
Gea baru saja memasukkan alat tulisnya ke dalam tas, sebelum salah satu temannya menghampiri. "Kamu dipanggil Pak Gio."
Gea mendesah. Dia mengangkat tas ranselnya dan pergi menuju pintu. Diluar, Gio memandangnya dengan senyuman. Gea melirik temannya yang lain lalu memasang wajah jutek ke arah Gio Ferraldo.
"Ikut saya." Gio segera menggandeng tangan Gea tanpa aba-aba terlebih dulu. Para siswa memerhatikan mereka dan membuat wajah Gea bersemu karena malu.
'Mengapa digandeng begini saja, aku deg-degan?'
Mungkin karena Gea tidak pernah dekat dengan lelaki selain Bian. Setidaknya hanya kalimat itu yang menjadi pikiran positifnya kali ini.
Gea tidak tahu bakal diajak kemana, tapi Gio tiba-tiba membukakan pintu mobil dan menyuruhnya untuk masuk.
"Bapak mau nyulik saya?"
"Iya bapak mau nyulik, jadi cepat masuk."
Gea menggeleng. "Gak, saya mau pulang."
"Saya antar, jadi masuklah." Gio masih menyahut dengan wajah penuh senyum.
"Kalau kamu gak buruan masuk, saya bakal gendong kamu dan melemparmu ke dalam," tambah Gio mulai mengancam.
Meski ragu, pada akhirnya Gea pun masuk ke dalam mobil. Gio tak mau mengatakan kemana mereka pergi tapi setidaknya dia sudah bilang bakal mengantar Gea pulang.
Kalaupun Gio tidak melakukannya, maka Gea bisa menjadikan penculikan ini sebagai alasan agar perjodohan mereka gagal.
Sementara itu, Bian mencari ke segala ruangan. Tidak ada keberadaan Gea dimanapun. Kelas untuk mereka melaksanakan ujian memang berbeda karena jumlah siswa dibagi untuk dua kelas. Bian melihat Dinda dan bertanya padanya.
"Kamu lihat Gea?"
"Oh, tadi Pak Gio memanggilnya dan membawanya pergi."
"Kemana?"
Dinda mengangkat bahu. "Tidak tau."
Bian terdiam. Sejauh ini, dia memang merasa ada keanehan antara Pak Gio dengan Gea. Entah ini hanya karena feelingnya kuat atau Bian cuma asal menebak.
Tatapan Pak Gio ke Gea itu berbeda.
Dan Bian sudah merasakannya sejak Pak Gio pertama kali mengajar kelas 2 tahun lalu.
✒️✒️✒️
Gio tertawa melihat Gea berteriak di dalam mobilnya. Gadis itu begitu marah dan kesal ketika mobil Gio tidak berbelok ke arah perumahannya.
"Sebenarnya Bapak mau bawa saya kemana?" Gea bertanya lagi dengan wajah cemberut.
"Kita sudah tidak ada di lingkungan sekolah, jadi kamu tidak perlu memanggilku seperti itu. Lagipula dengan wajah mudaku ini apa pantas kamu panggil Bapak?"
Mendengar perkataan Gio, Gea merasa geli. "Lagian nanti juga bakal jadi Bapak." balasnya.
"Bapak dari anak kita."
Wajah Gea memerah dan Gio tertawa. "Ini gak lucu!" ketus Gea semakin kesal.
"Habisnya, tiap ketemu aku, kamu sering masang muka jutek. Padahal aku gak ngapa-ngapain."
"Aku begini karena aku marah. Semenjak tau Papa dan Mama mau jodohin aku."
"Jadi kamu tidak setuju kita di jodohkan?" Gio membalas dengan kedua mata terfokus pada jalanan. Gea menggigit bibir, tapi dia tidak merasa kaku untuk menjawab. "Tidak."
Setelahnya, Gio tidak bicara. Gea pikir, mungkin pria itu tersakiti dengan perkataannya. Meski begitu, Gea tidak bisa menutupi suara hatinya yang memang menolak perjodohan ini.
"Aku juga."
Gea mendongak. Dia melirik Gio yang tengah menyetir."Awalnya aku juga tidak mau dijodohkan, tapi saat tau bahwa gadis yang akan dijodohkan ke aku adalah kamu, aku tidak menolak."
Gea mengedipkan mata. Ketika lampu merah, Gio menoleh padanya. Wajah tampan itu senantiasa tersenyum setiap waktu. Kedua mata cokelat dibalik kacamata nya bersinar saat Gea hanya memfokuskan pandangan ke arahnya.
"Aku merasa beruntung yang dijodohkan denganku adalah kamu dan bukan orang lain," tambah Gio lalu beralih pada jalanan karena lampu lalu pintas sudah menyala hijau.
Gea masih mencerna ucapannya. Gadis itu cukup terkejut mendengar apa yang Gio katakan barusan.
Pria itu sama sekali tidak keberatan.
Pria itu bersyukur karena yang dijodohkan dengannya adalah Gea dan bukan orang lain.
Apakah Gio menyukainya?
Gea memandang Gio sekali lagi. Jika persepsi nya benar bahwa Gio menyukai dirinya, itu berarti perjodohan ini akan sulit Gea hadapi.
Bahkan Chesi yang notabenenya adalah sahabat Gea sendiri justru mendukung dan menyemangati.
Hanya satu orang yang belum mengetahui tentang apa yang Gea alami.
Bian.
Tapi, apakah Bian akan mendukung Gea, ataukah dia bakal mendukung perjodohan Gea sama seperti Chesi?