Arini, I Love You!

Arini, I Love You!
Bab 57



Arini masih menangis tersedu-sedu di dalam apartemennya. Ia merasa bersalah karena sudah lalai menjaga Zian.


Reyhan kembali ke apartemennya Arini. Arini menatap Reyhan dengan takut. Ia benar-benar takut terhadap Reyhan.


"Kemarilah!" Ujar Reyhan sambil mendudukkan dirinya di sofa. Ia memijat pelipisnya.


Arini masih menatap Reyhan dengan rasa bersalah. Ia masih diam di tempatnya.


"Apa kamu tidak mendengarku? Kemarilah!" Ujar Reyhan lagi. Arini segera menuju ke tempat Reyhan dan duduk di sampingnya.


Reyhan tersenyum tipis, dirinya meraih Arini dan memeluknya dengan erat. Menciumi bahu Arini berkali-kali.


"Jangan takut, maafkan aku yang tadi marah sama kamu. Aku hanya takut jika Zian dibawa kabur oleh Clara. Tapi nyatanya tidak." Ucap Reyhan yang masih memeluk Arini.


"Lalu, bagaimana kabar Zian mas? Apa sudah ada petunjuk?" Tanya Arini yang merasa lega. Setidaknya Reyhan masih bersikap lembut padanya.


Reyhan hanya menggeleng pelan. Ia menenggelamkan wajahnya dibahu Arini. Menghilangkan kesedihannya.


"Apa kamu ada musuh lain sayang selain Clara? Atau mungkin orang yang menyukai kamu yang aku tidak tahu?" Tanya Reyhan yang kini menatap Arini.


"Tidak ada mas." Balas Arini pelan. Ia menundukkan wajahnya.


"Kalau orang di kantor? Ada?" Tanya Reyhan lagi. Setidaknya ia bisa memulai mencari dari orang-orang yang membenci Arini.


"Aku tidak punya orang yang aku kenal kecuali Caca. Semua orang di kantor memusuhiku. Termasuk mbak Novi, dia sering memarahiku kalau aku dekat dengan kamu mas." Tutur Alina.


Reyhan berpikir sejenak. Novi? Yah, dia tahu jika Novi mencintainya. Tapi apakah Novi orang dibalik ini semua. Ia harus segera mencari tahu.


"Apa Novi selalu berbuat kasar padamu waktu di kantor dulu?" Tanya Reyhan penasaran.


"Tidak. Dia hanya memperingatiku." Jawab Arini.


"Baiklah, jangan beritahu ibuku jika Zian menghilang. Aku akan memberitahu mereka jika Zian menginap di sini. Maaf, tadi membuatmu ketakutan." Ujar Reyhan penuh sesal. Ia mencium kening Arini lama.


"Turuti saja sayang." Ucap Reyhan lalu mencuri kecupan dibibir Arini.


Reyhan pulang ke rumahnya. Jika ia menginap di sana. Bisa-bisa ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia harus pulang demi keamanan mereka.


"Loh, sendirian?" Tanya Indi yang melihat putranya pulang sendiri tanpa mengajak Zian.


"Zian tidur di rumah Arini ma." Jawab Reyhan tanpa melihat mamanya.


"Ya sudah, kamu segera istirahat gih." Ujar Indi. Reyhan hanya mengangguk dan segera ke kamarnya.


Keesokan harinya, Reyhan pagi-pagi berangkat ke kantornya. Ia tidak sarapan terlebih dahulu. Namun sebelum ke kantornya, ia ke apartemen Arini sebentar.


"Sayang." Ucap Reyhan saat melihat Arini membukakan pintunya.


Arini tersenyum dan wajahnya merah merona membuat Reyhan semakin ingin menggodanya.


"Apa aku nggak boleh masuk?" Tanya Reyhan sambil mendekat ke arah Arini. Arini memalingkan wajahnya dengan cepat. Ia menjadi gugup dan pipinya bertambah merona.


"Si-silakan masuk mas." Ucap Arini dan ia berbalik untuk masuk ke dalam.


Tangan Arini dicekal Reyhan. Ia segera mendorong Arini menuju dinding dan tangan yang satunya menutup pintu apartemennya. Wajah mereka saling berdekatan. Reyhan semakin mendekat hingga mereka bisa mendengar detak jantung keduanya. Reyhan mengecup sekilas bibir Arini. Ia tersenyum saat Arini memejamkan matanya.


"Apa kamu sudah masak sayang?" Ucap Reyhan dengan lembut.


Arini seketika membuka matanya. Reyhan menatap Arini dan dirinya tertawa kecil. Arini segera mendorong Reyhan dan beralih menuju meja makan.


"Sini mas, makanlah dulu." Ujar Arini sambil menyiapkannya untuk Reyhan.


"Apa belum ada kabar dari Zian?" Kini Arini menatap sendu ke arah Reyhan. Reyhan mengusap punggung tangan Arini dan tersenyum tipis.


"Jangan sedih, aku akan segera menemukan Zian." Ucap Reyhan mencoba menenangkan Arini. Arini mengangguk dan mereka melanjutkan makannya.