Amour

Amour
Fourty Eight



"Dokter Gio, bolehkah kami minta foto bersama?"


"Tentu."


Segerombol mahasiswa mengerubungi Gio Ferraldo. Para dosen perempuan juga ikut kengambil gambar. Berdesakan hanya agar bisa dekat dengan pria tampan tersebut.


Seminar sudah selesai beberapa menit lalu dan Gio harus kembali ke kota nya sebelum Gea marah. Jika bukan karena profesor Herlino, Gio tidak akan mau datang untuk mengisi acara seminar.


"Maaf, jika sudah mengganggu kesibukanmu. Aku melakukan ini karena tidak punya pilihan lain. Beruntung kamu sarjana kedokteran yang berhasil menempuh pendidikan hanya dalam waktu empat tahun. Tapi sayang, saat ini pekerjaan anda tidak berhubungan dengan study yang anda ambil," kata Herlino.


"Tidak masalah Prof, saya tidak terlalu sibuk seperti hari biasanya," jawab Gio singkat tabpa membahas tentang study kedokterannya.


"Bagaimana kabar ayahmu? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."


"Beliau baik, bahkan saat tau kalau saya sedang bersama dengan anda, ayah bilang kalau ada waktu luang Profesor bisa mampir ke rumah."


"Ayahmu pasti super sibuk."


Gio hanya merespon dengan tawa ringan.


Sementara itu di UI,


Seorang dosen sedang menjelaskan tentang hubungan struktur kimia. Daripada fokus dengan penjelasan, Gea malah sibuk melihat twaiter. Matanya membulat mengetahui tren tagar twaiter di urutan pertama yaitu mengenai suaminya.


#DokterFerraldo


35,1rb Tweet


Dan benar saja, isinya adalah tentang Gio dimana dia sedang diundang sebagai tamu di acara seminar. Dan yang membuat Gea sebal adalah foto Gio bersama gerumbulan mahasiswi serta komentar mereka yang semakin menaikkan amarah Gea.


'Aku tidak pernah melihat dokter sepertinya, tapi dia begitu tampan.'


'Sepertinya dia masih lajang. Kelihatan dari wajahnya yang masih fresh dan muda wkwk..'


'Pengen ku gebet jadinyaa.'


'akun Twaiter? Ainstagram? Whutsapp? Aku butuh semua akun sosmednya pliss.'


'Iluvyudokter.'


'Kalau dokter nya kayak dia, aku ga mau sembuh. Biar dirawat terus sama diaaa.'


Gea meremat ponselnya. Berani-beraninya mereka sok tahu dengan kehidupan Gio. Hati Gea merasa panas dan ingin meluapkan amarah hanya karena komentar mereka.


"Gea Emeralda!"


Dosen kimia, bu Nesya menginterupsi nya. Mengalihkan perhatian Gea dari ponsel yang ditatap Nesya dengan bersendekap dada.


"Apakah kamu tau tentang struktur yang saya gambar di depan?" Tanya Nesya ketus.


Gea memerhatikan hati-hati.


"Itu...turunan dietilstilbestrol?" Gea agak ragu.


Nesya mengulas senyum. "Ya, benar. Bagaimana dengan hubungan struktur aktifitas nya?"


Gea mencoba mengingat. Semalam, Gio membantunya belajar tentang hubungan struktur aktifitas. Berjaga-jaga apabila ada sesi tanya jawab.


"Pertama, yang aktif sebagai estrogenik adalah bentuk isomer trans, sementara bentuk isomer cis aktifitasnya rendah. Kedua, gugus hidroksi fenol sangat penting untuk aktifitas estrogenik, penggantian dengan gugus lain akan menurunkan aktifitas secara drastis. Ketiga-"


"Cukup Gea," Nesya berdeham sembari membenarkan posisi kacamatanya. "Hubungan struktur aktifitas yang kamu jawab benar. Sekarang perhatikan ibu ketika sedang menjelaskan."


Gea pun mengumbar senyum lebar saat ia berhasil membuat dosennya tidak berkutik. Rupanya apa yang Gio ajarkan memang sangat berguna.


Tapi ada satu orang yang rupanya tidak senang. Veranda memerhatikan dengan dingin. Sungguh mengejutkan mereka sekelas. Meski begitu, Vera masih penasaran dengan sosok pria yang menjemput Gea ketika ospek. Bukankah pria itu sama dengan pria yang menjadi tren tagar twaiter saat ini.


Ferraldo.


Lebih tepatnya Gio Ferraldo.


"Kenapa sih harus Gea?"


✒️✒️✒️


Waktu makan siang, Vera tak henti-hentinya mendekati Gea yang saat itu tengah bersama Gwen, teman barunya.


"Boleh aku makan bareng kalian?" Vera bertanya.


Gwen menggeser tempat duduk. "Tentu," balasnya tanpa berat hati. Gea tidak memedulikan. Dia masih sibuk menatap chatting nya pada Gio yang tak kunjung terbalaskan.


"Gwen kudengar kamu lulusan dari SMA Scarlet ya?" Vera memulai pembicaraan. Gwen mengangguk dan direspon berlebihan oleh Vera. "Wahhh, itu kan sekolah elit. Biaya untuk masuk saja puluhan juta. Kamu pasti orang kaya."


Entah mengapa perkataan Vera membuat Gwen sedikit kurang nyaman. Pertanyaan yang dilontarkan cukup sensitif terlebih Gwen tidak ingin di cap sombong hanya karena dia lulusan sekolah ternama.


"Gwen, aku beli minum dulu ya," Gea memotong pembicaraan. Gadis itu berdiri dan segera berbalik namun karena tidak hati-hati dia tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa dua gelas lemon tea. Air lemon tea tersebut tumpah sedikit dan mengenai lengan serta kaos pemuda itu.


"Ah, maaf."


Pemuda berahang tegas dengan sorot tajam itu menatap kesal. "Mau cari ribut ya?" Kata sang pemuda menaikkan alis Gea.


"Apa? Aku kan tidak sengaja."


"Kamu menumpahkan hampir setengah gelas lemon tea milik orang lain yang sudah dengan susah payah aku bawa."


"Hei Ryo! Lama amat sih, cuman bawa lemon tea aja lelet," sekelompok pemuda lain mendekat.


"Apa ini? Kamu menumpahkan minumannya? Padahal sudah ku kasih kerjaan gampang malah gak becus." pemuda bertampang preman itu berdecak kesal.


Salah satu pemuda memandang Gea, "Siapa dia?"


Ryo menyembunyikan Gea di belakang punggungnya. "Bukan siapa-siapa. Dia juga tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini," ucap Ryo.


Pemuda itu melirik curiga. "Ku harap kamu jujur," katanya marangkul Ryo. "Setelah ini kita akan bermain-main, gimana?" Mereka membawa Ryo pergi menjauh. Meninggalkan Gea yang menatap heran.


'Padahal tadi dia sempat marah karena aku menyebabkan minumannyabtumpah. Tapi kenapa tadi dia melindungiku?'


"Sudah jangan dipikirkan," tiba-tiba Gwen bersuara. "Mereka hanya kumpulan anak nakal yang membuang waktunya dengan sia-sia disini. Lebih baik kita tidak berhubungan dengan mereka."


"Tapi yang namanya Ryo tadi, tampangnya lumayan juga," seperti biasa, Vera hanya melihat tampilannluarnya. Meski begitu, Gea masih kepikiran.


✒️✒️✒️


Gea dan Gwen saling melambaikan tangan ketika mereka sudah di jemput. Gea masuk ke dalam mobil, menyapa Jeffrey. "Gio masih sibuk ya?"


"Tuan sudah dalam perjalanan pulang, dan saya menerima kabar kalau dia akan mengobrol sejenak bersama profesor teman ayahnya."


"Tumben kamu tidak ikut Gio?"


"Kalau saya ikut, siapa yang akan menjaga anda," balas Jeffrey diiringi tawa ringan.


Gea mengehela nafas. Memandang layar ponselnya lesu. "Dia tidak kenjawab pesanku sama sekali."


Ketika Jeffrey mengemudikan mobil keluar dari universitas, mata Gea menangkap segerombolan pemuda. Gerombolan pemuda itu adalah gerombolan yang Gea temui di kantin tadi. Dan benar saja, sosok bernama Ryo juga disana. Entah mengapa kelihatannya mereka mengajak Ryo ke suatu tempat yang Gea tidak tahu dan tidak mau tahu.


"Bukan urusanku," gumam Gea mengalihkan perhatian.


✒️✒️✒️


Malam harinya,


Suara pintu terbuka. Gio masuk ke dalam apartemen dan disambut dingin oleh istrinya.


"Gea, kamu sudah makan malam?" Gio hertanya.


Gea yang bersendekap dada, menjawab ketus, "Menurutmu?"


"Pasti belum. Mau ku masakin sesuatu?" Gio menawarkan sambil melepas sepatu dan jas kerjanya.


"Apa kamu tau kalau kamu jadi tren tagar di twaiter hari ini?" tanya Gea mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak pegang ponsel sama sekali. Apakah itu benar?"


"Pantas pesanku tidak dibalas" gerutu Gea. "Benar, dan aku kurang nyaman ketika melihatnya."


"Mengapa?"


"Tentu saja karena kamu suamiku dan mereka dengan seenak jidat mengira kamu masih lajang. Aku tidak suka."


Gio mengulas senyum. Memeluk Gea erat. "Istriku sedang cemburu rupanya," ujarnya gemas.


"Lepasin Gio, kamu kan belum mandi ih, bau!"


"Katamu aku tidak pernah bau?"


"Memang tidak bau, tapi tetap saja kamu harus mandi."


"Baik ratuku." Gio mengangkat tubuh Gea ke atas dan menciumnya. Gea merangkul leher Gio, menikmati segala sentuhan yang pria itu berikan padanya.


"Aku mandi dulu," Gio menyudahi dan segera pergi ke kamar mandi sementara Gea sedang menyiapkan secangkir teh hangat.


Notifikasi muncul di ponsel Gea. Sebuah chatting dari grup kelas, memposting sebuah foto yang mengejutkan Gea.


'Gila, aku jadi takut dengan senior kita' tulis teman Gea yang memposting foto tersebut.


'Hei, bukankah itu Ryo? Satu aghkatan dengan kita? Astaga apa yang para senior lakukan padanya!'


Beragam balasan mulai bermunculan. Gea memandangi foto tersebut dengan teliti. Otaknya memutar kejadian dimana dia menyaksikan Ryo diseret oleh Senior dan dibawa pergi entah kemana.


Melihat apa yang terjadi pada Ryo membuat Gea menyesal. Tidak seharusnya di mengabaikan setelah tahu bahwa ada sesuatu diantara para senior preman itu dengan Ryo.


Gea tahu ini bukan urusannya tapi tetap saja dia tidak bisa membiarkan hal seperti ini akan terus berulang.


Gio keluar dari kamar mandi. Memandang Gea dengan senyuman.


"Gea, kamu tidak lupa untuk belajar bukan?" Tanyanya.


"Aku tidak lupa tapi kita makan dulu. Katanya mau masakin aku?" elak Gea beralasan.


"Baiklah, setelah makan malam nanti ku bantu untuk belajar."


Gea tertawa senang. Dia beruntung mempunyai suami seperti Gio yang serba bisa.


'Mungkin aku tidak perlu berurusan dengan hal semacam ini,' batin Gea ketika melihat chattingan grupnya lagi.