
Arini merasa bersalah. Sebenarnya ia juga merasa tidak enak hati dengan Vian. Apalagi Vian sudah baik kepadanya dari awal bertemu. Namun siapa yang bisa memaksa hati. Memangnya bisa merencanakan akan jatuh cinta kepada siapa.
Reyhan berdiri dan berniat untuk menghampiri Vian. Namun tangannya dicekal oleh Arini. Arini menggeleng pelan menandakan agar Reyhan tidak menemuinya dulu. Reyhan menghela napasnya sejenak kemudian kembali duduk.
"Biar saya saja yang menemuinya." Ujar Arini.
"Tapi sayang.."
"Tidak apa-apa. Zian, kamu tunggu di sini dulu sama daddy ya." Ujar Arini kepada Zian. Ia memberikan Zian kepada Reyhan.
"Oke tante." Balas Zian dan kembali fokus dengan makanannya.
Arini melangkah meninggalkan meja makan. Itu semua tak lepas dari pandangan Reyhan. Reyhan ingin menyusul Arini, tetapi ia menghargai keputusan Arini yang mencoba menenangkan Vian. Setelah Arini menghilang dari pandangannya, Reyhan kembali meneruskan sarapannya.
Tok tok tok
Arini berada tepat di depan pintu kamar Vian. Ia sedikit gugup. Kehawatiran tergurat jelas diwajahnya.
"Aku ingin sendiri bi. Jangan ganggu." Ujar Vian dari dalam kamar. Vian mengira bahwa itu adalah bi Inah.
Tok tok tok
Arini kembali mengetuk pintunya.
"Bukankah sudah aku bilang, aku tidak ingin diganggu!" Kini suara Vian agak meninggi. Menandakan bahwa ia memang tidak ingin diganggu sama sekali.
"Vian, ini aku. Maaf kalau aku ganggu kamu." Ucap Arini dan kini ia beranjak dari sana.
Mendengar suara itu, Vian langsung bergegas keluar kamar.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Arini hati-hati. Vian mengangguk dan segera menarik Arini masuk ke dalam kamarnya.
Awalnya Arini menolak untuk berbicara berdua dengan Vian di kamarnya. Tetapi tidak ada tempat yang lebih privasi untuk membicarakan hal yang serius.
Vian menatap Arini yang saat ini ia sedang duduk di depan Arini. Mereka duduk ditepi ranjang. Vian senyum-senyum sendiri sambil matanya mengarah menatap Arini dengan lekat.
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Vian dengan lembut.
"Apa kamu marah jika aku punya hubungan dengan pak Reyhan?" Tanya Arini ingin mengetahui kebenarannya.
Tatapan Vian seketika berubah menjadi sendu. Tatapan penuh kebahagiaan tadi seolah sirna.
"Aku sama sekali tidak keberatan jika kamu memilih orang lain untuk menjadi pendampingmu selagi itu bukan kak Reyhan. Aku akan selalu mendukung dan menghormati keputusanmu Arini. Tapi kenapa harus kak Reyhan?" Ujar Vian dan kini tiba-tiba merasa kesal namun ia tahan.
"Aku juga tidak tahu, tapi itulah kenyataannya." Ungkap Arini dan menatap Vian dengan sedih . Arini benar-benar merasa bersalah.
"Aku tulus mencintaimu Arini. Tapi bagaimana aku bisa mengubur cintaku dalam-dalam jika setiap hari aku selalu melihatmu di rumah ini. Apa kamu pernah memikirkan bagaimana berada diposisiku? Aku berebut cinta dengan kakakku sendiri, konyol bukan." Ujar Vian dan tersenyum masam.
Vian sebenarnya tidak marah kepada Reyhan maupun Arini. Hanya saja, ia belum bisa menerima kenyataan ini. Tapi bagaimana dengan perasaannya sendiri? Vian cukup sadar, ia bukan orang yang ada dalam hati Arini. Dan selamanya tidak akan pernah bisa membuat Arini jatuh cinta kepadanya. Meskipun berbagai cara telah ia lakukan.
Vian sangat iri kepada Reyhan yang mampu meluluhkan hati Arini tanpa melakukan apapun. Sedangkan dirinya? Tak ada satupun usahanya yang berhasil.
Vian tidak ingin egois dan merusak kebahagiaan kakaknya dengan orang yang dicintainya. Vian tidak ingin jadi orang yang jahat, yang tega memisahkan mereka demi perasaannya sendiri.
Arini menyentuh pelan tangan Vian dan membuat Vian tersadar dari lamunannya. Arini tersenyum tipis.
"Aku hanya perlu waktu sedikit saja. Aku janji akan mengubur cintaku dalam-dalam. Tapi itu semua butuh waktu. Ungkap Vian lagi.