
"Gea, aku gay."
Pernyataan Samuel yang tiba-tiba, mengejutkan Gea. Pria itu tampak serius, sementara Gea kebingungan.
"Aku tidak akan goyah padamu, jadi jangan lakukan hal romantis padaku!" tambah Samuel tegas.
Gea tak memahami ucapannya, gadis itu tersenyum canggung. "Sam, kurasa kamu salah paham. Aku kan hanya membenarkan antingmu, bukan melakukan hal romantis padamu," kata Gea.
"Bagiku itu romantis." Samuel masih keras kepala. "Aku tidak mau jatuh cinta padamu, karena hanya Justin yang ada dihatiku," lanjut Samuel sambil menunjukkan cincin perak di lehernya.
Gea menelan ludah. Baru pertama kali dia mendengar ada seorang pria ganteng yang mengaku gay dihadapannya.
"Tapi kalau kamu memaksa, aku juga mau kok."
Gea melotot setelah Samuel berkata. "A-Apa maksudmu?"
"Berhubungan. Lagipula dengan Justin itu membosankan. Dan kamu jangan khawatir, aku masih virgin. Justin belum menyentuhku sama sekali."
Gea ingin mual rasanya. Samuel baru saja mengungkapkan bahwa ia pecinta sesama jenis dan sekarang dia malah ingin mengajak Gea berhubungan.
"Maaf, Samuel. Tapi kamu bilang, kamu gay. Dan kamu sudah memiliki Justin jadi aku-"
"Kamu takut sama Justin?"
Gea tak merespon. Dia kebingungan merangkai kata-kata sampai akhirnya Samuel berdecak.
"Justin itu lemah asal kamu tau. Badannya kecil sepertimu dan lebih pendek dariku. Bedanya, sifat dia lebih gentle dan maskulin. Tapi kalau PMS, dia bisa jadi kayak macan dan menakutkan. Ngeri!"
Gea terdiam. Mendengar penjelasan Samuel, semakin membuat otaknya dipenuhi pertanyaan.
"Justin itu... Cowok-?"
"Dia cewek."
Gea terperangah.
"Tapi setengah cowok."
Sekarang Gea bingung lagi.
"Maksud kamu apa? Jadi dia cowok atau cewek?" tanya Gea frustasi.
"Cewek lah. Kan sudah kubilang dia bisa PMS. Cuma sikapnya lebih ke cowok dan lebih gentle. Namanya Justina Althea. Melihatmu, mengingatkanku padanya."
"Lalu pernyataanmu yang gay itu?"
"Ya aku memang gay. Aku gay sama cewek setengah cowok kayak kalian."
Mendengarnya, Gea tertawa. Tak habis pikir dengan sifat Samuel yang aneh.
"Yasudah, kalau begitu aku ke Bian dulu. Kasian dia daritadi pasti nungguin aku"
Samuel menahan tangannya. Memandang tajam Gea yang melihatnya bingung. "Aku ikut denganmu."
✒️✒️✒️
Bian tak bisa menyembunyikan wajah kesalnya. Bukan tanpa alasan, tapi karena kehadiran Samuel yang berada disisi Gea.
"Mengapa dia bisa duduk disitu?"
Samuel yang merasa dirinya dibicarakan oleh Bian menoleh dan senyum. "Ah, kebetulan orang yang seharusnya duduk disini mau bertukar denganku. Lagipula aku juga ingin disamping Gea," jawab Samuel sambil menggelayut manja di lengan Gea.
"Hei, jaga batasanmu!" protes Bian tidak terima.
Semua orang memandang mereka seraya menempelkan jari telunjuk di bibir, mengode keras untuk diam.
Gea menghela nafas. Dia jadi tidak bisa menikmati adegan dengan tenang karena Bian serta Samuel disisinya.
✒️✒️✒️
Gio memandang layar ponselnya. Menunggu Samuel yang tak kunjung memberi jawaban. Pria itu menempelkan layar ponsel di telinga, menelpon Samuel hingga kemudian mobil miliknya terlihat di halaman.
Gio berlari menghampiri. Samuel keluar dan melepas kacamata hitamnya. "Kamu darimana saja?" tanyanya sedikit risau.
"Jalan-jalan sebentar, habisnya kamu lama amat," sahut Samuel cemberut.
Gio menarik senyum tipis. Dia mengacak rambut Samuel gemas. "Lain kali, beritahu aku dulu kalau mau pergi. Aku khawatir."
Samuel terdiam. Dalam satu hari ini dia dibuat terkesima hanya karena dia dicemaskan oleh orang lain. Gio dan juga Gea.
"Kita ke apartemenku dulu. Baru ke festival kamu mau kan?" tanya Gio.
Mereka berdua pun menuju apartemen milik Gio. Di perjalanan, Samuel bersenandung menunjukkan bahwa dia memang tak sabar melihat tempat tinggal sepupunya tersebut.
Sesampainya di apartemen, Gio membuka pintu dan Samuel langsung menyelonong masuk sambil berteriak kagum.
Ruangannya cukup besar dan luas serta tertata rapi dan yang membuat Samuel semakin betah adalah karena aroma khas ruangan milik Gio. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu terobsesi dengan hal-hal yang menyangkut Gio Ferraldo.
"Kupikir kamu suka dengan kemewahan, tapi ternyata tidak. Ruangan ini sebenarnya biasa saja tapi karena ini adalah tempat tinggalmu, jadi terlihat sangat luar biasa," komentar Samuel.
"Kamu mandilah lebih dulu, aku akan bersih-bersih sebentar."
"Kamu tidak ingin mandi bersama?"
"Jangan membuatku marah, sam!"
"Iya-iya, aku mandi."
Gio menyerahkan handuk dan pakaian miliknya yang diberikan pada Samuel. "Astaga, aroma khas Gio Ferraldo," kata Samuel sembari mencium bau pakaian dan handuk milik Gio.
"Sam, tidak bisakah kamu bergegas ke kamar mandi?" Gio bertanya dengan nada memerintah.
Samuel pun masuk ke dalam kamar mandi. Gio menepuk jidat melihat kelakuan Samuel yang semakin aneh.
✒️✒️✒️
"Bi, jangan bilang ke Mama ya, kalau aku bawa Gea kesini. Nanti Mama berpikir macam-macam," pesan Bian pada Bibi Sumi.
Bibi Sumi nyengir dan tertawa malu. "Alah nduk, masa bawa pacar ke rumah saja takut dimarahin nyonya," goda Bibi Sumi yang membuat Bian bersemburat malu.
"Bi, jangan keras-keras dong. Nanti Gea dengar gimana?"
"Tapi bibi benar bukan? Pacarnya Den Bian ayu tenan, Bibi sampai kaget soalnya Den Bian ndak pernah bawa pacar ke rumah."
"Ya, itu karena aku tidak punya pacar Bibi," jelas Bian dan Bibi Sumi tertawa.
Pintu kamar mandi terbuka, Gea memandang bingung Bian dan Bibi Sumi yang memelototinya.
"Bian, ada apa?" tanya Gea.
"Ah, bukan apa-apa," jawab Bian cepat dan mengode Bibi Sumi di sebelahnya agar tidak membongkar perbincangan mereka kepada Gea.
"Aku akan mandi sekarang." Bian buru-buru memasuki kamar mandi dan meninggalkan Gea bersama Bibi Sumi.
✒️✒️✒️
Festival berlangsung meriah. Banyak orang berjualan disepanjang jalan serta dilengkapi dengan pertunjukan yang menghibur.
Gea tidak bisa diam hanya dengan melihat makanan saja. Dia menyeret Bian untuk membeli jajanan khas sebelum memasuki wahana permainan.
Mereka berdua tampak menikmati festival yang diadakan. Sementara waktu terus berjalan hingga tak sadar sudah pukul 8 malam.
Bian mengajak Gea menaiki biang lala. Gadis itu membeo lantaran terpukau akan keindahan dari atas. Bian memandanginya dengan senyuman, menelan ludah mempersiapkan apa yang akan ia katakan.
"Aku akan pergi ke Jerman."
Gea menoleh. Bian tertunduk sedih dihadapannya. "Mama menginginkan aku kuliah hukum disana, bersamaan dengan beliau yang kebetulan juga akan diganti tugaskan ke Jerman. Dan aku akan berangkat minggu depan. Besok aku mengikuti les sebelum benar-benar pindah," jelasnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, kita masih bisa berhubungan jarak jauh" sahut Gea.
"Bukan itu maksudku!" Bian menekankan kalimatnya. Gea menatap bingung, raut Bian tampak gelisah. Netra mereka saling menumbuk satu sama lain. Dan entah mengapa Gea berpikir sesuatu akan terjadi.
"Aku menyukaimu."
Yang diperkirakan Gea rupanya benar. Pemuda itu akhirnya mengungkapkan apa yang selama ini Gea curigai. Bian sudah mulai aneh sejak mereka tamat SMA dan tak disangka dia memabg memendam perasaan padanya.
"Aku menyukaimu, sejak pertemanan kita di sekolah dasar." Bian mulai bercerita. "Kamu tau mengapa aku tidak pernah berhubungan dengan cewek manapun selama ini? Itu karena aku menjaga perasaanku padamu. Aku mengatakan hal ini dengan serius karena kamu sering menganggap perkataanku sebagai lelucon. Maaf jika aku mengungkapkannya secara mendadak."
"Bian-"
"Aku hanya ingin mengungkapkan semuanya sebelum terlambat, Gea. Selama ini aku selalu ada disampingmu, mendukungmu dan mengabulkan permintaanmu meski harus mengorbankan tabunganku sendiri. Setelah kupikir-pikir, mengingat jadwalku yang ketat setelah ini, aku mulai takut seseorang akan mengambilmu dariku. Aku tau ini terdengar posesif dan mungkin kamu akan tidak nyaman, jadi.."
Bian menatap netra Gea sekali lagi. Menggigit bibir dan mencoba menetralkan degupan jantungnya yang tak bisa terkontrol dengan baik.
"Apa kamu menerima perasaanku?"
Disaat itulah Gea bingung harus menjawab apa.