
"Maksud saya kenapa tidak ketok pintu dulu. Bikin saya kaget saja pak." Balas Arini dan ia menghela napasnya.
"Siapa suruh dari tadi melamun." Ujar Reyhan lirih. Namun sempat terdengar oleh Arini.
"Maaf pak." Ucap Arini sedikit takut.
"Ehm.. Kamu itu lagi ada hubungan sama Vian? Kenapa semakin hari semakin dekat sekali. Kamu suka sama adik saya?" Tanya Reyhan tanpa basa-basi.
"Mana berani saya suka dengan Vian pak. Saya hanya menganggapnya teman." Balas Arini dan kini ia menunduk meremas jemarinya.
"Bagus! Kalau sama saya?" Tanya Reyhan dan kini menatap Arini.
Glek
Arini menelan salivanya dengan susah. Pertanyaan itu membuatnya semakin gugup.
"Maksud pak Reyhan apa?" Tanya Arini memastikan.
"Bagaimana perasaanmu terhadap saya?" Sekarang Reyhan membalikkan tubuh Arini agar menghadap ke arahnya.
Arini semakin gemetar. Ia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Reyhan. Kalau ia jujur bahwa ia menyimpan perasaan terhadap Reyhan, pasti ia akan diusir dari sini. Tetapi jika ia berbohong, ia semakin terbebani.
Arini memilih untuk diam. Reyhan terus menatap Arini dengan lekat. Arini beberapa kali menelan salivanya dengan susah.
"Arini?" Seru Reyhan menanti jawaban dari Arini.
"Sa-saya tidak tahu pak." Ujar Arini dan ia langsung berdiri melangkah menuju pintu.
Namun sebelum Arini berhasil membuka pintunya, Reyhan sudah berada dibelakang Arini dengan posisi memeluk Arini. Membuat Arini membeku.
"Kenapa pergi? Aku ingin tahu jawabanmu sekarang." Ucap Reyhan dengan lembut dan masih membenamkan wajahnya dibahu Arini. Mengecup sekilas bahu Arini.
Arini semakin gugup menahan sensasi kecupan yang diberikan oleh Reyhan. Meremas gagang pintu.
Reyhan mendongak dan perlahan membalikkan tubuh Arini. Reyhan mendorong pelan Arini ke arah pintu dan mengurungnya.
Deg deg deg
Antara Reyhan maupun Arini, mereka sama-sama merasakan debaran yang sangat hebat. Reyhan perlahan memajukan wajahnya mengarah ke Arini. Semakin menepis jarak antara keduanya.
Tok tok tok
Mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar. Arini panik dan mendorong Reyhan agar menjauh dari dirinya. Namun Reyhan justru menarik Arini dalam dekapannya dan membungkan mulut Arini dengan tangannya. Masih dalam posisi yang sama seperti tadi.
"Siapa?" Tanya Reyhan dengan tenang.
"Kak? Kenapa kalian lama sekali berada di dalam? Apa yang kalian lakukan?" Itu suara Vian. Membuat Arini semakin panik dan tanpa sadar mengeratkan pelukannya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengobrol dengan Arini saja. Sebentar lagi kami akan keluar." Jawab Reyhan dengan asal namun tetap tenang.
"Baiklah." Ucap Vian dan ia pergi meninggalkan kamar Zian. Sebenarnya sedari tadi ia mengamati kamar tersebut. Karena sangat lama mereka tidak kunjung keluar, akhirnya Vian mengetuk pintunya.
Setelah mendengar langkah kaki semakin menjauh dari sana, Reyhan maupun Arini sama-sama bernapas dengan lega.
Tatapan mereka saling beradu. Reyhan melepas tangannya yang sedari tadi membungkam mulut Arini. Reyhan mendorong Arini hingga tubuhnya menempel pada pintu. Dengan cepat Reyhan mencium bibir Arini. Arini tidak sempat mengelak. Tangannya dikunci oleh Reyhan.
Reyhan menghisap, menggigit dengan gemas bibir Arini. Perlahan ciuman itu semakin menuntut. Membuat Arini kehabisan napas. Setelah cukup puas, Reyhan melepas ciuman itu dan menempelkan keningnya ke kening Arini. Napas mereka sama-sama tersengal.
"I love you, Arini. I love you." Bisik Reyhan dan ia menatap Arini dengan lekat.
- - - - - -
Maaf kalau kurang seru😂