
"Tidur denganmu?"
Gio membelalakkan matanya. Samuel baru saja mengucapkan pertanyaan tak masuk akal baginya.
"Ya, tidur denganku. Kamu mau kan?" tanya Samuel.
Gio memijat pangkal hidung sementara Mary kebingungan akan mereka berdua. "Sam, kita kan sudah besar. Lagipula, kita sama-sama dewasa. Alangkah lebih baik tidurnya terpisah," jawab Gio.
Samuel memanyunkan bibir. Menoleh ke arah Mary sambil berpose memelas. "Bibi, Sammy mau tidur bareng Gio," adunya.
Mary terkekeh. "Turuti saja kemauannya, kamu kan juga sudah lama tidak tidur dirumah ini."
"Tapi bu-"
Gio menatap Samuel lagi sebelum mengambil keputusan. Dia menghela nafas. "Ah, baiklah. Terserah."
"Yeay!"
Sesungguhnya Gio lelah berdebat. Samuel berteriak kegirangan seperti anak kecil yang mendapat hadiah.
Mereka berdua pun mengucapkan selamat malam pada Mary sebelum beranjak tidur.
"Ah, nyamannya.." Samuel meloncat ke atas kasur empuk milik Gio.
"Sudah lama aku tidak tidur disini," Gio bergumam sambil memencet tombol lampu. "Syukurlah, semuanya masih terawat dengan baik," tambahnya.
"Tapi aku penasaran dengan tempat tinggalmu. Bolehkah aku mampir kesana, besok?"
"Tentu. Kamu bisa mampir kapanpun kamu mau," jawab Gio seraya membuka kancing kemejanya dan hendak berganti pakaian biasa.
Samuel mendekat. Menyentuh perut kotak-kotak Gio dari belakang hingga membuat saudara sepupunya tersebut tersentak kaget karena kelakuannya.
"A-Apa yang kamu lakukan?" tanya Gio dan reflek menjaga jarak dari Samuel.
"Aku hanya memeriksa berapa kotak yang kamu punya, tak kusangka ada banyak. Kamu pasti rajin nge gym ya?"
Gio menelan ludah. Pikirannya mulai buruk dan ia merasa sedikit ketakutan. "A-Aku hanya nge gym jika ada waktu," sahutnya dan buru-buru memakai pakaian.
Samuel mengangguk. Dia beralih ke koper dan mengobrak-abrik isinya. Gio memerhatikan dari jauh. Sepupunya itu mengeluarkan pouch kecil yang berisi berbagai macam produk.
Alis Gio mengerut bingung melihat Samuel mengambil salah satu produk yang diusapkannya pada wajah.
"Apa yang kamu pakai?" tanya Gio.
"Oh, ini micellar water. Sebelum tidur, aku harus menghapus kotoran di wajahku dulu."
Gio tidak merespon jauh. Dia bahkan bisa melihat liptint dan lipbalm di pouch kecil milik Samuel.
"Sekarang, kamu doyan begituan ya?"
Samuel tersenyum. "Mau bagaimana lagi, mempunyai ibu keturunan Korea sering membuatku kewalahan. Sejak tamat SMA, ibu sering mendesakku memakai skincare dan perawatan lainnya. Beliau bilang, aku harus pandai menjaga kulitku biar tidak rusak."
"Aku tidak mempermasalahkan skincarenya. Tapi kamu juga memakai liptint?"
Samuel mengedipkan mata. "Ah, ya. Ini salah satu make up yang aku punya. Kamu mau mencobanya?"
Gio menggoyangkan tangan. "Tidak, terima kasih." Pria itu mengambil handuk dan pasta gigi. "Aku akan mandi dulu."
Samuel yang mendengarnya langsung menolehkan kepala. "Tunggu aku!"
Gio menatap tak mengerti.
"Kita bisa mandi bersama setelah ini."
Mata Gio membulat dan segera berlari ke arah kamar mandi lalu menguncinya rapat setelah Samuel mengatakan keinginannya.
"Loh Gio! Kok dikunci sih? Aku kan mau mandi bersamamu."
"Mandi saja sendiri bangsat!" teriak Gio keras yang membuat Samuel terkejut karena umpatannya.
"Kamu malu ya, mandi bersamaku? Padahal waktu kecil kan kita sering mandi bareng. Kamu bahkan menggosok badanku waktu itu," Samuel mulai menggoda.
"Shut up, F*ck!"
Sungguh, Samuel sampai meledakkan tawa hanya karena puas membuat Gio marah dan mengumpat padanya.
✒️✒️✒️
Gio memandangi foto Gea yang tertidur. Mungkin ini terlihat tidak sopan karena Gio mengambil gambarnya ketika gadis itu menutup mata. Pipi Gio bersemburat merah, hanya karena foto, dia begitu tergila-gila.
"Mungkin aku sudah tidak waras setelah bertemu dengannya," gumam Gio tertawa ringan.
Pintu kamar mandi terbuka. Samuel keluar hanya dengan memakai handuk saja. "Keterlaluan, kamu mandi lebih dulu," gerutunya sambil berganti pakaian.
Merasa diabaikan, Samuel menoleh dan melihat Gio menutup badannya menggunakan selimut. Pria itu mulai berpikir licik. Setelah selesai mengganti pakaian, Samuel meloncat ke atas tempat tidur dan memeluk Gio.
"Hei, apa yang kamu lakukan!?" teriak Gio keluar dari persembunyiannya.
"Melepas rindu," jawab Samuel singkat.
"Kamu-"
Tak memerdulikan ocehan Gio, Samuel malah semakin memeluk erat tubuhnya hingga Gio merasa risih karenanya.
Cklek!
Kedua mata pria yang bertengkar itu teralihkan pada seseorang yang membuka pintu kamar.
Hendry terkejut melihat adegan putra dan keponakannya. Hendry menelan ludah dan menarik kenok pintu kembali.
"Maaf, sudah mengganggu kalian," ucap Hendry sebelum pintu tertutup rapat.
"Ayah, ini bukan seperti yang ayah pikirkan!"teriak Gio masih berusaha lepas dari pelukan Samuel yang membelenggunya.
"Sepertinya, aku datang disaat yang tidak tepat" gumam Hendry berjalan menjauh dari kamar putranya sendiri.
✒️✒️✒️
Pagi harinya..
"Enak sekali Bi. Boleh aku nambah lagi?" Samuel begitu antusias melahap masakan Mary yang lezat, sementara Gio terlihat tidak baik. Wajahnya letih dengan kantung hitam menghiasi kedua matanya.
"Gio, kamu baik-baik saja?" tanya Mary khawatir.
"Dia terjaga semalaman, Bi. Padahal aku sudah menyuruhnya tidur disampingku, tapi Gio lebih memilih duduk di sofa hanya untuk mengawasiku sampai aku terlelap," sahut Samuel mengambil sesendok nasi.
"Itu karena kamu menakutkan, bodoh!" balas Gio kesal.
Mary tersentak. Ini pertama kalinya dia mendengar Gio mengumpat.
"Tuh kan, Bi.. Dari semalam, dia terus menerus mengumpatiku. Aku kan tidak melakukan apapun," adu Samuel.
Gio semakin kesal hanya karena tampang Samuel yang sok polos di depan ibunya.
Hendry menutup koran. Sedari tadi, dia hanya diam mendengar perdebatan mereka. "Aku pergi dulu," pamitnya dan beranjak dari kursi.
"Mengapa buru-buru? Aku baru saja ketemu paman," Samuel merajuk.
"Ada kecelakaan subuh tadi, dan aku harus melakukan otopsi sesegera mungkin," jawab Hendry seraya menerima kotak bekal dari Mary.
"Hati-hati." Mary mengecup ringan Hendry sebelum suaminya berangkat.
Hendry menoleh sekilas ke arah Samuel yang masih memasang ekspresi sedih. Pria itu menyentuh kepala Samuel.
"Kita bisa mengobrol lebih lama lagi setelah aku selesai nanti."
"Tapi kapan?"
"Secepatnya, lagipula aku tidak bakal pulang selarut kemarin sepertinya."
Mendengarnya, Samuel pun tersenyum."Baguslah kalau begitu."
Gio memerhatikan mereka berdua. Sedikit rasa iri mulai meracuni dirinya. Gio bahkan tidak ingat kapan dirinya sedekat itu dengan ayahnya sendiri.
✒️✒️✒️
Samuel memasuki mobil. Dia menatap Gio yang tengah membersihkan kacamata sebelum mereka berangkat.
"Apa minusmu semakin parah?" tanya Samuel cemas.
"Untuk sekarang masih belum. Bulan kemarin aku sudah memeriksakannya dan tidak bertambah banyak," jawab Gio seraya memakai kacamatanya.
"Mengapa kamu tidak operasi lasik saja? Dengan begitu kamu tidak perlu susah payah memakai kacamata."
"Entahlah,aku masih belum siap akan hal itu. Aku takut dengan operasi."
Samuel mendekatkan wajah. Melihat bola mata jernih milik Gio yang tampak indah.
"Mengapa kamu selalu tampan?"
Pertanyaan konyol Samuel mengagetkan Gio. Dia mendorong sepupunya itu agar memberi jarak diantara mereka.
"J-Jangan dekat-dekat Sam! Aku takut dinodai olehmu," ungkap Gio jujur.
Samuel tertawa melihat wajah ketakutan Gio padanya.
"Kamu tau? Di Thailand juga banyak pria tampan tapi kupikir mereka semua tidak ada yang mempesona sepertimu. Bahkan sekretaris ku, Justin tampangnya biasa saja."
"Kamu curhat padaku?"
Wajah Samuel memerah karena malu. "Tidak!" tegasnya. "Sudah ah, kita mau kemana?"
"Ke kantor. Aku harus bertemu Jefri lebih dulu"
Samuel cemberut. "Tidak bisakah kita ke tempat lain? Lagipula sekretarismu itu kan bisa bicara lewat telepon," gerutu Samuel.
"Tidak bisa. Ini masalah penting dan berkaitan dengan keberangkatanku ke Amerika. Tunggulah sebentar baru setelah itu aku menuruti kemauanmu."
Samuel tidak menyanggah lagi. Dia mengangguk meski berat hati.
'Si Jefri itu mengganggu saja,' batin Samuel sakit hati.