
"Gio, aku mau yang asam-asam." Gea mengerucutkan bibir. Bertingkah menggemaskan dikala Gio tengah menyeduh kopi di pagi hari.
"Bibble mau yang asam?" Gio menyunggingkan senyum. Gea mengangguk lalu menambahkan, "aku juga pengen yang manis terus asin sama pedas."
Mendengarnya Gio menggelengkan kepala sejenak. Ia menghampiri Gea lalu mengelus perut Gea. "Kamu senang bisa menyusahkan papa ya Bibble?" Gea terkekeh mendengar ucapan Gio yang seperti tengah merajuk. Bibble adalah nama calon bayi mereka. Gio sendirilah yang memberinya nama sementara, sebelum anak mereka benar-benar lahir ke dunia. Suaminya itu kembali berdiri lalu mengecup kening Gea. "Akan kucarikan secepatnya, nanti Jefri yang mengirimkannya padamu."
Gea mengangguk. Ia tahu suaminya sibuk jadi ia tidak akan memprotes. Namun ingatan tentang semalam masih mengganggunya. Ada beberapa hal yang membuat Gea merasa penasaran. "Kemarin malam kamu darimana?"
"Kamu masih penasaran soal mantel cokelatku ya?"
Gea menggigit bibir. Dia tidak ingin membuat Gio merasa terintimidasi. Tapi ia juga tak dapat berbohong kalau itu benar. Belakangan ini Gio sibuk. Dia sering pulang larut dan itu membuat Gea gelisah.
Gio menampilkan sedikit senyum. Seolah paham apa yang Gea pikirkan. "Apapun yang ada dalam benakmu semua itu tidak benar," ucapnya. "Ingat bahwa aku hanya mencintaimu."
✒️✒️✒️
"Selamat menikmati.." Lina memberikan senyum manis pada sang pria yang memandangnya penuh hawa nafsu. Gadis itu bersolek. Mengedipkan satu mata ketika sang pria jatuh akan pesonanya. Ya, menjadi seorang barista di bar adalah salah satu pekerjaannya. Dan dengan wajahnya yang cukup dibilang cantik serta body s line nya mampu membius kaum adam dan memberikan uang mereka secara cuma-cuma hanya agar bisa dilayani oleh Alinav.
Lalu keributan terdengar. Lina menoleh ke arah sumber yang menjadi perhatian orang-orabg di bar. Seseorang dengan kemeja hitam menghampiri Lina lalu berbisik padanya.
Lina mengangguk. Ia pamit sebentar dan memberikan kode pada salah satu rekan untk menggantikannya sebentar. Mengambil tas kertas dan mengikuti kemana pria berkemeja hitam menuntunnya. Pria tersebut berhenti. Mereka berada jauh dari area bar dan terdapat satu mobil putih yang terparkir.
Gio menoleh begitu Lina membuka pintu mobil. Gadis itu masuk ke dalam dan duduk di sebelahnya. "Sedang menghindari kontroversi huh?" ledeknya.
Mata Gio memicing tak suka. "Aku tak ingin berbasa-basi, aku kesini hanya ingin mengambil mantelku."
"Padahal kamu sendiri yang meminjamkannya padaku. Aku pikir kamu berniat memberikannya."
"Awalnya begitu, tapi aku mengurungkan niat. Aku tidak ingin membuat Gea terus gelisah."
"Gea?" Lina mengingat. "Ah istrimu? Aku lupa kalau kamu sudah punya istri," lanjutnya.
Gio kembali meliriknya. Memerhatikan pakaian minim yang dikenakan Lina. Riasan wajah serta penampilannya cukup berlebihan menurutnya. Gio mengambil sesuatu dari jok belakang. Sebuah kain yang lebih tepatnya selimut ia berikan pada Lina. Menutupi paha gadis itu yang terekpos.
"Ini bukan musim panas, apa tidak dingin memakai pakaian begini?" Ujarnya bertanya.
Lina menghela nafas. "Mau bagaimana lagi? Satu-satunya uang yang bisa ku kantongi berasal dari sini."
"Berhentilah"
"Apa?"
"Kamu tidak perlu kerja disini lagi."
"Hah!?" Lina tampak terkejut dengan pernyataan Gio. Gadis itu menatap tak percaya. "Dengar, aku sangat berterima kasih karena kamu mencarikan tempat tinggal baru untukku, tetapi jangan ambil pekerjaanku juga. Aku tidak berpendidikan tinggi seperti mu dan hanya pekerjaan ini yang bisa ku tekuni sekarang."
Lina tidak ingin memperpanjang obrolan mereka. Dia menyibak selimut yang diberi oleh Gio lalu meletakkan tas kertas berisi mantel gio pada kursi.
"Ayah angkatmu pasti akan menemukanmu jika kamu masih ada disan,a" kata Gio sebelum Lina mengambil langkah keluar dari mobil.
Lina tidak peduli. Wanita itu berdiri lalu kembali je tempat ia bekerja lagi. Mengabaikan Gio yang menatapnya dari balik jendela dengan datar sampai sekretarisnya, Jefri menghampirinya.
"Bisa anda jelaskan siapa dia? Anda seperti bukan orang yang baru mengenalnya sehari," kata Jefri penasaran.
"Dia hanya teman," jawab Gio sekenanya.
✒️✒️✒️
Ponselnya berdering. Gea bergegas mengambil ponsel dari meja. Rautnya kecewa begitu mendapat nomor tak dikenal tertera pada layar. Gea mengabaikannya di awal karena ia pikir itu nomor salah sambung tapi nomor itu kembali menelponnya. Berdering cukup lama hingga Gea memutuskan untuk menerimanya.
"Halo?"
"Hai," untuk sesaat matanya mambulat mendengar suara yang sudah lama ia rindukan. "Apa kabar?" lanjutnya.
Gea tak langsung menjawab. Dia bingung memilih kata. Hingga suara itu kembali bertanya. "Masih mengingatku?"
Mulutnya tak dapat berhenti membuat senyum. Matanya berkaca-kaca. "Bian?"
"Ya, ini aku"
Jeda sejenak, "Pantas kamu tidak pernah balas chat ku."
"Maaf, aku ingin memberitahumu sejak awal karena ponselku hilang jadi aku beli baru. Beruntung aku masih ingat nomormu, syukur lah nonornya masih sama," ujarnya sedikit tertawa.
"Aku merindukan suaramu," tambah Bian yang membuat senyum di wajah Gea perlahan memudar.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Bian.
"Aku.. baik-baik saja."
Terdengar suara pintu terbuka. Gea membalikkan badan. Mengakhiri oanggilan dengan buru-buru. "Lain kali aku akan menelponmu," kata Gea sebelum ia memencet tombol merah dan meletakkan ponselnya kembali.
"Siapa?" Gio bertanya begitu Gea mendekatinya. "Itu, dia-"
"Oh ya, apa kamu sudah terima paket buah dari Jefri tadi?"
"Iya, kamu memang tau apa yang aku suka," puji Gea seraya tersenyum. Ia melihat sebuah tas kertas di tangan Gio. "Apa itu?"
"Oh, ini mantelku. Aku tidak suka melihatmu gelisah jadi aku minta pada temanku agar segera mengembalikannya."
"Sini biar ku bawa."
Gea mengambil alih tas kertas tersebut lalu membawanya sementara Gio bersiap mandi. "Akan kubuatkan teh untukmu," kata Gea saat suaminya masuk ke dalam kamar mandi dan menyahutinya ringan.
Gea mengeluarkan mantel cokelat Gio dari dalam kantong. Tersenyum kikuk mengingat ia hampir dipenuhi prasangka buruk hanya karena Gio meninggalkan mantel pada temannya. Tapi begitu mantel tersebut keluar dari kantong sesuatu ikut dan terjatuh ke lantai.
Benda kecil dengan warna perak yang membulatkan mata Gea seketika. Gea mengambil benda tersebut. Itu adalah lipstik dan tidak terlihat seperti baru dibeli.
Gea menutup mulut tak percaya. Bagaimana bisa ada lipstik yang terselip? Gio bukanlah orang yang suka menggunakan benda semacam itu dan Gea sendiri tidak punya brand lipstik yang sama. Lalu siapa pemilik lipstik ini? Apa teman yang Gio maksud seorang wanita?
✒️✒️✒️
Di lain tempat, Lina mengubrak-abrik tas nya dengan raut cemas. Barang kecil berharganya itu mendadak tak ia temukan di manapun. Wanita itu mencoba mengingat. Ketika ia hendak pergi bekerja dengan terburu-buru, tanpa sadar ia salah memasukkan lipstik nya ke dalam tas kertas bersamaan dengan mantel Gio. Sontak, Lina pun menepuk jidat.
"Bodohnya aku!"
/Halo semua!! adalah yg masih setia sama cerita ini? :') aku bingung buat alurnya kek gimana lagi.. dibanding cerita mysteri ternyata romance cukup rumit untuk bisa berkompromi dengan otakku😭/