
"Gak kusangka bakal ketemu kamu di UI?" Vera tersenyum lebar dan merangkul Gea ketika mereka bertemu saat ospek. "Sayangnya aku telat ketemu kamu, padahal hari ini terakhir ospek," lanjutnya sedih.
Gea tertawa canggung,sejujurnya dia tidak terlalu dekat dengan Vera. Mengetahui gadis cantik tersebut menyapa serta merangkul dirinya seperti ini membuatnya sedikit aneh.
"Oh ya, kamu di UI sendirian? Bian mana? Biasanya selalu bareng Bian," tanya Vera.
"Dia kuliah di Jerman. Lagipula aku sama Bian sudah besar, tidak akan selalu bersama," jawab Gea.
"Sayang sekali ya.. karena kamu selalu dekat dengan Bian, aku pikir kalian ada hubungan."
Selanjutnya Gea tidak merespon. Baik Vera maupun temannya yang lain juga begitu. Bagaimanapun Bian memang terlalu dekat dengan Gea hingga banyak yang mengira mereka pacaran, padahal sesungguhnya bukan.
Vera merupakan teman SMP Gea yang suka menggosip bersama teman gengnya dulu. Gea harus berhati-hati terhadap nya atau dia akan menyebarkan hal yang tidak-tidak nantinya.
"Kamu sendiri? Sendirian juga di UI?" Giliran Gea bertanya.
Vera melebarkan senyum. "Tentu tidak. Kan ada kamu."
Waktu break sudah berakhir. Para peserta ospek kembali ke kepompok masing-masing. Begitupula dengan Vera. Gea merasa beruntung tidak satu kelompok dengannya. Dengan begitu pertekuannya bersama Vera tidaklah lama.
Masih ada satu hal yang Gea takutkan.
Yaitu sekelas dengan Veranda.
Sebagai penutupan ospek, kampus mengadakan acara api unggun bersama para peserta ospek. Sudah sekitar tiga hari Gea menjalani ospek sejak pernikahannya selesai. Awalnya Gea jadi ragu akan mengambil kuliah atau tidak, tapi melihat Gio yang statusnya adalah sarjana kedokteran, membuat Gea tidak ingin kalah. Dia tidak mau dipandang rendah saat bersanding dengan Gio. Oleh karenanya dia akan berjuang agar bisa mendapat gelar sarjana secepatnya.
Api unggun dilaksanakan hingga larut malam. Ketika pulang, banyak yang menunggu di depan gerbang. Bahkan disaat waktu Gio sibuk, suaminya itu bersedia menjemput. Tentu hal ini sedikit membuat Gea terharu.
"Eh,Gea sudah dijemput?"
Suara Vera menginterupsi. Gea menghentikan langkah. "Iya dia sudah di depan"
"Maksudmu lelaki tampan disana? Ah, yang benar.. Masa sih lelaki tampan begitu yang jemput kamu."
Gea menghembuskan nafas. "Aku pulang dulu ya," pamitnya segera.
Vera membeku. Gea melangkah mendahuluinya menuju Gio. Dia tidak ingin suaminya terus menerus dilihat oleh para peserta ospek yang lainnya.
"Ayo pulang," kata Gea dingin.
"Eh, kamu gak nawarin teman kamu buat pulang bareng?"
"Siapa?" Gea menoleh menatap seseorang yang dimaksud Veranda.
"Tidak, lagipula kami tidak dekat"
Mendengar perkataan Gea yang dingin, membuat Gio berkesimpulan jika istrinya sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
Gio pun membukakan pintu mobil untuk Gea dan bersiap pergi. Meninggalkan Vera yang menatap mereka tanpa henti.
"Enak banget sih jadi Gea, dari dulu yang deketin dia cowok tampan mulu. Berduit lagi.. huh" Vera menggerutu sebal.
✒️✒️✒️
Gea tidak banyak bicara sampai di apartemen. Gea langsung masuk dan melepas pakaian, mengabaikan Gio yang memandangnya heran. Lagipula hubungan mereka sudah sah, jadi hal seperti ini sudah wajar.
"Kamu ada masalah dengan teman kamu? Gio memberanikan diri bertanya.
"Lebih baik kamu tidak perlu tau. Kamu sudah mandi?"
"Sudah, aku mandi di kantor sebelum pergi menjemputmu."
"Kalau begitu aku mandi dulu."
Gea pergi. Ini sudah seminggu setelah pernikahan mereka, tapi baik Gio maupun Gea masih belum dapat menikmati waktu berdua bersama.
Beberapa menit kemudian, Gea keluar dengan kondisi rambut masih basah. Gadis itu masih mengenakan kimono mandinya saja.
Gio bersemu. Sejujurnya dia masih gugup semenjak mereka sudah menikah. "Gio bolehkah aku menjadi jahat?"
"Eh?"
Pertanyaan tak masuk akal Gea dipandang bingung oleh Gio. "Aku ingin jadi jahat agar tidak ada siapapun yang merebutmu" lanjut Gea merangkak ke kasur. Mendekati Gio yang sekuat tenaga sedang menahan nafsu.
"Gea aku tidak ingin membuatmu kelelahan."
"Kelelahan? Dalam hal apa?" Gea menatap polos.
"Ah, lupakan. Kamu tidak capek? Masa kamu tidur pake kimono begitu?"
"Tidak boleh ya?" Wajah Gea memerah. "Kamu tidak ingin menciumku?" Demi apapun, Gea memang pintar membuatnya kepanasan. "Gea jangan memaksaku" Gio mendekatkan diri begitu pula dengan Gea.
"Tetapi jika kamu mau, kita bisa melakukannya."
Sekarang Gio seperti pria brengsek. Beruntung mereka sudah menikah, jadi hal begini adalah hal yang sah.
Gio menggigit bibir Gea, membawanya pada ciuman yang dalam. Meraba area intimnya dan membuat Gea mendesah kecil lalu mencium tengkuk lehernya dan membuat tanda disana.
Gea tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
Rasanya menyenangkan.
Dan memabukkan.
"Kita jangan buat anak dulu, aku tidak mau membuatmu kewalahan dihari pertamamu kuliah" kata Gio yang diangguki Gea.
"Gio, darimana kamu belajar beginian? Apa kamu suka liat porno?" tanya Gea polos, hampir meledakkan tawa Gio.
"Aku bisa begini bukan berarti aku suka liat pornografi. Ini sudah alami dari hasratku. Aku melakukannya tanpa sadar."
"Bohong," cetus Gea tidak percaya.
✒️✒️✒️
Alvan terheran dengan Mia yang mendekatkan telinga ke arah tembok sambil memegangi perutnya. Pria itu tidak habis pikir, "Kamu mau bayi kita mendengar suara pasangan yang sedang bercinta?" cetus Alvan yang mengagetkan Mia.
"Eh, bukan begitu," wajah Mia memerah. "A-Aku hanya khawatir dengan adikku," elaknya.
"Khawatir atau penasaran?"
Agak lama Mia menjawab kemudian dia menyengir. "Hehe, dua-duanya" jawabnya tanpa dosa.
Alvan menggelengkan kepala. Dia membaringkan diri diatas kasur. "Tentu mereka akan melakukan apa yang kita dulu lakukan. Mereka belum sempat menikmati malam pertama, jadi lebih baik kita tidak mengganggunya."
Nasihat Alvan ditanggap sinis oleh Mia. " Sejak kapan kamu bijak begini?"
"Dari dulu dong sayang, aku kan selalu bijak."
"Bijak dalam merayu wanita."
"Astaga sayangku!" Alvan menarik Mia ke dalam pelukan. "Meskipun begitu, jika tanpa rayuanku, kamu tidak jatuh hati padaku."
"Tanpa rayuanmu aku sudah jatuh hati kok. Karena kamu satu-satunya lelaki yang mau mendekati cewek gendut dan dekil seperti ku."
Kalimat Mia tidaklah membuat Alvan merasa senang. "Tampilan fisik bukan segalanya. Kamu bersinar meski dengan tampilan apa adanya."
Sekali lagi Mia terpana, namun detik berikutnya dia memegangi perutnya. "Baby, jangan dengarkan kata gombal dari ayah. Itu cuma bualan," bisik Mia tertawa ringan.
"Mia.." Alvan cemberut meski pipinya bersemu.
✒️✒️✒️
Pagi harinya..
Gio dan Gea keluar dari kamar apartemen bersamaan dengan Alvan dan Mia. "Kalian mau pergi?" tanya Alvan.
"Iya, mau berbelanja kebutuhan kuliah untuk Gea. Kakak sendiri?" Giliran Gio bertanya.
"Periksa kandungan."
Mia menatap khawatir, matanya hanya fokus pada Gea.
"Gea kamu pucat" katanya tiba-tiba. "Apa Gio terlalu keras padamu?"
Sontak Alvan dan Gio tersedak ludah seketika. Sedangkan Gea membalas dengan pandangan bingung.
"Maksud kakak? Keras bagaimana?"
"Oh, bukan apa-apa Gea. Kakakmu hanya mengigau, maklum hamil muda" Alvan menyela cepat. "Kalau begitu kami pergi dulu ya" selanjutnya pria tersebut menggandeng Mia dan berjalan pergi menuju lift.
✒️✒️✒️
At Book store,
"Buku sudah, bolpoin sudah, penggaris, kalkulator, kertas pembatas sudah." Gio mengecek satu-satu barang yang sudah kereka beli. Gea hanya berdiri disampingnya. Ia tidak melakukan apapun karena Gio yang mengambilkan semua perlengkapannya.
Mereka menuju kasir. Gio menyerahkan barang yang sudah dibeli agar dicek oleh karyawati disana. Karyawati tersebut tidak bisa mengalihkan pandangan pada sosok Gio. Dengan lancang, tangannya menyentuh pergelangan tangan Gio ketika menerima barang yang mereka beli. Gea yang melihatnya, tentu tidak baik-baik saja. Dia menarik Gio mundur ke belakang dan mengganti posisinya agar Gea berada di depan. Menatap tajam sang karyawati seolah mengatakan 'Jangan tatap suamiku!'
Namun kenyataannya memiliki seorang Gio Ferraldo memang penuh perjuangan. Semenjak dia tidak memakai kacamata, banyak sekali pasang mata tertuju ke arahnya lebih dari saat mereka belum menikah dulu. Apakan ini salah satu cobaan yang diterima oleh pengantin baru? Gea tidak mengerti.
Mereka sudah selesai berbelanja. Suasana hati Gea masih buruk. Gio ingin memperbaikinya dengan mengajaknya makan malam.
Mereka berhenti di salah satu restoran. Gio memesan makanan sementara Gea melamun entah karena apa. Gio mengulas senyum, "Aku pernah mencoba makan disini, dan burgernya enak. Kamu pasti suka," kata Gio memulai pembicaraan.
"Iya, aku tau. Bian sudah pernah mengajakku kesini."
Tanpa sadar Gea membahas tentang Bian di depan Gio.
"B-Begitu ya?" Gio merespon dengan terbata. Gea merasa tidak enak. Sekarang mereka jadi canggung, sampai akhirnya pesanannya datang.
"Aku tidak bermaksud mengatakannya," ucap Gea.
Gio mengukir senyum tipis. "Tidak apa."
Gea menempelkan tangannya pada pipi Gio dengan lembut. "Aku hanya mencintaimu, percayalah."
Gio menggenggam tangan Gea hangat. "Tanpa kamu mengatakannya, aku sudah percaya. Sekarang mari kita makan" Gio mengalihkan pembicaraan dan membalikkan keadaan.
"Gio?" Salah seorang wanita yang merupakan pelayan disana mendekat. Memandang terkejut sosok Gio yang sedang ada di dalam restoran. "Astaga ini benar kamu! Apa kaku ingat aku? Isabel, kita pernah satu kelas waktu sekolah dasar," jelasnya menggebu-gebu.
"Oh ya, lama tidak bertemu." Gio mengumbar senyum manis.
"Kamu semakin tampan saja. Dulu tampan sekarang malah makin tampan." wanita bernama Isabel itu tertawa. Gea melihat mereka berdua. Tenggorokannya jadi gatal dan ingin batuk. Gadis itu berdeham yang mengalihkan pandangan mereka berdua.
"Dia siapa? Adikmu?"
"Ehm, bukan.."
"Aku istrinya," sela Gea cepat sembari memperlihatkan cincin yang tersemat pada jari manisnya.
"Oh" hanya respon singkat yang diberikan Isabel dan itu membuat Gea sebal.
Sekali lagi Gea harus sabar karena ini adalah salah satu ujian yang Tuhan berikan.
Hai teman-teman. Minggu ini telat update dikarenakan ada uts, mohon maaf sebesar-besarnya.
Ngomong-ngomong, author masih dalam tahap belajar menulis, jadi harap maklum kalau bahasanya acak-acakan atau sulit dipahami ya 🤗😂
See u all in next chapter 💙♥️💙