Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 47



"Aku hanya perlu waktu sedikit saja. Aku janji akan mengubur cintaku dalam-dalam. Tapi itu semua butuh waktu. Ungkap Vian lagi.


"Baiklah. Aku minta maaf Vian." Ujar Arini merasa bersalah. Apa seharusnya ia tidak pernah ada diantara mereka berdua. Arini sungguh tidak ingin menyakiti salah satu diantaranya.


Vian tersenyum tipis dan menatap Arini dengan lekat. Tangannya menyentuh pipi Arini dan mengusapnya.


"Aku yang salah. Aku yang terlalu berharap kepadamu Arini." Papar Vian lagi.


"Kamu keluarlah dulu." Ujar Vian dengan lembut. Arini mengangguk dan melangkah keluar kamar.


Vian menatap kepergian Arini dengan sendu. Vian mengacak rambutnya dengan kasar. Kini air matanya menetes. Rasanya sedih, bahkan terasa sesak didadanya. Kesedihan yang sudah ia tahan akhirnya runtuh juga.


Air matanya tak henti menetes. Wanita yang selalu ia impikan setiap malam, akan menjadi kakak iparnya sendiri. Ini sungguh lucu, mengapa harus Arini.


Vian berdiri dan mengacak seisi ranjangnya. Ia tidak ingin terlihat sedih ataupun kecewa didepan Arini. Vian menjatuhkan dirinya di atas kasur yang berantakan dengan posisi tengkurap. Berharap ia bisa segera menghilangkan kesedihan hati yang mendera dirinya.


"Arini.. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa menerima kenyataan ini." Gumam Vian di tengah kekalutan hatinya.


"Aku tidak ingin menjadi laki-laki pengecut. Tapi aku juga tidak bisa menerima kamu menjadi istri kak Reyhan." Ujar Vian lagi sambil tangannya meremas bantal yang ada disampingnya.


Arini masih berdiri di depan pintu. Dirinya belum benar-benar pergi dari situ. Ia memastikan bahwa Vian tidak akan melakukan hal diluar dugaan. Namun Arini tidak dapat mendengar apapun. Akhirnya ia memilih kembali ke meja makan.


"Bagaimana sayang?" Tanya Reyhan yang melihat Arini kembali dengan wajah murung.


"Dia hanya butuh waktu. Untuk sementara waktu mungkin tidak ingin diganggu. Sebaiknya jangan singgung soal pernikahan. Bukankah kita sudah sepakat untuk mengenal dari awal lagi." Ungkap Arini.


"Tapi aku serius dengan ucapanku tadi. Aku tidak tahu apa saja yang kalian bicarakan di dalam. Secepatnya, aku akan datang ke rumah keluargamu untuk melamarmu Arini." Tegas Reyhan dengan serius. Dirinya tidak ingin Arini sampai beranggapan bahwa ia tidak serius dengan hubungan ini.


"Baiklah, kamu sarapan dulu. Aku mau berangkat ke kantor." Pamit Reyhan.


Reyhan mendudukkan Zian di kursinya dan berdiri. Mengusap puncak kepala Arini dan berpamitan kepada kedua orang tuanya.


***


Clara sedang mengamati beberapa foto ditangannya. Dirinya berada di kamar rumahnya. Untung saja Jerry sudah berangkat kerja dari tadi pagi. Dirinya lebih leluasa dan tak harus sembunyi-sembunyi lagi.


"Reyhan, Arini. Kalian tunggu saja. Aku akan menghancurkan hubungan kalian. Hahahaha" Ucap Clara penuh penekanan. Dirinya tertawa lebar mengingat rencana yang telah ia siapkan.


Clara menghubungi Novi. Senjata satu-satunya untuk memisahkan Reyhan dan Arini adalah dia. Clara tidak perlu repot turun tangan. Ia akan menggunakan Novi sebagai bidaknya.


Clara tersenyum puas setelah berhasil membuat kesepakatan dengan Novi. Mereka berencana bertemu di sebuah kafe yang jauh dari keramaian kota. Yang tentunya aman untuk mereka membicarakan rencana jahatnya.


Clara tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Meskipun harus mengorbankan segalanya. Jika itu perlu, Clara tidak akan segan lagi.