Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 28



Vian melajukan mobilnya dengan santai sampai menuju kantornya. Kemudian segera menuju ruangan Reyhan. Namun sebelum sampai di ruangan Reyhan, Vian dikejutkan dengan suara yang memanggil namanya.


"Vian!" Panggil Novi.


"Iya?" Vian menoleh ke arah sumber suara.


"Hei, apa kabar kamu?" Tanya Novi antusias.


"Baik kak. Kak Novi sendiri apa kabarnya? Waahh, tambah cantik saja." Balas Vian dan kini mereka saling berpelukan.


"Ah kamu bisa saja. Oh iya, aku dengar dari Reyhan katanya kamu jadi sekretaris di sini ya? Waahh, selamat ya. Aku baru tahu hari ini. Maklum, beberapa hari ini aku sibuk mengurus kerjasama di luar kota." Ujar Novi panjang lebar. Kali ini Novi sangat senang sekali. Setelah pulangnya dari urusan bisnis, ternyata Arini sudah dipecat. Tidak ada pengganggu baginya untuk mendekati Reyhan.


"Oh, iya kak. Pantas saja aku tidak melihat kak Novi. Mmm.. Aku permisi duluan ya kak." Balas Vian dan ia segera menuju ruangan Reyhan.


"Hmm.. Sekarang gue seneng banget, Arini tidak ada di kantor ini lagi. Itu artinya gue punya banyak kesempatan untuk mendekati Reyhan. Yeess.." Batin Novi dengan senang.


***


Setelah bekerja seharian, Reyhan dan Vian pulang. Hari-harinya tak begitu baik. Beberapa wakru yang lalu Clara kembali mengusik hidupnya. Untungnya bisa diatasi oleh bodyguard yang sudah ia sewa. Reyhan bingung, sebentar lagi anaknya akan masuk sekolah dan ini akan menjadi kesempatan besar bagi Clara untuk mendekati Zian lagi.


"Rey, kamu kenapa? Sepertinya banyak pikiran?" Tanya Indi yang sudah mendekat dan membawakan secangkir kopi untuk anaknya. Reyhan menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Ma, Reyhan bingung sekali. Reyhan takut jika Zian nanti masuk sekolah. Clara akan berusaha mendekati Zian. Apa sebaiknya Zian belajar di rumah saja ma?" Ujar Reyhan meminta pendapat dari mamanya.


"Home schoolling saja kak. Kebetulan aku punya kenalan. Dia juga lagi nganggur tuh." Ujar Vian tiba-tiba menyahut.


"Siapa?" Tanya Reyhan dan ia mengernyitkan dahinya.


"Ada deh. Pokoknya dijamin mantul, hahaha." Gurau Vian.


"Kalau dilihat dari pandanganku, dia ini sangat cocok jika mengajari Zian. Percaya deh kak sama aku. Besok aku bawa ke sini deh. Biar mama sama kak Rey tahu seperti apa dia." Jelas Vian.


Reyhan hanya pasrah. Tidak ada salahnya juga jika kali ini ia mempercayai adiknya ini. Untuk saat ini, Reyhan lebih memilih pembelajaran dilakukan di rumah saja.


"Baiklah, biar kakak lihat dulu besok." Ujar Reyhan dan kini ia beranjak dari sofa menuju kamarnya. Kemudian disusul oleh Indi menuju dapur membantu bi Inah menyiapkan makanan. Sedangkan Vian menonton tv di sana.


Setelah mandi, Reyhan berganti pakaian. Kini ia duduk di tepi ranjang sambil memikirkan sesuatu.


"Apa aku minta tolong sama Arini saja ya. Kebetulan juga kan jurusan Arini dulu kan jadi guru." Gumam Reyhan sambil menimang keputusannya.


Reyhan ingin menghubungi Arini namun ia urungkan. Ia sudah janji kepada Vian untuk mencarikan guru privat untuk Zian.


"Hmm... Sepertinya aku harus menunggu besok. Kalau aku kurang suka dengan orang yang direkomendasikan Vian, aku bisa menghubungi Arini untuk menggantikannya." Batin Reyhan.


Reyhan merasa Arini akan lebih cocok mengasuh anaknya. Terlebih waktu itu Reyhan sempat mengamati bagaimana cara Arini memperlakukan Zian. Kalem dan penuh kasih sayang. Itu akan baik untuk pembentukan karakter Zian.