
"Sini, biar saya lihat lukanya." Ucap Reyhan dan menepuk sofa agar Arini duduk di sana.
Arini tak berani beranjak dari posisinya. Ia takut Reyhan akan memarahinya lagi.
Reyhan merasa tak sabar melihat Arini yang tidak bergerak sedikitpun. Reyhan menarik lengan Arini sehingga Arini duduk disampingnya. Reyhan menarik tangan Arini. Tangannya memerah karena tersiram kopi panas. Reyhan meniup pelan untuk mengurangi rasa sakitnya.
Deg
Hati Arini berdesir. Baru kali ini melihat Reyhan begitu lembut dan penuh perhatian. Maklum, karena selama beberapa hari ini memang selalu memarahi Arini. Arini tersadar dan segera menarik tangannya yang masih dipegang oleh Reyhan.
"Pak Reyhan tidak perlu khawatir. Saya bisa mengobatinya sendiri." Ujar Arini dan kini menarik tangannya.
"Diam di sini!" Perintah Reyhan dan kini ia beranjak menuju mejanya dan mengambil kotak P3K. Reyhan kembali duduk disamping Arini dan membuka kotak P3K tersebut.
"Maaf." Ucap Reyhan yang sedang mengoleskan salep ke tangan Arini.
"Apakah ini pak Reyhan yang galak itu? Bagaimana bisa berubah menjadi lembut seperti ini." Batin Arini yang masih terpana dengan tindakan Reyhan.
Reyhan mendongak dan kini tatapan mereka bertemu. Jarak antara keduanya tidak terlalu jauh bahkan ini lebih dekat. Mereka bisa merasakan hembusan napas antara keduanya. Tangan Reyhan masih memegang tangan Arini yang berada diatas pangkuan Arini.
Klek
Pintu terbuka secara tiba-tiba dan Novi masuk dengan membawa sejumlah dokumen hasil rapatnya tadi.
"Rey, ini dokumen yang harus kamu tanda tangani." Langkahnya terhenti melihat pemandangan di depan matanya yang membuatnya semakin membenci Arini.
"Reyhan!" Panggil Novi yang membuyarkan mereka berdua. Arini dan Reyhan segera memalingkan wajah masing-masing dan merasa canggung.
Plak
Novi menampar Arini. Reyhan dan Arini terkejut. Tak disangka Novi berani mengambil tindakan ini.
"Kenapa? Tidak bisa bekerja terus sekarang mencoba menggoda atasannya? Hah?" Amarah Novi memuncak. Ia saat ini sedang dalam mode cemburu, pantas saja sikapnya over seperti ini.
"Nov, kamu itu apa-apaan sih?" Tanya Reyhan dan kini ia berdiri dan membalikkan tubuh Novi meminta penjelasan.
Arini hanya menunduk memegangi pipinya yang memerah dan memahan tangisnya agar tidak pecah. Ia salah apa sehingga Novi berbuat seperti ini padanya. Bahkan Novi tidak bertanya terlebih dahulu apa yang terjadi dan sekarang tanpa alasan menamparnya.
"Kamu itu yang apa-apaan. Rey, dia ini mencoba menggodamu! Lihatlah, tampangnya yang polos itu." Ujar Novi dengan meninggikan suaranya.
"Kamu salah paham sama dia!" Bela Reyhan. Karena apa yang dikatakan Novi semua tidak benar.
"Apanya yang salah paham Rey? Aku melihatnya sendiri." Kekeh Novi.
Reyhan memejamkan matanya sebentar. Kini kepalanya terasa nyut-nyutan. Reyhan memijat pelipisnya. Menghela napasnya dengan kasar.
"Arini, kamu keluar dulu ya. Biar saya saja yang menangani masalah ini. Maaf!" Ucap Reyhan sambil menatap Arini. Arini mengangguk dan melangkah keluar ruangan.
"Apa sih Rey, kamu jadi bela dia segala." Ucap Novi dengan kesal.
Reyhan menghela napasnya dan menarik tangan Novi agar duduk disebelahnya. Reyhan menjelaskan perkara kejadiannya kepada Novi. Sebenarnya Reyhan tidak ingin ada masalah saja, bukan karena takut apa-apa. Novi merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Reyhan.