Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 54



Mulai hari ini, Reyhan akan mengantar Zian ke apartemen Arini. Bukan tanpa alasan, di sana ia bisa berduaan dengan Arini tanpa ada yang mengganggunya.


Reyhan ingin Arini hanya di rumah saja dan mengurus Zian dengan baik. Itu saja ia sudah bahagia.


"Buka pintunya sayang, aku sudah di depan pintu apartemenmu." Ujar Reyhan ditelepon. Arini berlari kecil untuk membukakan pintunya.


"Biasanya juga menunggu di bawah. Eh, kenapa Zian juga ikut?" Ucap Arini sambil membukakan pintunya.


Reyhan masuk begitu saja sambil menggendong Zian. Ia duduk di sofa diikuti dengan Arini yang duduk disebelahnya.


"Mulai hari ini aku yang akan ke sini membawa Zian. Jadi kamu tinggal tunggu di rumah saja." Ucap Reyhan santai.


"Daddy, boleh ya nanti Zian menginap di rumah tante Arini?" Tanya Zian berharap ayahnya mengizinkan dirinya menginap.


"Kenapa pak?" Tanya Arini bingung.


"Tanya sama tantenya dong. Kalau tante Arini mengizinkan, daddy juga akan mengizinkan." Balas Reyhan dan mencium kening Zian sekilas.


"Aku hanya ingin kamu diam di rumah saja." Balas Reyhan sambil menatap Arini.


"Dan satu lagi, jangan panggil saya dengan sebutan pak. Masa sudah mau nikah panggilnya pak terus." Ledek Reyhan.


Arini tertawa kecil dan meninju lengan Reyhan pelan. Hanya begitu saja pipi Arini sudah memerah menahan malu.


"Lalu?" Tanya Arini dan mengambil alih Zian dari pangkuan Zian.


"Zian mau menginap di rumah tante?" Tanya Arini dan mencubit pipi Zian dengan gemas. Zian mengangguk antusias.


"Boleh kok." Ujar Arini dan mengusap puncak kepala Zian. Zian memeluk Arini dengan erat.


Reyhan benar-benar merasa beruntung mendapatkan Arini yang baik hati dan penyayang. Sikap Arini yang tenang membuatnya nyaman berada di samping Arini.


Reyhan hanya diam sambil memperhatikan interaksi dua insan yang berada di sampingnya ini. Sungguh pemandangan yang indah menurutnya. Keputusannya untuk menikah dengan Arini memang tidak salah.


Setelah berbincang-bincang dengan Arini, Reyhan pamit pergi ke kantor. Kebetulan hari ini dirinya tidak terlalu sibuk, sehingga ia bisa berlama-lama berada di apartemen Arini.


"Ingat, tunggu mas pulang." Ujar Reyhan dan dirinya tertawa kecil seolah memposisikan dirinya sebagai suami Arini.


"Hati-hati mas. Jangan lupa makan ya, jangan hanya pekerjaan yang diurusi." Ucap Arini yang sebenarnya masih canggung memanggil Reyhan dengan sebutan 'mas'.


Reyhan mengangguk dan mencium kening Arini sekilas. Dan beralih mencium Zian. Dirinya segera melangkah meninggalkan apartemen Arini.


"Zian, bagaimana jika kita ke supermarket sebentar. Kita membeli beberapa camilan yuk." Ajak Arini dan disambut antusias oleh Zian.


Setelah kepergian Reyhan, Arini segera membawa Zian ke supermarket yang terletak tidak jauh dari apartemennya. Zian memilih beberapa camilan yang ia inginkan. Sedangkan Arini belanja beberapa sayuran untuk memasak hari ini.


Setelah mendapatkan beberapa barang yang mereka inginkan, Arini membayar di kasir sambil menggendong Zian.


Setelah cukup lama mengantri, akhirnya mereka selesai. Sebelum pulang, Arini mampir dulu ke toilet.


"Sayang tunggu di sini sebentar ya. Tante nggak lama kok." Ujar Arini dan tersenyum tipis.


"Oke tante Arini." Balas Zian dan dirinya mengangguk.


Arini masuk ke dalam toilet. Beberapa saat kemudian ia keluar. Arini mendapati Zian sudah tidak ada di tempatnya. Dengan panik Arini memanggil-manggil Zian dan bertanya ke sejumlah pengunjung yang berada di dekat toilet tersebut. Namun mereka tidak mengetahui di mana Zian berada.


"Zian? Kamu di mana sayang?" Teriak Arini yang sudah panik sedari tadi.


"Zian? Jawab tante sayang.."


"Zian? Jangan menakuti tante, kamu di mana sayang..."


"Ziaann??..."


"Ziaann???.."


Arini terus berteriak memanggil Zian.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Zian kamu di mana?" Gumam Arini dan ia merasa gelisah.


Arini mengelilingi sekitar toilet dan supermarket tersebut namun tidak menemukan Zian berada. Ia menyesal kenapa tadi meninggalkan Zian sendirian di depan toilet. Arini yang gelisah dan panik mulai menitikkan air mata.


"Kenapa kamu begitu ceroboh Arini?" Batinnya merutuki dirinya sendiri.