
Kini Reyhan dan Zian sudah sampai di rumah. Zian segera berlari menghampiri Indi dan Kusuma.
"Bagaimana? Sepertinya betah ya tinggal di rumah tante Arini, sampai neneknya dilupakan," ucap Indi.
"Iya Nek, Daddy juga betah tinggal di sana," jawab Zian polos. Indi dan Kusuma langsung menatap Reyhan.
Mereka beralih duduk di sofa. Zian berada dipangkuan Indi. Sudah beberapa hari mereka tidak berjumpa.
"Oh iya, untuk persiapan pernikahan kalian bagaimana?" tanya Indi. Reyhan menghela napasnya sejenak.
"Reyhan tidak mau lama-lama lagi Ma. Setelah acara lamaran Reyhan ingin pernikahannya dipercepat lagi. Minggu depan keluarga Arini juga akan datang ke Jakarta," balas Reyhan. Indi hanya mengangguk saja.
"Bagus itu. Lebih cepat lebih baik," ujar Kusuma.
Setelah itu, Reyhan pamit untuk ke kamarnya. Ia membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak lupa ia menghubungi Arini untuk memberitahukan bahwa Zian sudah pulang dengan selamat.
Reyhan ingin mempercepat pernikahannya karena ia tidak mau nanti Novi atau Clara berulah lagi. Ia juga ingin secepatnya menikah dengan Arini.
***
Keesokan harinya, Reyhan sudah bersiap untuk ke kantor. Ia sengaja berangkat pagi-pagi karena ia ingin sarapan bareng dengan Arini. Selain itu, ia juga menitipkan Zian kembali padanya. Namun kali ini ia membawa pengawal untuk mengawasi sekitar apartemen Arini. Agar kejadian waktu itu tidak terulang lagi.
Zian juga sudah mandi dan berpakaian rapi. Tentunya bocah kecil itu dibantu oleh Indi, neneknya. Zian sudah menunggu Reyhan di ruang tamu. Ia duduk manis sambil membawa mainan mobil-mobilan kesayangannya.
"Daddy lama," gerutu Zian saat melihat Reyhan tengah menuruni tangga dan menuju ruang tamu. Reyhan hanya tersenyum. Sampainya di ruang tamu, Reyhan mengacak rambut anaknya dengan gemas.
"Sudah pamit sama nenek dan kakek?" tanya Reyhan.
"Aku bawakan Arini sayur dan beberapa bahan makanan. Yah setidaknya kalian tidak merepotkannya juga," ucap Indi. Reyhan tersenyum. Mereka pamit untuk berangkat ke rumah Arini.
Reyhan dan Zian menuju apartemen Arini. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai. Reyhan menggendong Zian dan tangan satunya membawa beberapa sayur dan bahan makanan yang sudah disiapkan oleh ibunya.
Reyhan mengetuk pintu apartemen Arini. Arini menyambut mereka dengan hangat. Pas sekali, ia juga sudah selesai memasak. Setelah Reyhan mengabarkan akan sarapan di apartemen Arini, Arini segera mempersiapkan menu untuk sarapan bersama.
"Pagi sayang," ucap Reyhan. Ia tak lupa mengecup kening Arini sekilas. Ia menurunkan Zian dan membiarkannya menuju ruang tamu.
"Pagi juga. Bagaimana? Apa Zian terluka karena penculikan itu?" tanya Arini. Mereka sudah duduk di sofa.
"Tante tenang saja. Daddy tidak akan membiarkan Zian terluka. Lagipula Zian kan laki-laki, harus kuat," ucap Zian antusias. Arini tersenyum dan memeluk Zian.
"Maafkan tante sayang. Tante tidak bisa menjaga Zian dengan baik," ucap Arini. Zian hanya mengangguk.
Arini membawakan makanan yang sudah ia siapkan ke ruang tamu. Ia senang jika Reyhan dan Zian sarapan di apartemennya. Arini merasa mempunyai keluarga yang lengkap. Karena biasanya ia hanya sendirian saja.
"Oh iya, ini ada titipan dari mama," ucap Reyhan. Ia menyerahkan kantung kresek yang ia bawa tadi.
"Kenapa harus repot-repot Rey. Ini banyak sekali," ujar Arini yang melihat isi dari kantung tersebut.
"Biar kamu bisa masakin aku setiap hari," balas Reyhan. Mereka berdua tersenyum.
Selesai sarapan, Reyhan pamit untuk ke kantornya. Tak lupa juga ia menasehati Zian agar tidak menyusahkan Arini.
Reyhan berjalan menuju mobilnya. Ia menghubungi dua bodyguardnya untuk terus mengawasi Arini dan putranya. Siapapun yang mencoba mengganggu mereka, Reyhan tidak akan tinggal diam.