Amour

Amour
Twelve



Chesi berjalan penuh percaya diri di koridor. Gadis tersebut jadi perhatian banyak orang terlebih ruang yang ditujunya merupakan ruang direktur perusahaan.




"Kak Gio!" serunya.




"Aku bisa mendengarnya, Chesi."




Gadis itu tertawa. Gio mengode Jefri agar meninggalkan mereka. Jefri pun pamit undur diri dari ruangan agar Gio lebih nyaman bicara dengan adik sepupunya.





"Mau menemaniku sebentar?"




"Kemana?"





Chesi mendekat ke arah Gio. Dia merangkul Gio dari belakang. "Besok aku bakal kembali."




"Ya,aku sudah tau itu."




Merasa tak dipedulikan, gadis itu menggerutu. "Jadi kakak mau kan nemenin aku?"




"Kemana dulu?"




"Suatu tempat." Chesi melebarkan lengkungan di bibirnya "Aku akan memberitahu kakak nanti. Ngomong-ngomong aku harus mengajak Gea juga."




Mendengar nama Gea, Gio pun antusias. "Aku akan senang jika Gea ikut," katanya dan ditatap datar oleh Chesi.




"Kalau tentang Gea aja langsung setuju tanpa pikir panjang," sindirnya.




Chesi pun mengambil ponsel dan mencoba menghubingi Gea. Alis gadis itu berkerut ketika panggilannya tidak dijawab berulang kali.




"Aneh.. Mungkin Gea sedang sibuk."






✒️✒️✒️






Gea tak henti-hentinya bersorak senang ketika memasuki Aquarium. Matanya berbinar memandang berbagai macam makhluk air disana. "Bian, lihat!"




Gea memang sering pergi ke Aquarium bersama keluarganya tapi gadis itu tidak pernah bosan. Gadis itu berlari kesana kemari seperti anak kecil. Bian tertawa geli.




"Kamu sungguh menikmatinya ya?"




"Tentu saja! Aku senang kita kesini"




"Oh ya?"




Bian mendekat. Mensejajarkan tubuhnya dengan Gea yang sibuk melihat ikan. "Kamu lebih senang pergi ke Aquarium daripada pergi bersamaku ya?"




"Hah?" Gea tak mengerti apa yang Bian maksudkan. Pria itu mengulas senyum. Untuk beberapa detik kedua bola mata mereka saling beradu.




"Lupakan." Bian mengehla nafas. Sudah jadi kebiasaan otak Gea loading terlalu lama. "Oh ya!" tiba-tiba Gea berseru dan menarik tangan Bian menuju suatu tempat.




Mereka berdua berhenti. Bian menatap papan nama sebuah hewan darat yang ditunjukkan oleh Gea. 'Kecoa Madagascar' sontak tubuh Bian merinding sejadi-jadinya.




"Bian, bukankah ini menggemaskan?" Gea berniat menujukkan kecoa madagascar pda Bian, sayangnya lelaki itu tidak nampak dimanapun.


"Loh, Bian?" 




Gea mengembalikan hewan tersebut dan mencari Bian yang mendadak hilang. "Bian?"




Telapak tangan kurus itu menutup mata Gea. Gadis itu berbalik melihat Bian sudah ada disampingnya lagi. "Kemana kamu tadi?" tanyanya.




"A-Aku di sekitaran sini kok," elak Bian tertawa garing. "Oh, aku mau nunjukin kamu sesuatu."




Sebelum Gea menyeret Bian lebih jauh, Bian mencoba mengalihkan atensi Gea."Gea, kamu mau memegang ikan pari?" tawarnya.




"Mau, tapi nanti. Kamu harus lihat ini dulu."




"Eh, Gea. Daripada kecoa, gimana kalau kita pegang patrick star."




Gea terdiam. Bian tampak kebingungan. Lelaki itu menelan ludah dan Gea akhirnya memahami situasinya.







"Hah? Aku? Takut? A-Aku kan pria sejati, mana mungkin aku takut sama kecoa"




"Bian, kecoanya terbang di belakangmu tuh!"




Gea hanya menjahili Bian waktu itu, tapi Bian menganggapnya serius dan langsung memeluk Gea takut.




Degupan keras itu Gea rasakan. Bian rupanya benar-benar ketakutan. Lelaki itu tak mau melepas pelukan kecuali Gea mengatakan kalau itu hanya gurauan.





"Hehe, maaf.. Aku cuma bercanda." Bian pun menoyor kepala Gea. Wajahnya merah karena malu. "Kamu sengaja ya, biar aku meluk kamu."




"Idiih.. Pede sekali. Lagian kamu aja yang pura-pura takut kecoa biar bisa modus ke aku."




"Enak aja kalau bilang. Buat apa aku mencari alasan untuk modusin kamu?"




"Siapa tau kan? Lagipula sikapmu akhir-akhir ini berbeda."




Bian mengangkat alis. "Berbeda bagaimana?"




Gea memutar bola matanya. Gadis itu terdiam karena berpikir. Bian mengulas senyum tipis. Dia mengambil satu langkah lebih dekat kearah Gea.




Kali ini Bian berhasil mengarahkan mata Gea padanya. Lelaki itu bersemu.




"Apa?" Gea bertanya.






"Hari ini, aku ingin menyatakan perasaanku."




Gea mengedipkan mata. "Oh ya? Pada siapa?" Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari seseorang yang mungkin dimaksud oleh Bian.




Bian tertawa melihat tingkah Gea. Kedua tangan lelaki itu memegang kedua pipi Gea. "Kamu memang bodoh ya, soal beginian."




Gea memasang wajah cemberut. "perkataanmu menjengkelkan sekali Bian Michaelis."




"Abisnya yang kamu lakukan itu sia-sia." Bian semakin memperdalam tatapannya pada Gea. Atmosfir mereka terasa lebih hangat sekarang. Ikan di Aquarium seolah menjadi saksi ketika Bian mengucap sepatah kata.




Mata Gea membulat. Jantungnya mulai terasa aneh. Wajah Bian masih memerah. Gea tidak pernah melihat Bian seserius ini memandangnya.





"Karena orang yang aku maksud sedang berdiri di hadapanku."




Tepat Bian selesai berkata, dua orang dari kejauhan melihat mereka berdua.




Gio terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tanpa sadar pria itu menarik lengan Gea menjauh.




Bian terperanjat. Di depannya berdiri seorang pria yang memasang tatapan tajam ke arahnya.




"Pak Gio?"




Sementara dibalik tubuh Gio seorang gadis terdiam di tempatnya berpijak. Gadis berambut panjang itu mencoba mendekat perlahan. Ia mengulas senyum paksa.




"Bian, Gea.. A-Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini"




Bian mengalihkan pandangan. Sikap kaku antara Bian dan Chesi membuat suasana terasa menegang. Gea merasakan cengkeraman kuat dari Gio. Gadis itu mulai meringis kesakitan.




Gio menyadari. Pria itu merenggangkan cengkeramannya. Kali ini tatapannya melembut.




"Gea, kamu ikut aku sekarang ya?"




Gea belum menjawab tapi Gio sudah menariknya pergi dari sana. Gadis itu menoleh ke arah lelaki di belakang, dan Bian hendak menyusul tapi Chesi menghentikannya.




"Bisakah kamu disini sebentar? Kita perlu bicara."




Mata Chesi berkaca-kaca. Bian tidak tega. Lelaki itu pun tidak melanjutkan langkahnya dan berdiri di depan Chesi.






"Bian.. Apa kamu membenciku?"