Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 34



"Sa-saya.. Saya adalah.." Ucap Arini dengan gugup.


"Dia adalah calon ibu untuk Zian. Dia tunanganku, sebentar lagi kami akan menikah." Jawab seseorang yang berjalan dari dalam menuju halaman rumah. Dia adalah Reyhan.


Arini cukup tercengang mendengar pengungkapan itu. Arini menelan salivanya dengan kasar. Reyhan menghampiri mereka dan melepas cengkraman tangan Clara dari tangan Arini. Reyhan kemudian mendekatkan tubuh Arini padanya. Clara yang mendengar perkataan dari Reyhan tersebut terdiam tak percaya.


"Bohong. Kalian.. Kalian mana mungkin.." Ucap Clara yang kini menutup mulutnya yang menganga.


"Bohong atau tidak, kamu akan segera mengetahuinya." Ujar Reyhan menyeringai. Dan tangannya semakin mengeratkan bahu Arini. Arini menatap Reyhan dengan bingung.


"Nggak, ini gak boleh terjadi. Reyhan hanya milikku. Hanya aku yang boleh menikahinya. Wanita ini, apa hebatnya dia!" Batin Clara dengan kesal.


"Sudahlah, kita pulang dulu sayang. Tidak enak bertengkar di rumah orang." Ajak Jerry yang tidak ingin situasi semakin memanas.


Clara masih mematung di tempatnya ia berdiri sekarang. Ia tak peduli dengan Jerry. Pikirannya saat ini tertuju pada Reyhan dan Arini. Clara mengepalkan tangannya. Menatap Arini dengan tatapan tajam.


"Sayang, apa tanganmu sakit? Apa dia tadi menyakitimu?" Ucap Reyhan yang menyadari Clara menajamkan tatapannya kepada Arini.


"Hem? I-ini.. Ti-tidak.." Ucap Arini gelagapan.


"Pasti sangat sakit kan sampai kamu ketakutan seperti ini. Maaf sayang, tadi aku tidak tahu kamu datang ke sini." Ucap Reyhan lagi pura-pura khawatir. Membuat Arini terkejut dengan sikap Reyhan hari ini. Reyhan mengecup punggung tangan Arini dan beralih mengecup keningnya.


"Bantu aku sebentar saja." Bisik Reyhan kepada Arini. Arini hanya mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Clara yang menyaksikannya semakin terbakar api cemburu.


"Heh! Siapa yang tahu, kalau kalian hanya pura-pura di depanku?" Ucap Clara yang masih tidak percaya.


Mendengar ucapan Clara tersebut, membuat Reyhan semakin kesal. Reyhan melakukan ini hanya ingin Clara menyerah untuk mengejarnya. Reyhan membalikkan tubuh Arini mengarah padanya. Reyhan menyelipkan tangannya dipinggang Arini. Reyhan menarik Arini agar lebih dekat dengannya.


Cup


Cup


Dan kini kecupan itu beralih ke bibir Arini. Arini yang tanpa persiapan sedikitpun, hanya bisa membelalakkan matanya.


Deg deg deg


Jantung Arini terpacu kencang. Reyhan perlahan ******* bibir Arini. Sedangkan Arini hanya terdiam kaku menahan perlakuan Reyhan.


Clara semakin terbakar cemburu. Namun Clara berusaha menahannya agar Jerry tak curiga padanya kalau sebenarnya Clara berniat ingin mendekati Reyhan lagi. Clara mengepalkan tangannya.


Reyhan semakin ******* habis bibir Arini. Melihat ini, Clara langsung pergi disusul oleh Jerry. Clara membuka pintu mobilnya, ia masuk ke dalam dan menutupnya kembali dengan keras. Jerry melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Reyhan.


"Apa yang kamu lakukan kak? Kau bahkan mencium Arini tanpa malu didepan mereka." Gumam Vian yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran mereka dari pintu. Vian mengepalkan tangannya.


Setelah dipastikan Clara keluar dari rumahnya, Reyhan melepaskan ciuman itu begitu saja. Arini menatap Reyhan meminta penjelasan.


"Tadi itu hanya sandiwara. Jangan beranggapan yang lebih." Ucap Reyhan tanpa memandang Arini.


"Tapi, pak Reyhan kenapa harus mencium saya?" Tanya Arini yang masih ingin tahu apa alasan dibalik perlakuannya tadi.


"Maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku akan memberimu uang karena sudah mau bekerjasama denganku." Ucap Reyhan dengan tegas. Reyhan berbalik dan ingin melangkah ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Vian dengan tatapan tajam mengarah padanya.


Reyhan berjalan dan ketika sampai disamping Vian, ia menepuk bahu Vian dengan kuat. Kemudian ia melanjutkan lagi masuk ke kamarnya.


Sebenarnya Arini tidak terima diperlakukan seenaknya oleh Reyhan. Ia ingin menampar Reyhan tetapi ia tidak punya keberanian itu. Bagaimana bisa, Reyhan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Arini masih tidak percaya dengan sikap Reyhan kali ini. Tadi, ia memperlakukan Arini dengan lembut dan sekarang berubah dingin lagi.