
Malam itu di sebuah salah satu gedung yang disewa sekolah, para murid dan para guru sedang mengadakan pesta sebagai perpisahan seluruh siswa kelas 12.
Pesta ini sudah diadakan sejak sekolah berdiri 5 tahun lalu. Dan hari ini angkatan ke-6 mendapat hadiah dari kepala sekolah untuk berpesta sekaligus bersenang-senang di gedung Hotel sebelum hari wisuda.
Acara dimulai dengan pidato singkat sang kepala sekolah lalu diakhiri dengan sorak gembira serta tepuk tangan.
Hidangan telah disiapkan. Para murid memandang bahagia. Mereka mulai mengerubungi tempat jamuan termasuk Gea. Gadis itu memang tidak bisa diam jika melihat makanan.
Tangannya ingin meraih cheesecake namun ia bertabrakan dengan seseorang. Bian Michaelis menatapnya jenaka. Ia mengambilkan sepotong cheesecake itu untuk Gea. "Sudah kuduga kamu akan mengambil ini."
Gea memerhatikan penampilan Bian yang tampak rapi. Rambutnya dipotong sedikit dan poninya dibiarkan panjang sehingga memperlihatkan jidatnya.
Sementara Gea hadir dengan tampilan sederhana. Gadis itu memakai dress yang dihiasi beberapa jepit rambut senada.
"Bagaimana kemarin?"
Pertanyaan Gea dijawab pandangan tak mengerti dari Bian. Gadis itu melanjutkan,"Aku melihatmu ada di Bandara."
Bian terkejut. Wajahnya memanas. "Ah, ya.. Sebenarnya aku tidak ada keinginan kesana. Hanya saja kemarin aku kebetulan lewat, jadi.." Bian kehabisan kata-kata. Gea menyenggol bahunya.
"Jadi apa? Hanya untuk menemui Chesi, mengapa harus sembunyi-sembunyi begitu? Kamu ini lucu sekali."
"Aku tidak-"
"Bian!"
Perkataan Bian terpotong ketika mendengar beberapa gadis memanggilnya. Gea menyeringai. "Lihat, mereka pasti ingin berfoto denganmu. Pergilah kesana."
"Bagaimana kamu tau?"
Belum sempat mendengar balasan dari Gea, salah satu gadis menggaet lengan Bian. "Hei, foto bareng yuk," ajaknya.
Bian sedikit risih. Gea menggendikkan bahu. Gadis itu tak masalah jika Bian meninggalkannya tapi lelaki itu sungguh tidak ingin melakukannya.
"Tapi-" Bian diseret begitu saja. Gea membiarkannya. Gadis itu melanjutkan untuk mengambil beberapa makanan, lalu ia mendengar ada teriakan.
Seluruh pasang mata teralihkan. Seorang pria tinggi dengan proporsi badan bagus dan tampilan macho nya membuat para kaum hawa terpesona.
"Maaf aku terlambat."
Gea terdiam. Gio tak memakai kacamata waktu itu. Sudah pasti dia memasang softlens pada kedua bola matanya. Gea sudah melihat tampilan Gio yang seperti ini tapi tetap saja dirinya kembali berdebar karena Gio sangatlah menawan.
Para guru wanita juga terpesona dan sedikit membuat iri para guru laki-laki salah satunya kepala sekolah, karena ketampanan Gio membuat mereka jadi tersaingi.
Gio masih bujang itulah yang menambah nilai plus untuknya. Tidak ada yang tahu bahwa dia sudah dijodohkan dengan murid didiknya sendiri.
"Andai saja aku belum menikah," gumam salah satu guru bernama Bu Emma yang terkenal mengidolakan Gio sejak pria itu melamar menjadi guru di sekolah.
"Bapak tampan sekali," puji Desi salah satu murid ajaran Gio Ferraldo. "Terima kasih,"
Mata Gio beralih. Ia menemukan Gea yang memandangnya di meja jamuan. Gio tersenyum.
Dari jauh Bian melihatnya. Gio berjalan ke arah Gea. Mengangkat tangan Gea yang membawa cheesecake dan mengarahkannya pada mulut Gio.
"Manis dan asin. Kamu suka yang seperti ini ya Gea?"
Gio membuat pasang mata yang melihat aksinya menjerit. Gea tersipu. Sedangkan Bian merasa geram.
Sepotong cheesecake itu sudah habis dimakan oleh Gio. "M-Mengapa anda tidak mengambilnya sendiri?" Gea mencoba menetralkan detak jantungnya.
"Oh, maaf." Gio mengambil sepotong cheesecake di piring yang tersisa. "Ini untukmu."
Gea memandang cheesecake pemberian Gio. Atensi semua orang tertuju padanya. Hingga seseorang tiba-tiba datang lalu mengambil cheesecake dari tangan Gio. "Terima kasih Pak. Cheesecake ini pasti enak sekali."
Entah bagaimana Bian dengan cepat meraih cheesecake tersebut sebelum jatuh ditangan Gea. Lelaki itu menatap Gio waspada. Gea melihat mereka berdua yang saling melempar tatapan tajam.
'Tidak bisakah aku menikmati makanan disini dengan tenang?' batin Gea meringis.
Bersamaan itu para murid ikut menghampiri mereka berdua, menyeret Bian serta Gio untuk berfoto bersama.
Gea semringah. Akhirnya dia mendapat kesempatan mengambil jamuan di pesta sebanyak yang ia inginkan karena orang-orang sibuk berfoto.
Bian dan Gio merasa kewalahan, tapi keduanya tak mampu berbuat apapun dan hanya menuruti kemanuan orang-orang sambil menghela nafas.
✒️✒️✒️
Gio mendekati Gea yang berada jauh dari kerumunan. Gadis itu bersendekap dada. "Kamu membuatku malu," katanya saat Gio ada di depannya.
"Kamu marah karena hal tadi?" Gio bertanya dan Gea menghembuskan nafas.
"Dengar Gio, aku tidak akan bersikap formal padamu setelah ini."
"Bagus kalau begitu," sela Gio.
"Ini hanya masalah kita berdua. Tidak ada yang tau tentang perjodohan kita."
"Jadi kamu ingin aku mengumumkannya?" Gio menyela lagi.
"Hentikan!" seru Gea kesal dan Gio meminta maaf.
"Apa yang kamu lakukan padaku membuat banyak orang melihat kita dan aku tidak ingin mereka salah paham."
"Salah paham apa?" tanya Gio.
"Jika kita dekat."
"Tapi bukankah kita memang dekat?"
"Tidak." Gea menekankan perkataannya. Gio terbungkam. Mata Gea tampak serius. Gadis itu memasang ekspresi tegas.
"Mungkin kamu merasa kita dekat tapi aku tidak, Gio Ferraldo."
"Gea, kamu-"
"Aku tidak mengerti mengapa kamu malah menyetujui perjodohan kita. Padahal kamu tau sendiri jika aku adalah murid didikmu, bukankah seharusnya kamu merasa malu? Dan lagipula umur kita terlampau jauh."
"Hanya selisih 6 tahun." Gio memotong ucapan. Sementara Gea masih ada pada pendiriannya.
"Terserah apa katamu, tapi aku sangat tidak menyetujui perjodohan ini. Dan lagi, aku masih belum mengenalmu sepenuhnya. Aku hanya ingin melanjutkan pendidikan. Jadi bisakah kamu bekerja sama?"
Gio tak bisa berkata apa-apa lagi. Gea terlihat bersungguh-sungguh akan ucapannya.
"Bagaimana jika aku menyukaimu Gea?" Pria itu bertanya lembut. Gea terkejut sesaat. Namun ia segera memasang wajah tegasnya lagi.
"Kalaupun kamu menyukaiku itu percuma. Aku tidak memiliki perasaan yang sama kepadamu. Kamu terlalu baik dan aku masih belum menemukan rasa sukaku terhadapmu."
"Masih belum menemukan apa itu artinya kesempatan?"
"Jangan terlalu banyak berharap, Gio. Lagipula, apa kamu sungguh menyukaiku? Seorang gadis tomboy yang bersikap tak sopan padamu seperti sekarang? Masih banyak gadis cantik diluar sana yang lebih baik. Dengan ketampananmu, kamu bisa menemukan orang yang sempurna daripada aku."
"Bagiku, tidak ada yang sepertimu"
Setelahnya mereka terdiam. Gea masih tidak ingin goyah hanya karena ucapan Gio. Jujur saja, gadis itu tetap kekeuh akan hatinya. Ia tidak ingin menerima perjodohan ini tapi mengabaikan Gio entah mengapa terasa sulit.
"Terserah apa pendapatmu. Aku harap kamu mau mengerti dan jangan melakukan hal yang membuatku merasa geli apalagi dihadapan orang-orang. Kita tidaklah sedekat itu. Kamu dan aku hanya sebatas guru dan murid. Aku harap kamu dapat memahaminya."
Setelah mengatakan hal tersebut, Gea pergi meninggalkan Gio sendiri dan memilih ikut bersenang-senang di kerumunan orang yang menari.
Gio merasa tertekan. Batinnya terasa sakit mendengar apa yang Gea katakan. Gadis itu amat membencinya bahkan setelah apa yang sejauh ini Gio coba lakukan.
Bian mencari keberadaan Gea dan hendak memanggilnya ketika melihat gadis itu berjalan dipinggir kolam renang.
Seseorang tanpa sengaja menyenggolnya. Higheels yang dikenakan Gea pun membuatnya tergelincir dan jatuh kedalam kolam.
Atensi semua orang teralihkan saat mendengarnya. Musik terhenti dan Gio membalikkan badan melihat apa yang terjadi.
Bersamaan itu, Bian secara cepat menceburkan diri ke dalam kolam untuk menyelamatkan Gea.
Gadis tersebut berteriak ketakutan karena tidak bisa berenang. Bian menangkapnya lalu merangkul dirinya yang menangis dan matanya terasa pedih. "Tidak apa Gea, aku menyelamatkanmu."
Gea merangkul erat leher Bian. Para guru pun ikut membantu mereka berdua tapi Gea masih mengerang ketakutan. Gadis itu merasa syok terlebih banyak pikiran yang membelenggunya.
Gio melihat semuanya. Rasa sakitnya bertambah perih. Sejauh ini ia menahan diri untuk tidak emosi tapi mengetahui Gea berada dalam pelukan Bian membuat dirinya marah. Gio tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Seperti inikah rasanya cemburu?
Jika iya, semoga semuanya hanyalah mimpi buruk.
Mimpi buruk yang tidak pernah Gio alami.
Dan dihari itu juga, Gio menentukan bahwa Bian adalah saingan berat untuk mendapatkan Gea Emeralda.