Amour

Amour
Fifty



Ryo berkunjung ke rumah sakit sebelum berangkat ke kampus. Sudah jadi rutinitasnya merawat sang kakak yang masih tertidur diatas ranjang dengan begitu damainya.


Ryo mengganti bunga di vas dengan bunga yang baru. Membawa beberapa buah buahan dan ia tata di meja. Menyisir rambut kakaknya yang semakin panjang dan tergerai indah.


Semenjak pindah rumah sakit, Ryo merasa terbantu karena saat ia pergi ke kampus ada seseorang yang akan menjaga kakaknya. Bawahan Gwen, teman sekaligus mantan kekasihnya.


Sejujurnya Ryo tidak mau Gwen membantunya. Sudah cukup dia merepotkan gadis itu. Ia tidak ingin banyak hutang padanya. Tapi Ryo juga tidak punya pilihan lain. Hanya kakaknya yang ia miliki. Kedua orang tuanya tidak selamat karena kecelakaan mobil. Dan Ryo tidak ingin kehilangan kakaknya juga. Satu-satunya keluarga yang masih ia punya.


"Aku pergi dulu, jaga diri kakak," kata Ryo sebelum akhirnya mengambil tas dan pergi keluar.


Pemuda itu berjalan diatas trotoar sampai akhirnya sebuah mobil datang menawarkan tumpangan.


"Mau berangkat bareng?"


Ryo sedikit terkejut melihat gadis barbar yang membantunya kemarin. "Tidak perlu, aku jalan saja," tolak Ryo dingin.


"Serius? Jalan ke kampus masih jauh loh."


Ryo menghembuskan nafas dan menghentikan langkah. Berbalik lalu masuk ke dalam mobil. "Akhirnya kamu terima juga tawaranku."


"Sudah diam," cetus Ryo tidak peduli.


Sang supir pun menjalankan mobil. Ryo masih terdiam dengan lamunan sementara gadis disampingnya ingin mengajak bicara.


"Ngomong-ngomong kita belum berkenalan, namaku.."


"Gea, aku sudah tau itu," sahut Ryo datar.


"Oh, baiklah." Gea tidak melanjutkan lebih jauh. Ryo melirik sebentar. "Yang kamu lakukan kemarin mengejutkanku," kata Ryo.


"Oh itu.. aku melakukannya tanpa sengaja," jawab Gea.


"Kupikir aku salah menilaimu. Ternyata kamu gadis gadungan."


"Hei apa maksudmu gadis gadungan?"


"Maksudku, kamu tampak feminim ketika pertama bertemu. Nyatanya tidak. Paribahasa mengatakan jangan nilai orang dari covernya saja. Sekarang aku mengerti mengapa ada paribahasa seperti itu."


'ya, kalau bukan untuk Gio aku tidak mungkin jadi feminim,' batin Gea miris dengan dirinya sendiri.


Mereka sampai di kampus. Ryo keluar lebih dulu disusul dengan Gea di belakang. "Terima kasih untuk tumpangannya," kata Ryo dan pergi begitu saja.


Gea terdiam melihatnya. Pemuda tersebut cukup misterius baginya. "Ku harap dia tidak di bully lagi," gumam Gea.


Ryo masuk ke kelas. Hal pertama yang menyambutnya adalah tatapan teman-teman kelasnya seolah mengintimidasi Ryo.


Tapi Ryo menghiraukannya. Dia duduk di bangkunya dengan tenang hingga salah seorang menggebrak meja dan berteriak. "Lihatlah dia, setelah berhasil lepas dari bullyan senior, tatapannya jadi sok sekali. Kamu pasti bangga karena tidak menjadi anjingnya Ego. Tapi justru karena itu, Ego pasti mencari anjing baru yang bisa ia suruh-suruh. Dan kami dalam bahaya karenamu!" Pemuda bernama Cakra melampiaskan amarah. Teman Cakra mencoba menenangkannya sedangkan yang menjadi lawan bicara hanya menatap datar.


"Apa kalian berpikir Ego akan mencari anjing baru?" Tanya Ryo.


"Aku tidak pernah bisa melawan Ego karena terbelit hutang dengannya, tapi sekarang situasinya berbeda. Jika Ego berani menyentuh kelas ini atau mencari kandidat anjing diantara kalian, akulah yang akan turun tangan," kata Ryo tegas.


Awalnya Cakra terkejut dengan tekad yang Ryo buat, namun dia tertawa. "Jangan konyol! Kamu pikir bisa melawan pewaris GO grup semudah itu? Ego itu pintar berkelahi."


"Kita lihat saja. Aku tidak akan diam lagi setelah apa yang selama ini ia perbuat padaku dan juga kakakku."


✒️✒️✒️


"Gara-gara Ryo sudah tidak bisa kita suruh lagi, rasanya membosankan," Delta bersuara.


"Delta benar, mungkin sudah waktunya kita mencari kandidat anjing baru," Tendi menyahut.


Ego hanya diam mendengarkan. Dia melihat seorang pemuda culun, bertubuh gemuk serta berkaca mata. Dengan senyum lebar, Ego merangkul pemuda itu dan menyeretnya.


Teman-teman Ego yang lain mulai menyeringai. Mereka paham dengan aksi Ego yang menyeret pemuda culun itu. "Hei, kita lagi bosan. Gimana kalau kamu menghibur kami?"


✒️✒️✒️


"Aneh, si Erik kok gak masuk kelas ya? Padahal pagi tadi ada." Kata salah satu mahasiswi yang sedang berbincang sambil membereskan alat laboratorium.


Gio mendengar percakapan mereka. Pemuda itu melepas jas lab dan melipatnya. Pelajaran biokimia sudah usai beberapa menit lalu. Meski begitu, Ryo bukan orang bodoh yang menghiraukan hal sepele seperti ketidakhadiran Erik di kelas. Erik tidak pernah absen dan ini pertama kalinya dia absen secara mendadak tanpa kabar. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Ryo mulai berprasangka buruk.


"Ryo gawat!"


Salah satu teman sekelasnya masuk dalam lab dengan nada tinggi.


"Eric! Dia-!"


✒️✒️✒️


"Hei, sudah kubilang pesan yang Americano! Pikun ya?!" Ego menendang tubuh Erik amat keras. "Dasar gendut! Pesan gini aja gak becus!"


"Hajar saja dia! Biar tau rasa hahaha!" Teman-teman Ego kulai mengompori.


Tapi sebelum Ego melayangkan tinju, Ryo mencegahnya. Mencengkeram lengan Ego dan menonjok wajahnya.


Ego tertawa remeh. Dia menatap Ryo dengan seringai. "Karena sudah tidak jadi anjing lagi, kamu kulai berani ya?"


"Aku sudah menantikan hari dimana aku bisa menghajarmu habis-habisan. Dan kurasa sekarang adalah waktunya."


"Kamu dendam karena perbuatanku pada kakakmu yang menyedihkan itu? Dengar ya Ryo, kakakmu itu bodoh sekali."


"Kamu benar, kakakku mungkin bodoh karena memilih dirimu. Dari awal aku memang tidak menyetujui kakak berhubungan denganmu. Jika saja waktu itu aku menghentikanmu, kakak tidak akan sekarat seperti sekarang!"


"Kalau begitu, hajar saja aku jika bisa."


✒️✒️✒️


"Apa?"


Gwen dan Gea terkejut mendengar kabar Ryo berkelahi dengan Ego. Kabarnya meluas hingga ke seluruh mahasiswa serta mahasiswi di kampus. Bahkan para dosen juga ikut turun tangan.


Gwen dan Gea berlari menuju tempat perkelahian. Sudah banyak orang yang berkerumun disana. Tidak melakukan apapun dan hanya mampu melihat.


Mereka terlalu takut dengan perkelahian Ego serta Ryo yang brutal. Terdapat darah yang mengucur entah milik siapa. Tapi keduanya tidak mau berhenti dan terus menyerang satu sama lain.


Ini adalah kedua kalinya Gea bertemu dengan tatapan itu. Tatapan yang sama dengan milik sahabatnya.


*Bian Michaelis.


"Aku akan membunuhnya Gea*!"


Gea bisa merasakan amarah yang ada pada diri Ryo. Sama seperti dengan apa yang ia rasakan pada Bian ketika pemuda tersebut terlibat dalam perkelahian.


Mungkin tidak banyak orang yang tahu. Hanya Gea yang mengenal Bian lebih dari siapapun terlebih saat pemuda itu tengah tenggelam dalam amarah. Sorot matanya,aura dirinya, sungguh kuat hingga membuat Gea kadang merasa takut.


*Mengapa Ryo sama dengan Bian?


Sahabat yang saat ini tidak Gea ketahui bagaimana kabarnya*.


"Hentikan Ryo! Sudah cukup!" Lamunan Gea tersadar. Dari banyaknya orang, hanya Gwen yang berani kelangkah maju. Menarik tubuh Ryo menjauh dari Ego. "Sudah cukup! Apa yang kamu lakukan!" Teriak Gwen frustasi.


Ego juga ditarik oleh teman-temannya. Mereka berdua babak belur dan kelelahan. Baik Ego maupun Ryo tidak memutus kontak mata. Keduanya menyorot tajam seolah berkata 'ini belum selesai!'


✒️✒️✒️


Ego dan Ryo keluar dari kantor. Karena perkelahian tadi, mereka jadi diskors selama tiga hari. Gwen menghadang Ryo begitu pemuda itu selesai diceramahi. "Kamu pikir kakakmu akan senang melihat kamu seperti ini?" Gwen berkata sambil bersendekap dada. Ego sudah berjalan lebih dulu bersama teman-temannya. Ryo memandang Gwen dengan mata datar.


Bibirnya robek, pipi serta pelipisnya membiru. Dia tidak mengeluarkan sepetah katapun sampai akhirnya Gwen menggenggam lengan Ryo dan mengajaknya ke suatu tempat. "Kita obati lukamu dulu."


✒️✒️✒️


Gwen menempelkan plester di wajah Ryo yang terluka. Matanya berkaca-kaca. "Sudah selesai," ucapnya.


Ryo berdiri. Dia mengucapkan terima kasih dan hendak pergi tapi perkataan Gwen menghentikan langkahnya.


"Tidakkah tindakanmu terlalu kejam padaku?"


Ryo menoleh. Gadis itu mengusap air mata dan menatap Ryo. Berusaha tegar menghadapi mantan kekasihnya yang cukup tidak tahu diri.


"Selama 2 tahun kita berpisah, kamu tidak pernah menjelaskan apapun padaku. Tentang mengapa kamu memutus hubungan kita serta menjauhiku tanpa alasan. Sebenarnya apa arti diriku untukmu?!"


Gwen tidak bisa membendung perasaannya sendiri. Gadis itu berlinang air mata. Sejak Gwen membawa Ryo ke atap, pemuda itu tidak mengeluarkan suara sama sekali. Bahkan ketika Gwen mengompres lukanya, Ryo hanya diam saja seolah tidak merasakan sakit sama sekali.


"Apakah kamu sangat membenciku? Setidaknya meski berpisah, kita bisa berteman" gumam Gwen mencurahkan isi hatinya.


"Kalau kamu butuh bantuan, bilang padaku! Kalau kamu sakit dan kesepian, bilang padaku! Setidaknya sedikit saja kamu meminta bantuanku. Berbicara padaku atau sekedar menyapaku. Jangan memutus semuanya seperti ini!"


Ryo mendekat. Memberi pelukan sesaat. Menenangkan diri Gwen yang terisak. "Kamu sudah banyak membantuku, aku berterima kasih akan hal itu," ucap Ryo lalu melepas pelukan.


Gwen mungkin terlalu berharap. Ryo begitu dingin kepadanya. Tapi hal yang ia berikan sangatlah berharga. Bahkan sampai saat ini perasaan itu masih sama, meski sudah menjadi serpihan kenangan.


Jauh dari balik percakapan mereka, seseorang menyaksikan semuanya. Memotret dan mengirimnya pada seseorang yang lain. "Sudah kuduga, mereka memang memiliki sebuah hubungan."


✒️✒️✒️


'*Aku akan melindungimu.'


'Berjanjilah padaku, kamu tidak akan berkelahi lagi.'


'Maaf tapi aku tidak yakin aku bisa menepatinya, Gea*.'


Secercah ingatan tentang Bian berputar dalam kepala Gea. Apa yang dilihatnya pada Ryo membuatnya berpikir tentang Bian.


Gio memasuki ruang Kamar. Pria itu baru saja tiba dan menengok apakah Gea sudah tidur. Istrinya tersebut ruoanya tengah melamun di depan jendela tengah malam.


"Gea?"


Yang dipanggil menoleh. "Apa yang kamu pikirkan?" Gio bertanya seraya membuka ikatan dasi serta kancing kemeja atasnya.


"Tidak ada," jawab Gea. Menghampiri Gio dan mengambil jas serta kemeja kotornya.


Gio menatap sang istri. Mengelus pipinya. Dan mengecupnya ringan. Namun tanpa disadari, Gio mengejutkan Gea ketika suaminya menyerang. Mendorong tubuh Gea diatas ranjang dan mengecup tengkuknya. Menggigit serta membuat tanda disana.


Gea tidak bisa hergerak ataupun melawan. Gio mengunci pergerakannya.


"G-Gio!"


Gea mendesah dibuatnya. Ia tidak mengerti mengapa Gio mendadak bersikap seperti ini. Suaminya tidak pernah menyerang secara tiba-tiba dan ini hal pertama yang Gea rasakan. Ketika Gio menyentuhnya dengan paksa.


Gio menatap Gea dibawahnya yang sudah bersemburat merah. Mereka saling memberikan cumbu mendalam. Menikmati malam itu dengan waktu panjang. Saling memberikan kepemilikan masing-masing disetiap anggota badan.


'Aku tidak akan membiarkan mu direbut oleh siapapun.'