
Arini sampai di parkiran apartemennya. Zian sudah tertidur sedari tadi karena kelelahan.
"Terima kasih untuk waktunya hari ini." Ujar Arini menatap Reyhan.
"Sama-sama. Terima kasih juga telah sabar menghadapi Zian dan aku." Balas Reyhan dan kini mengecup punggung tangan Arini.
Reyhan memajukan wajahnya hingga mendekat ke wajah Arini. Menarik tengkuk Arini dan mencium bibir Arini. Arini memejamkan matanya dan membalas ciuman tersebut. Reyhan melepas ciumannya dan mengecup berulang kali bibir Arini.
"Istirahatlah, besok aku jemput kamu lagi." Ucap Reyhan dengan lembut. Tangannya mengusap bibir Arini. Arini mengangguk dan perlahan membaringkan Zian di kursinya. Arinu keluar mobil.
Setelah itu, Reyhan melajukan mobilnya menuju rumahnya. Arini menghela napasnya lega dan segera menuju apartemennya.
"Caca?" Gumam Arini yang mendapati Caca sudah berada di depan pintu apartemennya.
"Kamu harus cerita sama aku. Bagaimana bisa kamu punya hubungan dengan pak Reyhan. Selama ini apa saja yang sudah aku lewatkan, Arini." Ujar Caca tidak sabar. Arini membuka pintunya dan mempersilakan Caca masuk.
Arini tersenyum dan duduk di sofa, diikuti oleh Caca yang duduk disampingnya.
"Aku sama pak Reyhan jadian." Ujar Arini ragu-ragu.
Caca menutup mulutnya yang menganga dan memeluk Arini. Perasaan senangnya entah tak dapat dijelaskan lagi.
"Ya ampun Arini.. Aku senang banget. Dengar, aku selalu mendukungmu. Aku sekarang bisa lega mempercayakanmu kepada pak Reyhan." Ungkap Caca yang masih memeluk Arini.
Arini melepas pelukan itu dan mulai bercerita sejak kapan mereka merasakan cinta dan bagaimana mereka saling mengakuinya. Caca juga tidak menyangka, Arini bahkan diperebutkan oleh dua pria sekaligus.
***
Reyhan tidak ingin lama-lama mengenal Arini. Dirinya sudah yakin bahkan sangat yakin jika Arini adalah perempuan yang tepat untuk mendampinginya.
Arini tak banyak berpikir, ia tentunya juga menginginkan hal yang sama. Tepat hari ini, mereka meluangkan waktu untuk berkunjung ke kampung halaman Arini, yaitu daerah Yogyakarta.
"Sudah siap semuanya?" Tanya Reyhan yang saat ini berada di apartemen Arini. Dengan sabar ia menunggu Arini menyiapkan beberapa oleh-oleh yang akan mereka bawa.
Mereka hanya pergi berdua saja. Zian tidak ikut bersama mereka. Mengingat perjalanan yang lumayan jauh dan akan sangat melelahkan.
"Iya, ayo." Balas Arini. Reyhan membantu Arini membawa oleh-oleh menuju mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Reyhan tak hentinya tersenyum. Arini semakin malu dan bahkan kini pipinya merah merona.
"Ada apa?" Tanya Arini malu-malu.
"Aku sangat senang hari ini." Balas Reyhan dan ia terkekeh geli.
"I love you, sayang." Ujar Reyhan dan kini ia menatap Arini dengan lekat. Arini memalingkan wajahnya dan berjalan mendahului Reyhan.
Sesampainya di mobil, Arini menaruh oleh-oleh tersebut di jok belakang. Reyhan menyusulnya dan segera duduk di kursi depan, disamping Arini.
Reyhan memasang wajah kesalnya. Dan itu tak luput dari pandangan Arini. Reyhan menekuk tangannya didadanya dan mengerucutkan bibirnya. Arini melirik keadaan sekitar dan mencium pipi Reyhan sekilas. Reyhan terkejut dan ia mengembangkan senyumnya.
"Berani menggodaku, hem?" Bisik Reyhan yang saat ini menarik Arini mendekat padanya.
"Ti-tidak. Mana ada." Bantah Arini.
Reyhan memiringkan wajahnya dan mulai mencium bibir Arini. Perlahan ciuman itu semakin memanas. Reyhan menekan tengkuk Arini untuk memperdalam ciumannya.
Arini memukul lengan Reyhan kala pasokan udara telah habis diantara mereka. Reyhan menghentikan ciumannya dan mendekatkan keningnya ke kening Arini. Arini maupun Reyhan terengah-engah. Mengatur napas mereka masing-masing. Mereka sama-sama tersenyum.