Amour

Amour
Fourty Five



Di sore hari, Bian menuruni anak tangga dengan tergesa - gesa. Grace tersenyum padanya. "Mama tidak kerja?" tanya Bian.


"Tidak, hari ini Mama hanya membereskan barang-barang sebelum pindah ke Jerman," jawabnya. "Oh, iya." Bian tertawa.


"Bagaimana denganmu? Kamu tidak lupa kalau kita berangkat besok bukan?"


"Tentu tidak. Aku sudah menyiapkan koperku. Emm.. Hari ini aku mau pergi ke rumah Gea dulu, aku mau pamit padanya."


Grace mengangguk. "Pergilah. Manfaatkan waktu sebelum kita benar-benar pindah nanti," sahutnya diselingi tawa ringan.


Bian menggaruk kepalanya malu. Pipinya memerah. "Menurut Mama, Gea itu gimana?"


Pertanyaan Bian sontak ditatap bingung oleh Grace. Belum sempat wanita tersebut merespon, Bian sudah buru-buru pergi meninggalkan Grace.


"Aku pergi dulu Ma!" serunya meraih motor di halaman.


Grace terdiam. Menyorot sedih kepergian Bian.


"Apa Bian belum tau tentang hal itu?" gumamnya.


✒️✒️✒️


Bian menghentikan motornya begitu melihat Gea menunggunya di bussway. "Lama amat sih!" gerutunya.


"Maaf maaf.." Bian melebarkan senyuman seolah sengaja melakukannya. "Kita harus berangkat sore, biar gak kehabisan stok jajan nanti," gadis itu masih mengomel kesal.


"Iya iya tuan putri, sekarang cepat naik ke motor sebelum semua toko tutup."


Dengan wajah cemberut, Gea naik ke atas motor Bian. Mereka berangkat menuju festival makanan yang diadakan satu tahun sekali. Disana para pedagang berkumpul untuk ikut serta. Gea sudah menunggu kesempatan ini dan beruntung Bian ada waktu jadi mereka pergi berdua. Inginnya Gea pergi bersama Gio maupun Chesi, tapi mereka berdua ada urusan mendadak. Chesi bisa saja, namun gadis itu tiba-tiba mengurungkan niat saat Mommynya mengajak dirinya entah kemana. Alhasil Gea pergi bersama Bian Michaelis.


Mereka sampai di tujuan tepat Matahari hampir tenggelam. Sudah banyak orang yang memenuhi festival. Gea melebarkan senyuman menatap pemandangan makanan di setiap sudut yang tersedia.


"Bian aku mau itu!"


Dan sudah Bian duga, baru sampai saja Gea senangnya gak karuan. Gadis itu mulai memesan banyak makanan yang membuat Bian hampir kewalahan.


Selain menjelajah makanan, ada spot fotografi dan arena bermain. Mereka menunggu waktu hingga pesta kembang api yaitu tepat jam 8 malam.


"Bian! Kembang apinya sudah mau mulai!" Gea berteriak mengagetkan Bian yang saat itu sedang makan bubur kacang hijau. "I-iya bentar," sahut Bian tersedak.


"Ayo cepet!" Gea menarik lengan Bian mengakibatkan puda tersebut tergopoh - gopoh.


Letusan kembang api terdengar. Langit yang gelap kini dihiasi oleh berbagai macam warna dari kembang api.


Gea mengambil ponsel dalam saku dan memotret momen tersebut. "Bian ayo foto!"


"Engga ah!" Bian mencoba menolak, tapi Gea tidak memedulikan. Gadis itu merangkul leher Bian dan mengajaknya berfoto.


Gea begitu bahagia, sayangnya Bian terpikir akan sesuatu. 'Sekaranglah saat yang tepat bagiku mengatakannya,' batin Bian.


"Gea aku-"


"Aku akan menikah, Bian"


Deg!


Bian mematung. Suara keras dari kembang api seolah hanya terdengar di telinganya. Mendadak lidahnya kelu dan gemetar tanpa alasan yang jelas.


"A-Apa?" sekuat tenaga, Bian mengeluarkan suara. Dengan lengkungan tipis, Gea menoleh padanya. "Mantan guru biologi kita, Pak Gio, aku akan menikah dengannya."


Bian seperti mati rasa.pesta kembang api telah berakhir. "Maaf, aku baru mengatakannya padamu sekarang," lanjut Gea lirih.


Bian tidak tahu harus merespon bagaimana. Ia pikir dia salah namun ternyata tidak.


'Menikah..'


'Mantan guru biologi?..'


'Pak Gio?..'


Jadi selama ini firasatnya benar bahwa Gea memiliki suatu hubungan spesial dengan mantan guru mereka.


"Bian.." Gea menarik pelan kain kemeja Bian agar tatapan mereka beradu. "Aku harap kamu tidak marah padaku," tambahnya.


Bian tersenyum tipis. "Untuk apa aku merasa marah. Aku ikut senang dengan pernikahanmu. Sejujurnya aku sedikit kecewa kamu baru mengatakannya, tapi tak apa." Bian memeluk Gea tanpa sadar. "Selamat ya.." gumamnya. "Aku ikut senang.."


Gea yang mengetahui respon Bian padanya membalas pelukan tersebut."Terima kasih, Bian."


Mata Bian mulai terasa panas, tapi ia harus menahannya karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan Gea. Gadis yang amat dicintainya.


"Bisakah aku memelukmu seperti ini sedikit lebih lama lagi?"


"Tentu."


✒️✒️✒️


"Mengapa kamu tidak ikut dengan Gea tadi?" Gio bertanya sembari mengendarai mobil. Chesi tidak menoleh padanya. arah matanya fokus ke depan.


"Ada urusan sebentar, lagipula Gea sudah ada teman yang menemaninya," jawab Chesi seadanya. Berusaha melengkungkan bibir, "Kakak sendiri bagaimana? Masa calon istrinya dibiarin sendirian di tempat ramai begitu?"


"Aku rapat terlebih dulu, dan sama seperti yang kamu bilang. Gea sudah ada teman yang menemaninya. Bian.."


Chesi mengatupkan bibir, hatinya mendadak gelisah. 'Bagaimana jika Bian tahu tentang hubungan Kak Gio dan Gea?' pikirnya.


Keduanya telah sampai di lokasi. Situasi cukup ramai karena ada pertunjukan musik disana. "Mana Gea?" Gio dan Chesi berjalan ke arah kerumunan. Mencari keberadaan Gea dan Bian yang masih ada disana.


"Gea, kamu ada dimana?" tanya Gio saat menghubungi nomor Gea.


Beberapa saat, panggilan pun berakhir. Gio menggandeng Chesi untuk ikut dengannya dan benar saja, mereka berdua menemukan Bian dan Gea yang sedang berduaan di tempat agak jauh dari keramaian.


"Kalian kesini?" Gea langsung melebarkan senyuman.


"Kamu dicariin ibu, kita harus mempersiapkan sesuatu sebelum pernikahan kita," kata Gio, mengabaikan seseorang yang juga ikut mendengar pembicaraan mereka.


"Oh, ya.. pasti tentang dekorasi. Baiklah ayo kita pergi!" Gea terdiam. Dia kenoleh ke arah Bian yang memalingkan wajah darinya.


"Pergilah, aku masih mau disini," ucapnya seolah bisa membaca pikiran Gea.


"Bian-"


"Aku yang akan menemani Bian." Chesi tiba-tiba menyela. "Kalian berdua pergi duluan saja. Toh, aku baru saja tiba disini jadi aku ingin menikmati festival sebelum benar-benar berakhir," sambungnya.


Gea memandang sendu. Genggaman pada tangannya mengerat. "Kita pergi, Gea," ajak Gio.


"Tapi Chesi, bagaimana kamu pulang nanti?" Gea masih enggan.


"Kan ada taksi," jawab Chesi enteng. "Sudah jangan khawatir."


Gio dan Gea pun akhirnya pergi lebih dulu dan berpamitan kepada mereka. Namun yang dirisaukan oleh Gea adalah sikap Bian yang mendiami dirinya. Sejak gadis itu mengungkap bahwa dia akan menikah,Bian tidak banyak merespon atau mengobrol kepadanya. Bahkan sampai pesta kembang api berakhir dan digantikan dengan pesta musik sebagai penutup, temannya itu tetap tidak banyak berkata.


"Aku tau kamu khawatir," tebak Gio saat mereka sedang dalam mobil. "Tapi bagaimanapun dia harus tau tentang hal ini," lanjutnya.


Gea menoleh ke arah jalanan. Berpikir akan perasaan Bian saat ini. Hatinya ikut sakit karena merasa telah melukai perasaan Bian.


Sejumlah ingatan berputar dalam kepalanya. Sejujurnya Gea sudah cemas karena Bian menaruh perasaan padanya. Mereka sudah bersama sejak kecil. Setiap ada Gea, disitulah ada Bian. Pemuda tersebut selalu siap melindunginya kapanpun dan dimanapun. Pemuda itu juga yang sering meluangkan waktu hanya untuk menuruti kemauan Gea.


Dilihat dari manapun, Gea merasa jahat. Harusnya dia sudah mengetahui bahwa Bian jatuh cinta padanya.


Tidak ada yang namanya sahabat antara laki-laki dan perempuan.


salah satu diantara mereka pasti memendam rasa.


Gio menyentuh pergelangan Gea. gadis itu menoleh. "Chesi menyukai Bian, aku yakin dia bisa menenangkannya."


Sontak ungkapan Gio mengagetkan Gea. Dia sendiri tidak tahu jika Chesi menyukai Bian selama ini. Pantas saja sikap mereka berdua aneh. Gea berpikir bahwa keduanya bertengkar tapi ternyata tidak. Alasan perasaan lah yang menjauhkan mereka.


"Bodohnya aku.." Gea merasakan sesuatu mengalir dari kedua matanya.


"Selama ini aku tidak tau perasaan sahabatku sendiri," lanjutnya sedih.


Gio menghentikan laju mobilnya. Beralih memeluk Gea erat. mengusap punggunya lembut dan mendekapnya hangat.


"Bukan salahmu, Gea.."


✒️✒️✒️


"Sampai kapan kaku mau mengikutiku?" Bian menatap tajam Chesi di belakangnya. Festival sudah berakhir, tapi gadis itu masih saja tidak mau pergi.


"Aku harus memastikan kamu pulang sampai rumah," kata Chesi tegas.


Bian tertawa remeh. "Kamu pikir aku anak kecil?"


Bian melangkahkan kakinya lagi, tapi perkataan Chesi berikutnya, menusuk jantung Bian yang terdalam.


"Berhentilah sok kuat, Bian!"


Bian terdiam. Kerumunan orang sudah menghilang dan tinggal mereka berdua. "Bagaimana denganmu?" Bian merespon dengan suara rendah.


"Aku juga bukanlah orang yang kuat. Aku hampir gila karena kamu tidak membalas perasaanku, tapi itu masih lebih baik.." Chesi menjeda kalimatnya.


"Lebih baik kamu menyakitiku daripada aku harus melihatku tersakiti, Bian."


Bian mengalihkan atensi. matanya memanas melihat Chesi yang sangat tulus terhadapnya.


"Aku mencintaimu.. dan selamanya akan tetap seperti itu.." lanjut Chesi mengulas senyum tipis.


Bian tidak berkata apapun. Pemuda itu berdiam diri di tempat. Membiarkan Chesi mendekat ke arah dirinya.


"Aku akan pergi ke Jerman," ungkap Bian.


"Gea tidak mengetahui hal ini dan aku harap kamu tidak memberitahunya."


"Tidak akan."


"Pulanglah, ini sudah larut malam" Bian melanjutkan langkahnya kembali.


Chesi menundukkan kepala. Sepasang kaki tampak di depan matanya. Gadis itu mendongak menatap Bian yang berdiri dihadapannya.


"Bian.. aku pikir kamu-"


"Mau pulang bersamaku?"


Chesi terkejut mendengar Bian menawarinya tumpangan. Gadis itu tersenyum lebar terharu. "Ya. Aku mau," katanya mengangguk senang.


Gea Emeralda




Gio Ferraldo




Bian Michaelis




Chesi Indriana



Mia



Alvan



Lisa (Mama Gea dan Mia)



Bobby (Papa Gea dan Mia)



Mary (Ibunda Gio)



Hendry (Ayahanda Gio)



Hannah (Mommy nya Chesi)



Kevin (Daddy nya Chesi)



Grace (Mamanya Bian)



Jefri



Yuna



Samuel