Amour

Amour
Eight



Gea berendam dalam bathub. Pipinya memerah. Gio benar-benar menyebalkan. Pria itu sengaja membuatnya merona ribuan kali hanya dalam sehari.




Mengingat kejadian beberapa menit lalu, membuat Gea malu. Pasalnya, Gio bertanya tentang hal yang sensitif di telinganya dan Gea tidak menyadari bahwa pria itu sedang menggodanya.





Hanya tentang pakaian dalam.




Gea hampir membunuh Gio detik itu juga.





Seharusnya Gea tahu jika Mamanya mengerti kalau seharian ini dia bersama Gio, pasti wanita itu sudah mempersiapkan sesuatu dengan baik.




Pakaian dalam contohnya.




Oh, tidak adakah sebutan lain yang lebih enak didengar daripada pakaian dalam?





Gio dan Mama nya pasti bersengkongkol dan merencanakan semuanya dengan matang. Jika tidak, bagaimana mungkin Mama nya membawakan baju ganti dan baju dalam nya. Lalu piyama itu? Pasti cuma akal-akalan Gio saja jika piyama yang diberikan pada Gea, awalnya adalah hadiah untuk Chesi.




Mata Gea melirik pakaian dalam yang digantungnya di kamar mandi. Demi Tuhan, seumur hidup Gea, tidak pernah dirinya memiliki pakaian dalam yang sexy seperti itu.





Berenda dan berwarna hitam.




Apa yang ada di bayangan Mama nya sebenarnya? Apa Mama nya sudah gila?






"Oh begitu, baiklah saya mengerti. Tidak, dia baik-baik saja kok disini. Iya, selamat malam Mam." Gio buru-buru menutup telepon mendengar pintu kamar mandi terbuka.




"Sudah selesai?" Gio bertanya dan segera dijawab judes oleh Gea. "Menurutmu?" Matanya menatap sengit.




Pria tinggi itu terkekeh sesaat. "Apa kamu masih marah denganku?"




Gea menggosokkan handuk pada rambutnya. Gadis itu enggan menatap Gio lebih lama. "Berhentilah bicara, dan mandi sana!" alihnya.




Gio hanya mengangguk dan segera mengambil handuk yang ia siapkan diatas kasur. "Baiklah."




Pria itu tak ambil pusing dan segera memasuki kamar mandi meninggalkan Gea yang mengutuknya dalam hati.






✒️✒️✒️






Gea menghidupkan ponsel, notif pesan banyak yang masuk dan salah satunya berasal dari Bian.




'Kamu dimana?'



'Aku dengar, kamu bersama dengan Pak Gio?'



'Apa ada masalah?'




Pesan tersebut sudah terkirim sejak pukul 12.15 siang dimana kelas sudah berakhir. Itu berarti, Bian mengiriminya pesan sejak pulang sekolah dan parahnya Gea baru membuka pesannya 6 jam setelahnya.




'Aku baik-baik saja. Bukan masalah penting," tulis Gea dan mengirimnya pada Bian.




Baru beberapa detik pesannya terkirim, Bian menelponnya.





"Kamu dimana?" kata Bian begitu Gea mengangkat telepon.




"Eum, aku.." Gea menggigit bibir. Tidak mungkin ia mengatakan pada Bian yang sebenarnya. Matanya mulai melirik kesana kemari hanya untuk mencari jawaban yang tepat.




"Di rumah, haha. Kamu bertanya aneh sekali. Tentu aku sedang di rumah sekarang," balas Gea kaku sambil tertawa garing.




"Apa Pak Gio berkata sesuatu padamu?" tanya Bian. Kali ini nadanya berubah sedikit lembut.




"Tidak. Aku hanya memiliki hal yang perlu diurus dengannya. Bukan apa-apa."




Kemudian Gea bisa mendengar Bian berucap lega. "Oh, ya. Besok kita kan mulai libur. Mau jalan-jalan?"






"Jalan-jalan." Bian mengulang perkataannya sekali lagi. "Ku jemput di rumahmu besok sore."




"Tapi Bian, tunggu-"




"Aku tidak terima penolakan. Daahh.."





Bian menutup panggilan. Gea terbengong. Ini tidak biasanya Bian mengajaknya tiba-tiba dan terkesan seolah memaksa.




Suara pintu kamar mandi terbuka. Gio dengan pakaian piyama berwarna biru gelap yang sedikit tidak terkancing di bagian dada terlihat begitu mempesona. Rambut basah, hidung mancung, alis tebal, mata tajam, dan bibir merah itu sungguh membuat Gea sulit berpaling.




'Sadarlah Gea! Kamu membencinya, ingat!'





Gea memalingkan wajah. Sementara Gio tersenyum padanya. Pria itu mendekat, menarik handuk yang Gea taruh di leher lalu mengangkatnya ke rambut Gea dan mengusapnya lembut.




"Kamu tidak mengeringkannya dengan benar."




Perlakuan Gio mungkin hanya sepele. Tapi Gea tidak bisa menyembunyikan debaran kuat pada jantungnya. Wajah Gio terlalu dekat. Dan Gea tidak bisa berhenti menatapnya.




Denting bel di pintu adalah hal yang memutus kontak mata mereka. "Ah, pesanannya sudah datang."




Gio pergi untuk membuka pintu dan mengambil makanan yang ia pesan. Pria itu melebarkan senyum lalu menunjukkan sekotak pizza, ayam, burger dan starbucks.




"Kita makan malam dulu."




Gio menata semuanya diatas karpet. Gea langsung duduk dengan girang. Soal makanan, dia memang tidak bisa menolak. Belum sempat Gea membuka kotak pizza, Gio memukul tangannya lalu menariknya untuk ke wastafel dapur. "Cuci tangan dulu," katanya.




Gea memanyunkan bibir, sementara Gio membantu mencuci tangannya. Tubuhnya yang tinggi berada di belakang Gea dan tangannya yang panjang membasuh tangan Gea dengan sabun. "A-Aku bisa melakukannya sendiri," kata Gea sedikit gugup.




Gio tidak mendengarkan, pria itu masih enggan berpindah. "Tanganmu mungil sekali ya."




Gea merasakan dagu Gio menempel di bahunya. Gadis itu semakin berdebar, dan ketika selesai, barulah Gio memisah jarak diantara mereka.




"Sekarang aku boleh makan?" Gea bertanya. Gio hampir meledakkan tawa. "Tentu saja," balasnya.




Gea pun merekahkan senyum lalu buru-buru menghampiri kotak pizza yang tadi ia hendak buka dan melahap sepotong dengan cepat.




Gio memerhatikannya lalu mengukir simpul tipis di bibirnya. Gea begitu menggemaskan. Pria itu mengambil tisu dan mendekati Gea. "Pelan-pelan," nasehatnya seraya mengusap belepotan di bibir Gea.




Mata mereka saling beradu. Gio menelan ludah, ia memutusnya segera. Pria itu hanya tidak ingin terbawa suasana. Dan bertatapan dengan Gea sedekat itu bisa menggoyahkan imannya.





"Bagaimana? Enak?"




Gea menganggukkan kepala. Gadis itu meraih starbucks dan meminumnya beberapa tegukan. "Kamu tidak makan?" tanya Gea.




"Melihatmu makan sudah membuatku kenyang."




"Hei!"




"Iya, aku makan."




Gea pun tertawa. Gio ikut bahagia memandangnya. Mungkin gadis itu tidak sadar perlakuannya mulai berbeda. Gea itu tidak bicara formal lagi padanya dan Gio menyukainya.




Karena dengan begitu Gio mudah untuk mendapatkan hatinya.





Ya, Gio menyukainya. Ah, tidak. Lebih tepatnya, dia mencintainya.




Bahkan sejak dia belum dijodohkan olehnya.




Dan Gea tidak mengetahuinya.




Karena itu adalah rahasia.




Dari seorang Gio Ferraldo untuk Gea Emeralda.