Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 38



"Mmm.. Itu, anu.. Sa-saya mau minta maaf." Ujar Reyhan dengan gugup.


"Tapi itu juga bukan salah saya sepenuhnya. Lagipula siapa suruh kamu memelukku duluan." Lanjut Reyhan lagi sambil menetralkan jantungnya.


Arini masih terdiam mematung. Menundukkan wajahnya. Ia salah, namun Reyhan lebih salah. Tapi Arini tidak berani berujar menyalahkan Reyhan. Ia memilih untuk diam.


"Malam ini kamu istirahatlah di sini. Saya tidak bisa mengantarmu pulang." Ucap Reyhan lagi.


"Tapi pak." Jawab Arini ragu.


"Saya sangat lelah hari ini. Banyak urusan kantor yang harus saya selesaikan tadi." Balas Reyhan dan ia menatap Arini.


Arini mengangguk pelan. Ia juga tidak tega melihat Reyhan yang lelah harus mengantarkan dirinya pulang. Mau tidak mau Arini harus bermalam di sini.


"Maaf karena tadi saya sudah lancang menciummu. Dan maaf juga untuk pagi tadi." Tutur Reyhan meminta maaf. Ia juga tidak enak hati. Merasa bersalah atas sikapnya tadi.


"Iya, tidak apa-apa pak. Anggap saja tidak pernah terjadi." Balas Arini dan tersenyum masam.


Reyhan mengangguk dan mengusap punggung tangan Arini dengan pelan. Ia melangkah keluar kamar. Setelah menutup pintu, Reyhan bersandar sebentar di luar pintu tersebut.


"Bodoh! Kenapa kamu ceroboh sekali Reyhan." Gerutunya menyesali perbuatannya tadi. Reyhan melangkah menuju kamarnya untuk istirahat.


***


Pagi hari, mereka semua dibangunkan dengan bau makanan yang begitu menggoda. Reyhan yang awalnya enggan membuka matanya, kini ia sudah bersandar di ranjang dan memikirkan siapa yang sedang memasak hingga baunya begitu menggodanya. Reyhan segera bangun dan membersihkan dirinya.


Begitu juga Indi dan suaminya, sepagi ini bi Inah sudah memasakkah? pikirnya. Biasanya hanya ada roti dan susu di meja makan. Rasa penasaran menghampirinya untuk segera menuju ruang makan.


"Maaf, saya hanya bisa menyajikan ini saja." Ucap Arini sambil meletakkan makanan di meja makan dibantu oleh bi Inah.


"Apa kamu yang memasak semua ini sayang?" Tanya Indi kepada Arini.


"Iya bu. Maaf jika Arini hanya bisa menghidangkan makanan sederhana seperti ini." Tutur Arini.


Mereka berempat saling bertukar pandang. Walaupun ini hanya nasi goreng dengan beberapa lauk saja. Tetapi ini sangat menggoda mereka. Baunya yang harum membuat siapa saja merasa lapar.


"Terima kasih sudah repot-repot menyiapkan kami makanan. Sini, duduklah kita sarapan bersama." Ujar Indi dengan lembut.


"Saya mau ke kamar Zian sebentar. Silakan nikmati dulu makanannya. Arini nanti saja." Balas Arini dengan sopan. Indi mengangguk.


Sebelum Arini beranjak, pandangannya bertemu dengan Reyhan. Kali ini mereka saling bertukar pandang. Kemudian Arini bergegas menuju kamar Zian.


"Zian, bangun yukk.." Arini membangunkan Zian dengan lembut.


Zian menggeliat dan mengucek matanya. Ia membuka matanya.


"Tante Arini." Ucap Zian dengan senang. Arini tersenyum tipis.


"Sini, mandi sama tante ya. Habis ini kita sarapan." Ujak Arini. Zian langsung berhambur memeluk Arini. Betapa senangnya ia melihat Arini pagi ini.


Arini memandikan Zian dengan telaten. Ia senang hati merawat Zian. Begitu juga Zian. Kedekatan mereka tidak bisa terungkap dengan kata-kata.


Setelah siap, Arini membawa Zian ke meja makan. Arini dengan setia menyuapi Zian. Semua orang yang berada di sana hanya memandangi pemandangan yang sangat mengagumkan bagi mereka. Tapi tidak dengan Vian. Vian tidak terlalu suka jika Arini terlalu dekat dengan Zian. Meskipun dia adalah keponakannya sendiri.