Amour

Amour
Fifteen



"Aku tidak menyangka kamu juga teman Bian Michaelis."




Chesi memerhatikan jalan lewat jendela mobil. Membuat lengkungan tipis sebelum menjawab pertanyaan Gio. "Aku dekat dengannya karena Gea."




"Sebenarnya Gea dan Bian itu sudah dekat sejak kecil loh," lanjut Chesi menyeringai.




"Kamu mencoba mengomporiku?"




Chesi tertawa. Gadis itu puas melihat wajah jutek kakak sepupunya. "Jujur saja, baru pertama kali ini aku melihat ekspresi masam kakak yang tampak jelek."




"Kakak cemburu kan?"




Pipi Gio memerah. Pria itu jadi tidak fokus mengemudi. "U-Untuk apa aku cemburu?"




Chesi masih tertawa. Ia mengambil nafas dan menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku masih tidak percaya kakak sepupuku menyukai temanku sendiri. Aku bahkan tidak pernah tau kakak bertemu dengan Gea. Lagipula kakak baru saja selesai sekolah tiga tahun lalu disaat aku sudah di Singapura dan Gea kelas satu SMA."




"Kudengar kakak juga jadi guru di sekolah Gea dua tahun lalu. Kakak pasti sengaja kan, biar bisa modus ke Gea. Tapi perjodohan kalian baru beberapa hari lalu, jadi.." Tiba-tiba Chesi merubah ekspresi wajahnya. Dia melihat ke arah Gio yang dibalas pria tersebut dengan wajah kebingungan.




"Kakak sudah suka sama Gea sejak kalian belum dijodohkan?"





Hari itu juga, Gio menceritakan awal mula dia menaruh perasaan pada gadis tomboy bernama Gea Emeralda.




Tebakan Chesi memang benar. Dia sudah menyukainya sebelum kedua orang tua Gio dan Gea menjodohkan mereka. Jauh sebelum itu dimana Gio pertama kali bertemu dengan Gea dan jatuh cinta padanya di pandangan pertama.




Baginya tidak ada sosok yang seperti Gea. Dan karenanya, di umur Gio yang sudah 24 tahun pun, pria itu tetap menyukai Gea. Suatu keberuntungan ketika kedua orang tuanya menjodohkan mereka berdua. Gio benar-benar berterima kasih, khususnya kepada Tuhan sang pencipta, karena mempertemukan mereka kembali meski Gea tidak mengingat dirinya.





"Chesi.. Karena kamu sudah mengenal Gea sejak SMP, bisakah kamu menceritakan padaku seperti apa dia dulu dan tipe pria yang bagaimana Gea sukai?"




Chesi melebarkan senyuman. "Boleh, tapi kakak harus mentraktirku makan malam."




"Setuju."






✒️✒️✒️






Keesokan harinya,




Gea memeluk Chesi erat. Gio memandangnya dengan senyuman. Hari ini Chesi akan kembali ke Singapura tapi untuk sementara dan akan ke Indonesia beberapa bulan berikutnya.




Orang tua Chesi sudah kembali lebih dulu karena pekerjaan dan Chesi baru menyusul mereka hari ini.




"Aku sudah bilang pada Bian, tapi aku tidak mengerti mengapa dia masih saja berbelit-belit ketika kutanya untuk mengantarmu."




Chesi mengukir lengkungan tipis di bibirnya. "Tidak apa, kemarin aku juga sudah berpamitan padanya."




"Hati-hati ya Ches," kata Gea memandang khawatir. "Terima kasih, Gea," balas Chesi.







Gio terkejut, Gea menariknya begitu saja. Pria itu mengikuti kemana Gea membawanya.




Dan setelah mereka berdua pergi, Chesi menoleh ke arah berlawanan dengan senyum tipis. "Bersembunyi lagi?"




Bian perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia melepas topi yang melekat di kepala lalu mendekati Chesi dengan langkah canggung.




"Kamu mengetahuinya?"




"Persembunyianmu terlalu jelas Bian Michaelis."




Bian menjadi malu. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.




"Terima kasih," kata Chesi yang mengalihkan atensi Bian. "Aku pikir kamu tidak datang."




Setelah Chesi berkata, pemberitahuan di Bandara terdengar. Pesawat yang ditumpangi Chesi akan segera lepas landas. Gadis itu pun menarik koper dan berpamitan pada Bian.




Bian menarik pergelangan tangannya. Membuat gadis itu menoleh sebentar sebelum ia melangkah jauh. "Hati-hati."




Jantung Chesi berdebar. Ia merasa senang. Gadis itu pun mengangguk dan Bian melepas genggamannya.






Sementara di tempat lain Gea dan Gio mengintip mereka dibalik tembok. "Boleh aku bertanya, mengapa kita melakukan semua ini?"




Gea menempelkan jari telunjuk pada bibirnya. Menyuruh Gio agar tidak bicara terlalu keras. "Aku mempunyai firasat Bian ada di Bandara jadi aku menarikmu untuk pergi agar Chesi dan Bian bisa bicara berdua."




"Tapi haruskah kita sembunyi?" Gio bertanya sekali lagi.




"Tentu saja! Kamu tidak tau mereka sedang ada di hubungan yang buruk. Aku tidak mengerti mengapa mereka bertengkar tapi melihat ini aku yakin mereka sudah baikan."




Gio bisa melihat ekspresi bahagia dari wajah Gea. Hati Gio merasa sedikit sakit. "Feeling mu pada Bian sangat kuat ya?" tanpa sadar bibir Gio mengucapkannya. "Aku iri," lanjutnya yang membuat Gea berpikir keras.




Gio terus saja menyudutkannya. Pria itu secara tidak langsung membuat Gea merasa kaku dan canggung. Sebut saja Gea tidak peka, tapi memdengar kalimat Gio membuat dirinya sadar bahwa Gio memang menaruh perasaan padanya.





Dan pria itu cemburu.




Oh, apakah mungkin seorang Gio Ferraldo cemburu padanya?





"Untuk apa kamu iri dengan Bian? Dia hanya temanku" balas Gea tak mengerti.




"Entahlah." Gio menunduk menatap Gea dengan wajah manisnya. "Yang aku tau pertemanan antara wanita dan laki-laki itu hanyalah mitos. Apalagi yang sudah berteman lama, banyak diantara mereka menaruh perasaan. Jadi aku hanya ingin memastikan, apa kamu sungguh menganggap Bian adalah teman?"




Kedua alis Gea bertaut. "Tentu saja," jawabnya penuh keyakinan.




"Baguslah, aku harap kamu tidak berbohong padaku Gea."