Amour

Amour
Twenty Two



'Selamat wisuda, sayang ♥️'




Bian meremat kertas yang ada di meja makan. Ia memandang kue tart yang disiapkan untuknya dengan mata tajam.




Daripada memakannya, Bian justru membawa kue tart itu dan ia berikan pada seorang pembantu di rumahnya.




Bibi Sumi menatap Bian sedih. Tuan mudanya tersebut menasuki kamar dan tidak keluar hingga malam.






"Bibi, Bian dimana?" tanya Grace setiba di rumah. "Ada di kamarnya, Nyonya," jawab Bibi Sumi.




"Dia sudah makan?" tanya Grace lagi sambil menaruh tas nya di meja. Bibi Sumi terdiam lalu menggeleng sebagai jawaban.




Grace sudah menduganya. Wanita berambut kecoklatan tersebut pun mendekati kamar Bian lalu mengetuknya.




Tanpa menunggu jawaban dari Bian, Grace masuk ke dalam. Putra semata wayangnya itu sedang asyik bermain Game di laptopnya dengan earphone di telinga.




"Bian, kamu makan dulu, ya?" bujuk Grace seraya mengusap rambut Bian lembut.




"Tidak mau," jawab Bian ketus dan tetap fokus pada game nya.




Grace menekuk bibir. Putranya pasti marah karena dirinya tidak bisa menghadiri acara kelulusannya.




"Bagaimana sidang kalian? Sudah selesai?" Giliran Bian bertanya dan dipandang terkejut oleh Grace.




"Aku tidak mengerti kalian memilih bercerai disaat aku sedang wisuda."




"Bian-"




"Sudah berapa lama kalian merencanakannya?"




"Bian dengar-"




"Aku menemukan surat perceraian di kamar kalian. Sebelumnya aku pikir kalian sibuk bekerja hingga tidak pernah bisa datang di acara-acara sekolah. Tapi nyatanya aku salah."




"Bian, maafin Mama."




Putra semata wayangnya itu menoleh dengan mata berair. Grace baru pertama kali melihat anaknya begitu sedih di hadapannya. "Kalian hanya memikirkan diri sendiri. Kalian tidak pernah mau mendengar keluh kesahku karena kalian tidak pernah datang ataupun menjengukku. Sebenarnya aku putra kalian atau bukan?" Suara Bian meninggi lalu menutup laptop dan melepas Earphone nya.




Grace hendak menjelaskan namun Bian tidak mau mendengarnya. "Pergi. Tinggalkan aku sendiri, Ma," katanya lalu menarik selimut dan berbaring membelakangi Mamanya.




Grace tidak bisa mengatakan apapun lagi. Wanita itu pun beranjak pergi, membiarkan Bian sendiri untuk membenahi perasaannya. Grace merasa bersalah. Sejauh ini dia memang tidak pernah memiliki waktu luang untuk Bian karena sibuk bekerja. Dan betapa sakit hatinya ketika melihat putranya sendiri menitikkan air mata.





"Maafkan Mama, Bian," kata Grace terakhir sebelum akhirnya menutup pintu.






✒️✒️✒️






Gea membuka mata. Ia bangkit dari tidurnya dan terkejut menyadari bahwa dia berada di kasur milik Gio.




"Pagi," sapa Gio yang saat itu sudah selesai membuat sarapan. Dia melepas celemek hitamnya dan mendekati Gea sembari membuka gorden jendela.




"Kamu yang memindahkanku dari sofa?"




Gio mengangguk.




Gea menggoyangkan tangannya keatas dan kebawah mengode Gio agar mensejajarkan kepala di depan wajahnya.




Gea memeriksa suhu Gio yang rupanya sudah normal kembali. "Syukurlah," ucapnya lega.




"Ini karena kamu menjagaku semalaman. Terima kasih tidak jadi pulang dan memilih berada disampingku hingga aku siuman," kata Gio tersenyum bahagia.




Gea bersemburat merah. "Aku mencintaimu, Gea." Kedua kalinya Gio mengatakan hal tersebut. "Kamu lupa kalau aku lebih memilih pendidikan daripada perjodohan kita?"




Gio mengangguk. "Tapi aku akan tetap menunggumu sampai kamu menerimaku."




"Bagaimana jika aku tidak mau menerimamu?"




"Akan kubuat kamu menerimaku"




Gea memasang raut kesal. "Kamu ini pemaksa sekali ya?"




"Khusus untukmu, sayang."




Gea semakin sebal dibuatnya. "Apa katamu?"




"Yang mana?"




"Yang tadi."




"Yang mana hm?"






"Iya sayang."




Seketika itu Gea menajamkan mata dan memasang wajah cemberut. "Gio, beraninya kamu-" Gea menarik baju Gio karena berniat memukulnya tapi jarak mereka yang cukup dekat serta tarikan kuat Gea membuat Gio tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya dan berakhir dengan menabrak tubuh Gea.




Bruk!




Pipi keduanya memerah. Gea menatap Gio diatasnya sementara Gio juga memandang terkejut dirinya.




Wajah mereka cukup dekat dan hampir berciuman.




Bersamaan itu pula, pintu apartemen Gio terbuka dan menampilkan sosok pria berkemeja menatap kaget mereka berdua.




"Ah, maaf! Saya tidak bermaksud-"




"T-Tunggu Jef! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan." Gio segera berdiri begitu pula Gea.




Jefri menoleh takut. Ia tersipu malu karena memergoki adegan panas atasannya sendiri. "Anda tidak akan memecatku karena ini kan?" tanyanya.




"Apa yang kamu katakan hah?" Gio menengadahkan telapak tangannya dan dipandang Jefri tak mengerti.




"Ponselku mana?"




"Ah, iya."




Jefri memberikan ponsel. Gio memasang raut tajam. "Beruntung, aku punya ponsel cadangan. Tadi pagi aku sempat menerima telpon dari Mr. Chris, dan beliau bilang bahwa kamu melakukan semuanya dengan baik."




Gio tersenyum lalu menepuk bahu Jefri bangga. "Terima kasih Jef."




Pujian dari Gio membuat Jefri merasa terharu. Dia memeluk Gio erat layaknya anak kecil meski umur mereka hanya selisih satu tahun.






✒️✒️✒️






Selagi Gea mandi, Jefri menginterogasi Gio dengan banyak pertanyaan sementara Gio memandang datar padanya.




"Yang membuat Gea kesini adalah kamu kan?"




Jefri tertawa ringan. "Lagipula saya tidak bisa membiarkan anda sendirian dalam keadaan sakit seperti itu."




Gio menatap tajam setelah itu mengubah ekspresi wajahnya menjadi bahagia. "Kali ini aku tidak akan marah padamu," katanya bersemu malu.




Jefri semakin antusias menggoda atasannya. "Hayo.. Kemarin tuan ngapain aja sama nona Gea, hayooo?"




"Sst! Pelankan suaramu, nanti dia dengar."




Gio dan Jefri pun tertawa. "Ayo ceritakan padaku, tuan." tuntut Jefri tak sabar.




"Aku tidak melakukan apapun, tapi kemarin dia melakukan hal manis seperti merawatku, mengkhawatirkanku dan membuatkanku bubur. Dia sungguh mencemaskan diriku." Gio menjelaskan menggebu-gebu seperti orang yang terkena kasmaran. Pria itu merasa senang akan kehadiran Gea. Bahkan, Gio ingin sakit lagi agar Gea bisa merawatnya lagi.




"Meski itu hanya hal kecil, tapi aku begitu bahagia. Aku mencintainya, sangat mencintainya."




Jefri tersenyum. Ia merasa lega tuannya tidak lagi bersedih.






Gea yang selesai mandi, menatap dua pria yang asyik mengobrol di sofa.



"Gio, kamu tidak mengajaknya sarapan bersama?" Gea bertanya.




"Oh, tentu saja," balas Gio lalu mengajak Jefri ke meja makan. Jefri sempat menolak dengan alasan dia sudah sarapan, tapi Gio memaksa.






"Aku tidak menyangka kamu pandai memasak," ucap Gea memuji. Sejujurnya ini sudah yang kedua kali gadis tersebut merasakan masakan Gio Ferraldo. Tetapi tetap saja Gea takjub. Jarang ada seorang pria yang bisa memasak enak, dan Gio salah satu spesies langka menurut Gea.




Gio berterima kasih, dia mengangkat panci berisi sup hangat ke meja. "Tuan, memang pintar masak. Itu sudah menjadi hobinya sedari dulu," sahut Jefri seraya mengambil paha ayam dan menggigitnya.




"Aku bertanya-tanya," Gea meletakkan sendoknya kemudian menatap Jefri dan Gio. "Hubungan kalian sebenarnya apa? Anda bilang, anda adalah sekretaris Gio dan memanggil Gio dengan sebutan 'Tuan'. Bukankah itu agak berlebihan mengingat Gio hanya seorang guru tidak tetap di SMA?" lanjut Gea mengintimidasi.




"Ehm, kami itu.." Jefri menoleh ke arah Gio. Atasannya menggeleng pelan, mengode agar tidak mengatakan yang sebenarnya. "Tuan Gio memiliki bisnis kecil-kecilan dan saya pegawainya. Untuk panggilan 'Tuan' itu memang sudah kodrat bagi para pegawai memanggil 'Tuan' pada atasannya."




"Apa itu kemauan Gio?"




Jefri menggoyangkan tangan. "Ah,  tidak-tidak! Itu sudah kemauan para pegawai, lagipula tuan Gio juga tidak keberatan," sahut Jefri tertawa garing.




Gea mengalihkan atensi ke arah Gio. "Kamu punya bisnis kecil apa?" tanyanya.




"S-Sebuah toko kecil," jawab Gio gugup. Gea menghela nafas.




"Yasudahlah, aku tidak peduli tentang hubungan kalian berdua seperti apa."




Jefri dan Gio pun lega. Beruntung Gea tidak bertanya lebih jauh sebab Gio masih ingin merahasiakan statusnya. Gio mungkin berada di keluarga yang mampu, tapi yang Gea tahu, Gio hanyalah seorang guru tidak tetap di SMA. Setidaknya dalam pandangan Gea, Gio adalah pria sederhana. Itulah yang Gio mau.