
Bian menghentikan motornya di depan gerbang rumah Gea. Gadis itu menyandarkan kepala pada punggung Bian sambil merapatkan jaket yang diberikan Bian ke tubuhnya.
Gea turun dengan hati-hati. Bian mengikutinya lalu merapikan rambut Gea yang berantakan. "Kamu yakin baik-baik saja?"
Gea mengangguk."Aku hanya terkejut saja."
Bian memerhatikan kaki Gea yang tidak mengenakan alas kaki. Lelaki itu merasa bersalah karena baru menyadarinya. Ia mengambil sesuatu di jok motornya dan memberinya untuk Gea.
"Bian?"
"Tidak apa, pakai saja."
Bian berjongkok dan membersihkan kaki Gea lalu memasangkan sandal agar kaki Gea tidak terluka.
"Kamu tidak perlu melakukannya, aku kan sudah dirumah."
"Aku hanya merasa tidak tega melihat kakimu menginjak jalanan. Anggap ini sebagai ganti higheelsmu yang patah tadi."
"Aku memang tidak ahli memakai higheels ya?"
Bian tertawa. "Lagipula, akhir-akhir ini kamu terlihat sedikit feminim. Tidak seperti biasanya. Sedang suka seseorang ya?"
Pipi Gea bersemu lalu memukul Bian. "Memang salah ya kalau aku merubah penampilanku jadi feminim?"
Bian tampak menimang-nimang kemudian menjawab perkataan Gea jujur."Sebenarnya, aku tidak menyukainya."
"Kenapa?"
"Nanti banyak yang suka ke kamu."
Gea tersedak. Ia kaget Bian mengatakan hal yang tidak pernah Gea bayangkan.
Melihat tingkah Gea seperti itu, Bian tertawa lagi. Gea salah tingkah dan Bian baru pertama kali melihat temannya bersikap begini.
Gea memang wanita. Setomboy apa dirinya, dia tetap memiliki hati yang lembut.
Bian jadi ingat ketika berada di Sekolah Dasar, Gea adalah satu-satunya gadis yang menyenangkan jika diajak main sepak bola.
Gadis itu juga pintar bermain basket. Dan saat SMP, ekstrakurikuler yang diikuti Gea adalah karate. Gea tidak pernah memedulikan soal penampilannya yang cenderung menyukai warna gelap dan rambut pendek layaknya laki-laki.
Bian menyukai Gea apa adanya.
Bertubuh kecil tapi penuh nyali. Makan banyak dan tidak pernah anggun. Sering memukul serta pemarah.
Bian tidak sadar bahwa kini ia dan Gea berada di usia dewasa. Sayangnya, perubahan Gea dari waktu ke waktu membuat Bian cemas. Gadis itu semakin cantik, terlebih ia mulai berdandan sedikit feminim.
Hal ini tentu mengkhawatirkan bagi Bian. Gea yang dulunya tidak pernah di dekati lelaki selain dirinya, mulai dilirik oleh lelaki lain. Sejujurnya Bian tidak menyukai penampilan Gea sekarang. Karena lelaki itu cemburu jika ada orang selain dirinya berada di dekat Gea. Terutama, Gio Ferraldo.
Sedari awal Bian memang merasakan ada yang tidak beres dengan pria tersebut. Dan Bian takut apabila Gea jatuh ke tangan Gio. Hati kecilnya merasa tidak terima. Sejauh ini Bian berusaha menjaga jarak dengan gadis lain demi Gea. Meski Gea tidak menyadarinya, Bian tetap melindungi Gea dari apapun.
Gea merasa Bian aneh belakangan ini. Namun Gea tidak mau berpikir terlalu jauh. Walau Bian bersikap tak biasa padanya, Gea tidak merasa ada firasat buruk. Dia pun membalas pelukan Bian.
Bian tersenyum. Mereka hanya teman tapi bagi orang umum yang melihat mereka tentulah tidak berpikir demikian.
Bian selalu menunjukkan sikap pedulinya seolah Gea adalah orang yang berharga. Oleh karenanya, banyak yang mengira Bian dan Gea adalah sepasang kekasih meski kenyataan tidak.
Dari atas, seseorang melihat semuanya. Tatapan yang diberikan Bian pada Gea bukanlah tatapan teman biasa.
Alvandi Lesmana beberapa kali menjadi saksi perlakuan Bian terhadap Gea. Pertama kali Alvan melihat interaksi mereka adalah ketika Gea SMP dan waktu itu Alvan sudah berpacaran dengan Mia. Karena hal tersebut, Alvan terkadang mengantar Gea ke sekolah dan disitulah dia bertemu Bian.
Bian memang tidak pernah mengunjungi rumah Gea kecuali ada kerja kelompok tapi apa yang dilihat Alvan di mata Bian bukan perasaan biasa. Lelaki itu memberi tatapan berbeda jika ada di dekat Gea.
Mungkin karena Alvan juga seorang laki-laki, dia lebih peka dengan apa yang Bian lakukan. Karena ketika Alvan bertemu dengan Mia dan jatuh cinta padanya, dia juga memberi pandangan seperti yang Bian berikan pada Gea.
"Aku rasa aku tidak bisa membiarkan hal ini lebih jauh lagi."
✒️✒️✒️
Gio melepas contact lensnya. Pria itu memandang tampilannya di cermin sejenak dan bersiap mandi. Hari ini kepalanya terasa berat dan ia ingin mendinginkannya.
Gio membiarkan air shower mengguyur kepala hingga kakinya selama hampir satu jam. Matanya mulai terasa pedih dan mengingat apa yang terjadi di pesta membuatnya sakit hati.
'Kalaupun kamu menyukaiku itu percuma. Aku tidak memiliki perasaan yang sama kepadamu. Kamu terlalu baik dan aku masih belum menemukan rasa sukaku terhadapmu.'
Sekali lagi ucapan Gea terngiang,Gio menampilkan senyum tipis. "Kurasa, perjuanganku masih belum cukup."
Gio mematikan shower dan mengambil handuk.
'Dengan ketampananmu, kamu bisa menemukan orang yang sempurna daripada aku.'
Gio tertawa. Tampilannya memang tidaklah buruk. Pria itu memiliki tatapan tajam ketika tidak memakai kacamata. Meski tubuhnya tidak besar tetapi Gio rajin berolahraga dan itu membuat ototnya terbentuk, terutama otot perut.
Selama ini Gio berusaha tidak berpenampilan mencolok agar ia dikenal sebagai pria hangat yang sederhana. Tapi Gea mengatakan bahwa dirinya terlalu baik? Apakah para gadis sekarang lebih menyukai Bad Boy daripada Good Boy?
Haruskah Gio mencobanya?
Dirinya jadi ingat, Chesi mengatakan tipe pria yang disukai Gea. Tidak ada yang signifikan tapi yang Chesi tahu, Gea menyukai sosok yang bisa melindunginya dan selalu ada disampingnya.
Gio bisa melakukannya tapi Gea masih belum tertarik padanya. Itu berarti apa yang dilakukan oleh Gio masihlah kurang.
"Sebenarnya aku bukanlah orang yang baik Gea. Selama ini aku berusaha bersikap demikian karena kupikir kamu akan menyukaiku. Tapi ternyata tidak."
Gio menyeringai. "Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan bersikap seperti Good Boy lagi kepadamu."