Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 44



"Maaf, hanya ada air putih saja pak." Ujar Arini sambil meletakkan satu gelas berisi air putih.


"Tidak masalah." Ucap Reyhan dan tersenyum penuh arti kepada Arini.


Reyhan menarik Arini dan membuatnya terjatuh dipelukan Reyhan. Dengan posisi mereka duduk berdampingan.


"Kamu tidak ada niatan gitu untuk menjawab perasaanku. Tega banget sih menggantung jawaban untuk bosnya sendiri." Ucap Reyhan sambil membelai rambut Arini dan menyelipkannya di belakang telinga.


"Saya harus menjawab apa? Bukannya kalau saya jawab iya itu akan menimbulkan pertengkaran antara bapak dan adik bapak?" Ungkap Arini dengan jujur.


"Itu akan saya urus sendiri nanti. Intinya saya hanya ingin mendengar jawaban kamu malam ini. Ya atau tidak?" Ujar Reyhan dengan pelan. Kemudian mencuri ciuman dipipi Arini. Membuat Arini terkejut dan reflek menatap Reyhan.


"Kalau kamu tidak menjawab malam ini juga, saya tidak akan pulang." Ancam Reyhan dengan pura-pura bernada dingin. Membuat Arini susah menelan salivanya. Jika Reyhan sampai bertekad tidak ingin pulang, ini tidak akan baik untuknya.


"Saya masih bingung dengan perasaan saya. Jujur, saya merasa senang dan nyaman bila berada didekat pak Reyhan seperti ini. Tapi saya merasa saya bukan orang yang layak untuk bapak..." Arini menjeda kalimatnya sejenak. Mengatur napasnya agar tetap tenang.


"Saya hanya ingin mendengar kamu menjawab iya atau tidak." Sela Reyhan lagi. Percayalah, sebenarnya Reyhan juga merasa gugup menanti jawaban dari Arini.


"Ya." Sahut Arini lirih sambil menahan malu. Mungkin saat ini pipinya merona.


Reyhan masih bisa mendengar apa yang diucapkan Arini. Reyhan mengembangkan senyumnya dan memeluk Arini sebentar.


"Eh ralat. Aku tidak mau pacaran. Aku akan segera melamarmu saja." Ucap Reyhan dengan serius. Dirinya juga tidak ingin Arini direbut oleh Vian. Kali ini Vian kalah telak, hahaha.


"Tidak perlu buru-buru pak. Kita bisa saling mengenal dari awal terlebih dahulu." Ujar Arini. Reyhan menghela napasnya sejenak.


"Baiklah, sa-yang." Ucap Reyhan dan lebih menekankan dibagian kata sayang. Keduanya sama-sama merona.


"Aku pulang dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Besok pagi aku jemput kamu. Daahh, sayang." Pamit Reyhan dan mengecup sekilas kening Arini. Arini mengangguk dengan malu-malu.


Reyhan berdiri dan menuju ke arah pintu. Dirinya berbalik menatap Arini sekilas dan tersenyum lebar.


"I love you, Arini." Satu kalimat yang ia ucapkan sebelum benar-benar pergi. Namun Arini hanya membalas pelan. Sehingga Reyhan tidak mendengar jawaban Arini. Kini Reyhan benar-benar pergi dari pandangannya. Arini segera menutup pintu dan menguncinya.


Di dalam apartemen, Arini senyum-senyum sendiri. Bagaimana bisa mulutnya tadi dengan lancang menjawab iya. Tapi ia merasa senang sekarang.


Reyhan bersandar di kursi kemudinya dengan kedua tangannya berada diatas kepalanya. Dirinya mengingat-ngingat beberapa menit yang lalu saat Arini mengatakan iya. Jatuh cinta untuk kedua kalinya, kenapa tidak?


Reyhan melajukan mobilnya dengan santai. Pikirannya berkelana kemana-mana. Ia harus segera memberitahukan keluarganya tentang kabar baik ini. Tapi ia juga sedikit gelisah. Akankah Vian bisa menerima kenyataan ini. Pelan-pelan, Reyhan akan memberikan pengertian kepada adiknya. Sebesar apa resikonya harus siap ia tanggung. Mengingat bahwa Vian juga begitu menginginkan Arini.