
Di tempat lain, Arini sudah siap dengan menu sarapan hari ini. Setiap hari Reyhan dan Zian selalu sarapan di apartemennya. Belakangan ini Reyhan lebih suka dengan masakan Arini. Masakan calon istrinya itu.
Reyhan sedang mengemudikan mobilnya menuju apartemen Arini. Tetapi, kali ini berbeda. Indi ikut bersama mereka karena Indi sudah lama tidak bertemu dengan Arini. Kini, mereka sampai di parkiran. Reyhan menggendong Zian menuju ke apartemen Arini.
"Rey, kenapa Arini tidak tinggal di rumah kamu yang dulu saja? Biar tidak terlalu jauh juga jika kamu ingin menitipkan Zian padanya," ucap Indi saat mereka berjalan menuju apartemen Arini. Reyhan menghela napasnya kasar. Ia tidak ingin lagi tinggal di rumah itu. Bukan karena takut ia akan jatuh cinta lagi dengan Clara. Tetapi ia tidak ingin mengenang masa lalu kelamnya bersama mantan istrinya itu.
"Reyhan tidak ingin kembali ke rumah itu lagi Ma," balas Reyhan. Ia terlihat sendu saat mengingat bagaimana dengan teganya Clara meninggalkan dirinya dan putranya.
"Apa tidak sayang rumah sebesar itu tetapi tidak kamu tinggali? Mama tahu kamu punya luka dalam hatimu terhadap Clara. Tapi bagaimanapun juga, itu adalah masa lalu Rey. Kamu harus melupakan itu," ucap Indi. Reyhan hanya tersenyum tipis. Ia tidak ingin membahas hal itu lagi.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Arini. Reyhan mengetuk pintunya dan tak lama setelah itu Arini membukakan pintunya.
"Mas, kamu sudah datang?" ucap Arini. Ia terkejut karena Indi juga ikut dengan Reyhan ke apartemennya.
"Ibu," ucap Arini sambil mengulurkan tangannya memberi salam pada Indi. Ia mencium punggung tangan Indi. Indi tersenyum dan tangannya mengusap rambut Arini dengan lembut.
Mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa. Zian beralih ke dalam pangkuan Arini.
"Maaf ya Arini, ibu ke sini tidak bilang dulu. Habisnya ibu sudah kangen sama kamu," ucap Indi. Arini tersenyum canggung.
"Tidak apa," balas Indi.
Lalu Arini mempersilakan mereka untuk sarapan. Arini menyuapi Zian dengan telaten. Indi memperhatikan Arini yang begitu sayang terhadap Zian. Indi bersyukur, Arini adalah wanita yang tepat untuk melengkapi kehidupan putranya dan juga cucunya.
"Sepertinya Arini begitu menyayangi Zian, kalau begitu aku bisa tenang. Memang tidak salah pilih, Arini adalah wanita yang lembut," batin Indi.
Selesai sarapan, Reyhan langsung pamit untuk ke kantor. Sedangkan Indi masih berada di sana bersama dengan Arini dan Zian.
"Aku ke kantor dulu ya sayang," ucap Reyhan. Arini mengangguk dan tersenyum tipis. Ia menyerahkan tas kerja Reyhan. Saat mengambil tasnya dari tangan Arini, Reyhan menarik tangan Arini dan langsung mengecup kening Arini dengan cepat agar ibunya tidak menyadarinya. Arini membulatkan matanya dan segera melirik Indi. Untungnya Indi fokus terhadap Zian. Arini menghela napasnya dengan lega.
"Aku berangkat dulu," pamit Reyhan sekali lagi.
"Iya, kamu hati-hati di jalan mas. Semoga lancar untuk pekerjaanmu hari ini," ucap Arini. Reyhan mengangguk dan segera pergi dari sana.
Setelah menutup pintunya, Arini menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Indi. Setelah itu, ia menuju ke ruang tamu dan meletakkan dua gelas minuman di atas meja. Mereka mengobrol banyak hal. Membahas tentang hubungannya dengan Reyhan ataupun tentang kehidupan Arini.