Amour

Amour
Six



Beberapa menit kemudian, mobil Gio menuju arah Pom Bensin dan berhenti tepat di toilet umum.




Alis Gea terangkat. Ia seolah bertanya dalam hati, mengapa Gio menghentikan mobilnya disana.





Gio mengambil sesuatu di kursi belakang, sebuah tas kertas dengan isi pakaian Gea ada di dalamnya. "Bergantilah lebih dulu."




Gea terperanjat."T-Tunggu! Mengapa harus ganti segala?"




"Aku tidak ingin kita jalan dengan memakai seragam sekolah," jawab Gio seraya mengambil pakaiannya juga.




"Ayo keluar." Gio membuka pintu, diikuti Gea setelahnya. Gadis itu masih kebingungan. Bagaimana pakaian miliknya bisa ada di Gio? Apakah pria itu ke rumahnya?





"Mumpung kamu selesai ujian dan refresh otak, aku mau ajak kamu jalan-jalan. Aku udah izin sama Mama kamu, dan beliau langsung mengirimkan pakaianmu padaku. Beliau bilang seharian ini kamu harus jalan-jalan sama aku."




Mulut Gea menganga tak percaya. Gio terkekeh dan menarik tangannya. "Kamu gantilah lebih dulu. Dan jangan mencoba kabur, okey." Setelahnya mereka masuk di ruangan berbeda. Gea tak mengerti, mengapa dirinya mengikuti kemauan Gio begitu saja.




Gadis itu bahkan masih belum tahu akan kemana. Dan saat dia membuka kantung kertas yang diberikan Gio padanya, hanya ada kaos biasa dan celana. Well, Gea merasa lega, ibunya tidak memilihkan pakaian aneh untuknya.






Gea keluar dari toilet dan melihat Gio sudah ada di mobil sambil bercermin.




Gea tak habis pikir, rupanya Gio adalah orang yang narsis.




Gea melangkah menghampiri dengan membawa kantung yang berisi seragam sekolahnya.




Rambut pendeknya dibiarkan tergerai meski terlihat sedikit kusut.




Gio yang melihat bayangan Gea lewat kaca mobil, segera berbalik. Dia merebut kantung yang Gea bawa dan memasukkannya ke dalam mobil.




"Kita mau kemana?" Kesekian kali Gea bertanya. "Nanti kamu juga tau" Setelah membereskan barang, Gio mengalihkan atensinya pada Gea.




Ada yang berbeda.




Gio yang dilihat Gea sekarang bukanlah Gio yang Gea lihat beberapa menit lalu.




Pria tinggi itu membiarkan keningnya terlihat setelah sebelumnya berponi.




Dan kacamata yang sering dipakainya, juga Gio lepas. Matanya terlihat begitu jernih dan Gea baru tahu jika gurunya sangat tampan seperti ini.




"Hei, Gea." Gio melambaikan tangan di depan wajah Gea yang melamun. Gadis itu segera menggeleng dan menyadari pipinya memanas.




"Ayo pergi sebelum keburu sore."




Sekali lagi Gea menurut. Dia masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Dan hanya bisa pasrah pada Gio yang mengajaknya entah kemana.






✒️✒️✒️






Gio memberhentikan mobilnya. "Lepas sepatumu," kata nya sebelum membuka pintu dan melepas sepatunya. "Tapi kenapa?" tanya Gea penasaran.




Gio sudah selesai melepas sepatunya, lalu tersenyum. "Aku tidak mau sepatumu basah," jawabnya.




Gea mengikuti perkataannya. Sejak melihat penampilan Gio yang berbeda, ia merasa gugup. Gio sangat tampan dan Gea tidak habis pikir, pria di depannya adalah pria yang sering dikatainya pria culun.




Kaki Gea kini terlihat tanpa alas dan sebelum dia turun, Gio mendahuluinya lalu menggendong dirinya tiba-tiba.






Gea merona. "A-Apa yang Bapak lakukan? Saya bisa jalan sendiri." Gadis itu meronta ingin turun, tapi Gio tidak membiarkannya.




"Saat kita sampai di tujuan kamu boleh berlari semaumu. Tapi tidak disini."




Gio pun membawa tubuh Gea memasuki wilayah dibalik pepohonan. "Pak, turunin Gea!" Gadis itu masih berusaha melepaskan diri, sayangnya Gio tidak semudah itu meloloskan dirinya.




Gea merasakan ada sinar yang menyilaukan matanya. Gadis itu mengangkat kepala, dan melihat pemandangan sekelilingnya.




Tak mampu berkata.




Apa yang ditangkap oleh matanya begitu indah. Sebuah lautan luas, jernih, dan bercahaya.




Di sisinya terdapat tebing yang menjulang dan tumbuhan hijau yang semakin membuatnya terlihat begitu asri.




Gio menurunkan Gea diatas pasir putih. Gadis itu masih enggan memalingkan perhatiannya dari lautan.




"Ini belum terjamah oleh banyak orang. Dan aku menemukannya beberapa bulan lalu." kata Gio menjelaskan.




Gea sama sekali tak berkutik. Gio mengambil langkah lalu berjalan menghampiri laut. "Mendekatlah."




Meski ragu, Gea menghampiri Gio dan melihat air jernih lautan tersebut lebih dekat.




Merasa atensi Gea teralihkan. Gio dengan jahil menyipratkan air padanya.




Gea meringis. Sementara Gio menyipratinya berulang kali. "Hei!" Gadis itu berteriak dan membalas perbuatan Gio padanya. Mereka berlari saling kejar-kejaran hingga fajar menjelang.





Gea terduduk diatas pasir putih dengan setengah badannya yang basah. Langit keoranyean menyita perhatiannya. Sementara Gio malah masih asyik berenang disana. Baju dan celana pendeknya basah kuyup.




Gea tertawa ringan. Gio terlihat menggemaskan terlebih saat dia menyelam dan mengangkat sebuah tumbuhan hijau di kedua tangannya. "Gea ini rumput laut!" teriaknya girang.




Gea tak mengerti bagaimana Gio terlihat sangat kanak-kanak sekarang. Ptia itu semakin menyelam jauh. Gea berdiri dan menghampiri. "Pak, jangan berenang jauh-jauh!"




Sayangnya,perkataan Gea tidak Gio dengar. Gea semakin khawatir lalu berlari. "Pak, kembali!"




Kaki Gea mendekati air, namun gadis itu terdiam mengingat dirinya tak mampu berenang sementara Gio jauh dari jangkauannya.





"Gio!"




Tanpa sadar Gea menyuarakan nama Gio dengan lantang. Pria itu menoleh, tapi sedetik kemudian, dia terpeleset dan tercebur kembali di dalam air.




"Gio!" Gea tak memedulikan dirinya. Gadis itu ikut menyelam ke air hingga tinggal kepalanya yang terlihat.




Kecemasan Gea semakin menjadi-jadi. Langit mulai gelap dan ia tak melihat Gio dimanapun. Matanya menitikkan air mata ketakutan. Gea tercebur ketika air sudah mencapai wajahnya dan ia terkejut merasakan seseorang memegang pinggangnya lalu mengangkatnya ke permukaan.




Mata Gea terasa pedih, tapi dia masih bisa melihat jelas seseorang yang mengangkat tubuhnya. Gio mengulas senyum. "Harusnya kamu tidak perlu ikut menyelam."




Wajah Gea memerah dan kesal. Dia merasa dipermainkan oleh Gio. Pria itu sengaja membuat dirinya dilanda kekhawatiran, dan dengan santainya Gio malah tertawa.





"Tidak lucu!" seru Gea emosi.




Gio hanya terbahak-bahak atas kelakuannya.




"Aku senang kamu mencemaskanku."