
Gio mengalihkan bola matanya ke arah lain. Gea sedang tidak ingin bicara dengannya. Pria itu menariknya secara paksa dan Gea kesal padanya.
"Maaf," Gio bersuara. Mereka berdua sedang ada di mobil Gio yang terparkir. Gea tak memandangnya dan membuka pintu mobil begitu saja.
"Gea." Gio memanggil empunya dan mencoba menghentikan Gea yang ingin pergi. Gadis itu berbalik. Memasang wajah datar yang menbuat Gio terdiam.
Gea menghela nafas. Ia mengangkat tangannya dan mengode Gio untuk mendekat. Ketika sang pria sudah berada di hadapannya, Gea berjinjit lalu menyentil pelan kening Gio Ferraldo.
"Itu balasan untukmu," katanya menarik senyuman.
Wajah Gio memerah. Gea tidak benar-benar marah padanya. "Aku kesal karena kamu menyeretku lalu meninggalkan Bian dan Chesi di dalam. Aku sedang menikmati di Aquarium hari ini, jadi aku tidak ingin kesenanganku berakhir karenamu."
Gio merasa bersalah. Selanjutnya pria tersebut menggandeng tangan Gea dengan lembut. "Kalau begitu kita masuk ke dalam lagi."
Gea hanya tidak mengerti mengapa Gio bisa menempatkan dirinya di keadaan yang nyaman dan menyebalkan secara bersamaan.
Seharusnya dia marah padanya, tapi anehnya Gea tidak memedulikan ego nya saat ini. Sejak kemarin Gea merasa tidak harusnya ia memperlakukan Gio dengan buruk.
Pria itu sangat baik kepadanya dan Gea merasa tidak enak ketika membuat Gio merasa sedih. Namun melihat sikap Gio yang seperti ini, membuat Gea berpikir.
Gio memang menyukainya.
Dan pasti dia menyetujui perjodohan antara dia dengan Gea.
Hanya satu hal..
Gea masih belum menemukan perasaannya untuk Gio.
Karena hari ini dia merasa ada yang lain.
Sesuatu yang tidak bisa Gea jelaskan.
Seperti ada hati lain yang ragu akan Gio lah orangnya.
✒️✒️✒️
Bian dan Chesi berjalan beriringan. Mereka memutari koridor Aquarium sembari mencari keberadaan Gio dan Gea.
Chesi memandang canggung. Inginnya mengajak Bian untuk mengobrol. Tapi lidahnya serasa kelu. Keduanya pun tampak kaku hingga seseorang berlari dari belakang dan tak sengaja menyenggol bahu Chesi sampai hampir terjatuh.
Bian menangkapnya. Menjaga agar Chesi tidak membentur tanah.
"Maaf." orang yang menabrak, membalikkan tubuh dan meminta maaf lalu kembali berlari.
Chesi terkejut. Mata mereka beradu. Bian tampak bersinar, dan segera Chesi memutus kontak mereka agar ia tidak jatuh pada pesona Bian lagi.
"Ngomong-ngomong.." Kali ini Chesi sudah bisa memulai pembicaraan. Gadis itu melengkungkan bibirnya tipis. "Aku penasaran dengan orang yang kamu sukai. Kalau boleh, bisakah kamu mengenalkannya padaku?"
"Tidak perlu," Bian menjeda kalimatnya. Chesi menoleh ke arahnya. "Kamu sudah mengenalnya Ches."
Mata Chesi membulat. "Apa?" Bian tampak bersungguh-sungguh, sementara Chesi masih sibuk berpikir dengan yang Bian katakan.
Chesi mengenalnya?
Tapi siapa?
"Bian! Chesi!"
Ini pertama kalinya Bian mendapat pandangan dingin dari Gio Ferraldo. Tidak biasanya, Bian semakin curiga bahwa Gio membenci dirinya.
'Orang yang disukai Bian adalah orang yang sudah kukenal. Tapi siapa?'
Chesi menaruh atensi pada temannya di seberang sana. Gea mengembangkan senyum manis. Chesi kembali menatap Bian. Hatinya mulai merasa gelisah.
'Bukan Gea orangnya, ya kan Bian?' batin Chesi takut akan firasatnya benar.
Mereka berempat pun berjalan bersama. Takdir Tuhan memang tidak ada yang tahu. Tapi hal ini bisa dijadikan awal mula dari semuanya.
Ketika satu hati direbutkan dan hati lain terluka.
Dapatkah mereka mengatasinya?
✒️✒️✒️
"Hati-hati dijalan." Gea berpamitan pada Gio dan Chesi. "Kamu yakin tidak ingin ikut?" tanya Chesi dan dijawab anggukan yakin oleh Gea.
"Aku kesini bareng Bian, jadi aku merasa tidak enak kalau meninggalkan bocah itu sendirian."
Gio mencoba menahan emosinya dengan seulas senyum. "Aku harap kamu tidak terlalu dekat dengannya."
Alis Gea terangkat. Chesi pun menyudahi sebelum Gio bertindak lebih jauh. "Baiklah, sampai jumpa. Oh, besok kamu datang kan?"
"Iya"
"Oke dadah Gea!"
"Dahhh!"
Gea melambaikan tangan sampai mobil mereka tak terlihat. Gadis itu menuju Bian yang menunggu di parkiran.
"Sudah selesai salam-salamannya?" Bian bertanya dengan nada menyindir.
"Sudah. Kamu ikut kan besok?" Gea bertanya setelah Bian memberikan helm padanya.
"Kemana?"
"Ke Bandara nganterin Chesi."
"Entahlah."
Memdengar jawaban dari Bian membuat Gea sedikit kesal. Dia memukul lengan Bian sampai lelaki tersebut meringis kesakitan.
"Sebenarnya kalian berdua ada apa? Sejak perpisahan SMP kalian seperti orang bertengkar. Kamu juga tidak mau ikut mengantar Chesi ke Bandara waktu itu." Gea menyerocos tanpa henti namun Bian menjawab pertanyaannya dengan tenang.
"Gea, ini hanya antara aku dengan Chesi. Lagipula kami masih berteman. Dan ngomong-ngomong soal mengantar Chesi ke Bandara besok, akan kupikirkan nanti."
"Oh ya," Bian mengalihkan pandangannya lagi ke arah Gea. "Akhir-akhir ini Pak Gio suka lengket ke kamu ya."
"Uhm itu.." Gea berusaha mencari alasan tepat agar Bian tidak curiga. Namun pandangan lelaki tersebut berubah menjadi dingin seolah menginterupsi.
"Aku membencinya," kata Bian jujur pada akhirnya.
"E-Eh?"