
Keesokan harinya..
Pagi-pagi sekali Reyhan sudah rapi. Memakai setelan jas yang selalu menambah kesan maskulin pada dirinya. Dengan langkah terburu-buru, Reyhan menuruni tangga dan berjalan menuju garasi.
Hari ini adalah hari pertama dirinya menjemput Arini. Kalau biasanya ia hanya mengantar Arini setelah ia pulang kerja, sekarang ia akan mengantar sekaligus menjemputnya.
"Mau ke mana Rey, pagi-pagi kok sudah rapi?" Tanya Kusuma saat sedang bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi dan ditemani koran yang menjadi favoritnya.
"Reyhan ada urusan sebentar pa. Reyhan harus menjemput Arini." Ucapnya sambil tergesa-gesa menuju mobil yang sudah disiapkan oleh sopir.
"Tumben itu anak mau menjemput Arini. Biasanya selalu uring-uringan. Ada apa ini?" Gumam Kusuma terkekeh. Sepertinya telah terjadi sesuatu diantara mereka.
Reyhan melajukan mobilnya agak cepat. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Arini. Beberapa menit kemudian ia sudah sampai dan kebetulan Arini baru tiba juga di sana.
"Ayo, masuklah." Ucap Reyhan dan kini bukan dengan nada dingin tetapi lembut. Ada perubahan yang begitu besar pada diri Reyhan.
Arini tersenyum dan segera menghampiri Reyhan. Reyhan membukakan pintunya agar Arini segera masuk ke dalam. Mendapat perlakuan yang begitu istimewa membuat Arini salah tingkah.
Namun sebelum Arini masuk ke dalam, Reyhan mencuri ciuman dikening Arini dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka dan mengambil beberapa foto mesra mereka.
***
Di rumah, bi Inah menyiapkan sarapan dibantu dengan Indi. Semenjak ada Arini, Indi tidak terlalu sibuk mengurusi Zian. Zian juga tidak mau mandi kalau bukan Arini yang memandikan. Terlalu manja bukan, hehehe. Tapi itulah nyatanya.
"Zian mandi sama bi Inah atau sama nenek?" Tanya Indi saat menggendong Zian yang baru keluar kamar.
Mereka sudah berkumpul di meja makan. Saat semua sudah siap untuk sarapan, Reyhan Arini masuk ke dalam bersamaan.
"Tante Arini." Teriak Zian dengan antusias.
"Pagi semua." Sapa Reyhan dan menampilkan senyumnya. Semua orang yang menyaksikannya merasa terkejut. Terlebih Vian, ia justru fokus dengan tangan mereka yang saling bertautan. Vian mengepalkan tangannya.
"Loh, ada apa ini? Sepertinya mama melewatkan sesuatu." Ujar Indi senang.
Arini mengambil alih Zian. Reyhan duduk disamping Reyhan.
"Kami... Kami akan menikah ma sebentar lagi." Ujar Reyhan tanpa persetujuan Arini terlebih dahulu. Semua yang ada di sana saling bertukar pandang.
"Iyakan sayang." Ucap Reyhan lagi dan melirik Arini. Arini diam, bukankah ia sudah bilang kepada Reyhan kalau ingin saling mengenal terlebih dahulu. Kenapa tiba-tiba membicarakan pernikahan.
"Mama sangat bahagia sayang jika kalian menikah. Mama merestui hubungan kalian." Ungkap Indi dengan senang dan mengusap tangan Arini.
"Kak, kalian bercanda ya?" Tanya Vian tidak percaya.
"Menurutmu?" Balas Reyhan santai dan menyeringai ke arah Vian.
Vian menggebrak meja. Membuat semua orang yang ada di ruang makan terkejut.
"Aku nggak setuju. Aku yakin, kak Rey melakukan ini karena ingin membuatku kesal kan? Kak, bukankah kak Rey pernah bilang kalau kakak tidak pernah mencintai Arini? Kenapa sekarang justru ingin menikah dengan dia." Ungkap Vian dengan kesal. Vian meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.