitu dingin kepada Arini. Padahal mereka juga saling kenal.
"Mmm.. Maaf bu, saya kalau hanya menjadi guru untuk Zian, insya Allah saya bisa. Tapi kalau untuk menginap.." Ucapnya terhenti sesaat. Arini nampak ragu untuk melanjutkan. Ia menarik napas dan membuangnya dengan pelan agar lebih tenang.
"Maaf, saya menolak." Sambung Arini lagi. Ia menyadari bahwa kehadirannya sebenarnya membuat Reyhan terganggu. Vian nampak kecewa dengan keputusan Arini. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak juga.
"Tapi kamu harus diantar jemput sama Reyhan. Kalau ini kamu tidak boleh menolak!" Ucap Indi lagi. Membuat mereka bertiga terkejut dan menatap Indi.
"Ma, Reyhan juga harus bekerja kan? Kalau antar jemput Arini setiap hari Reyhan mana bisa? Atau Arini biar diantar jemput oleh sopir saja." Protes Reyhan tidak terima.
"Atau biar Vian saja yang mengantar Arini ma. Lagipula Vian juga tidak terlalu sibuk." Tawar Vian.
"Tidak perlu repot bu, saya bisa ke sini sendiri. Diberi kesempatan menjadi guru untuk Zian saja saya sudah berterima kasih." Tolak Arini merasa tidak enak dengan tawaran Indi.
"Nggak! Pokoknya hanya ada dua pilihan. Arini menginap di sini atau Reyhan mengantar jemput Arini setiap hari!" Kekeh Indi.
"Ada apa dengan mama hari ini? Kenapa juga aku harus repot-repot mengantar Arini. Memangnya dia ini tidak punya kaki apa." Batin Reyhan kesal dengan sikap mamanya hari ini.
"Ma, jangan bilang jika mama ingin menjodohkan Arini dengan kak Reyhan." Batin Vian merasa takut.