Amour

Amour
Twenty Six



Pukul sebelas malam. Bobby membuka pintu dimana lampu rumahnya terlihat redup karena semua orang sudah mulai tidur. Salah seorang pembantu di rumahnya datang lalu mengambil tas Bobby. "Lisa dimana?"




"Ada di kamarnya, tuan."




Bobby melangkah menuju kamar. Mengintip dari balik celah pintu, memeriksa apakah istrinya sudah tertidur atau belum. "Sudah pulang?" Lisa bertanya.




Bobby terkejut sesaat. Lisa rupanya masih belum tidur. Wanita itu seolah-olah sudah menunggu kedatangan dirinya.




Lisa mendekat setelah Bobby masuk ke dalam dan mengunci pintu. "Kamu kepikiran sesuatu?" pria itu bertanya seraya melepas dasi.




"Katakan padaku, apa itu benar? Aku frustasi karena kamu tidak kunjung membalas teleponku."




"Maaf sayang, kamu tau aku masih dalam lingkup kerja. Aku tidak sempat menerima telponmu karena ada sesi wawancara tadi."




Bobby duduk diatas sofa pribadi kamar mereka diikuti Lisa. Wanita itu tak henti-hentinya bertanya. "Katakan padaku Bob, benar atau tidak? Kamu kan yang bertemu Gio pertama kali jadi kamu pasti tau," desaknya.




Bobby menghela nafas lalu mengangguk pasrah. "Gio memang direktur, tapi awal aku berjumpa dengannya sudah lama sebelum perjodohan ini terjadi."




"Sudah lama? Mengapa kamu tidak pernah bercerita padaku?"




"Oh Lisa, ketika aku bertemu dengannya, aku sendiri tidak tau jika dia adalah putra dari Hendry dan Mary. Bahkan saat keluarga kita bergabung dengan keluarga Chesi, Hendry ataupun Mary tidak pernah membicarakan tentang anak mereka."




Lisa mengangkat alisnya. "Lalu bagaimana kamu bertemu dengannya?" tanyanya masih penasaran.




"Saat mengunjungi Hendry tentu saja. Dia sedang melakukan otopsi dan diwaktu itu juga aku bertemu dengan Gio."







Flashback



"Ngomong-ngomong, aku ingin mengunjungi Kakakku sebentar, mau ikut?"




Bobby menganggukkan kepala. Saat ini mereka sedang keluar bersama sebelum Kevin akan pergi ke Singapura. Keduanya memang adalah teman dekat sejak masa SMA dan mereka dipertemukan kembali ketika putri mereka bersekolah di sekolahan yang sama.




Mobil Kevin berhenti di salah satu rumah sakit otopsi. Alis Bobby mengkerut. Kevin mengajaknya masuk ke dalam. Dilihatnya orang-orang berjas putih berjalan cepat di sepanjang koridor.




Kevin berhenti di salah satu area. Ia menyuruh Bobby untuk duduk. "Sebentar lagi dia selesai, kita tunggu disini," katanya.




Bobby mengiyakan. Mereka menunggu disana beberapa saat ditemani segelas kopi yang Kevin beli.




Mata Kevin teralihkan ketika melihat pria muda berkacamata berjalan ke arah mereka. "Gio?"




Pria bernama Gio itu berhenti. Bersalaman dengan Kevin sambil mengukir senyum tipis. "Anda disini paman?"




"Ya, aku ada perlu dengan ayahmu."




Bobby yang tidak mengerti apa-apa hanya melihat mereka berdua. "Oh, kenalkan ini temanku. Namanya Bobby Caesar."




Mereka pun berkenalan, namun Gio tiba-tiba membulatkan mata setelah teringat sesuatu. "Tunggu, saya seperti pernah melihat anda," ujarnya.




Bobby bingung sama halnya dengan Kevin. Mereka mendengar kalimat lanjutan dari Gio. "Bukankah anda model majalah Elle?"




Sontak Kevin terkejut dia tertawa dan Bobby merasa malu. "Ah, kamu mengetahuinya ya," sahut Bobby sedikit tersipu.




"Kamu benar. Dia memang model nya." Kevin tak kalah menyahut.




"Majalah Elle sangat famous di kampusku dan banyak loh penggemar paman Bobby disana."




Mereka pun berbincang-bincang hingga akhirnya Hendry selesai dengan operasinya. "Ada apa ini?" ia bertanya.




"Oh, akhirnya selesai juga. Aku datang untuk mengambil flashdisk, kakak membawanya?"




"Ah, tentu." Hendry merogoh saku jas dan memberikan flashdisk pada Kevin. "Halo Bob." Hendry menyapa Bobby dan bersalaman dengannya. "Kalian sedang keluar bersama ya?"




"Ya, rencananya. Sekalian pergi makan malam, kakak ingin ikut?"




"Boleh? Jam operasi ku sudah selesai. Kita bisa pergi sekarang."




"Gio ikut juga ya, kita makan malam bersama."




Mengetahui Gio juga disana, Hendry mengalihkan atensi. Putranya itu tidak mengatakan apapun dan hanya sekilas menatap Hendry.






Mereka berempat pun pergi dan menuju salah satu restoran. Kevin terlihat kebingungan memesan, ia meminta bantuan Bobby untuk memilih makanan, sementara Gio tampak cemas. Ia hanya diam di sebelah Hendry yang masih sibuk menghabiskan segelas kopi.




"Bagaimana denganmu? Apa yang ingin kamu pesan?" Kevin bertanya pada Gio dan dijawab senyum olehnya. "Aku pesan sama seperti paman saja," balasnya.




"Baiklah."




Kevin pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Sembari menunggu, Bobby bertanya, "Aku tidak pernah tau Hendry mempunyai seorang putra."




"Itu karena dia tidak pernah membicarakannya. Padahal punya anak seperti dia itu langka," Kevin justru menyahut ucapan Bobby.




"Jaga bicaramu Kev." Hendry bersuara datar. "Tuh kan, sikapnya langsung dingin. Ayolah, Bobby cuma ingin tau putramu kak, lagipula mempunyai seorang anak yang lulus harvard itu bukan hal biasa. Kakak harusnya membangga-banggakan Gio, dia putramu satu-satunya dan memiliki otak cerdas hingga dapat masuk Harvard dengan mudah."




Bobby melongo. "H-Harvard?" Ia tidak menyangka. Suasana menghening. Hendry mendadak berdiri, "Aku ke toilet sebentar," ucapnya dan pergi.




Merasa ada yang tidak beres, Kevin juga berdiri dan menyusulnya dari belakang. Kini hanya tersisa Bobby dan Gio saja di meja.




"Kamu sedang ada masalah dengan ayahmu ya?" tanya Bobby. Gio melengkungkan senyum tipis. "Hanya masalah kecil, paman tidak oerlu khawatir."




Setelahnya ponsel Bobby berdering, ia mengangkatnya dan mengejutkan Gio. "Gea, Papa sedang ada acara penting. Bilang saja ke mama, oke?"




"Baiklah, nanti Papa transfer ke rekeningmu." Bobby pun mengakhiri pembicaraan.




Gio terperanjat. Dia menatap Bobby serius yang menyebabkan pria itu bingung. "Gea?"




"Ah, dia putriku," Bobby pun bercerita. "Dia ingin pergi ke konser Rich Brian besok dan hari ini hari terakhir untuk dapat tiketnya. Udah gitu mau yang tiket spesial lagi." Bobby mengerutkan kening.




"Bolehkah saya melihat foto putri anda?"




Awalnya Bobby ragu memperlihatkan foto putrinya. "Dia tidak ada feminimnya sama sekali." Bobby pun mengutak-atik ponselnya dan memperlihatkan foto Gea di galeri.




Mata Gio membulat. Bibirnya tak mampu menahan senyum. "Rupanya.. dunia memang sempit ya?"




Alis Bobby terangkat tak mengerti. Selanjutnya, Gio memandang Bobby dengan mata sedikit berkaca-kaca. "Kamu mengenal putriku?" Bobby bertanya.




"Kami sempat bertemu dulu, tak kusangka dia tidak banyak berubah. Dan ini merupakan suatu kehormatan, saya bisa bertemu dengan anda Paman."




Bobby semakin dibuat bingung. Dirinya bahkan baru bertemu dengan Gio tetapi pria itu bilang sudah bertemu dengan Gea lebih dulu. Otaknya penuh pertanyaan perihal dimana putrinya dengan pria tampan ini bertemu?




"Gea tambah cantik sekarang," puji Gio.




Bobby melambaikan tangan di depannya. "Hei, kamu sedang tidak mabuk kan nak? Putriku yang dekil begini kamu bilang cantik? Sepertinya kamu perlu istirahat."




Gio menggelengkan kepala. "Putri anda sangat cantik dan aku menyukainya."




Detik itulah hati Bobby terenyuh. Dia merasa bahagia. Dan pada hari tersebut juga Bobby mulai berencana menjodohkan mereka berdua.




Flashback end








"Aku sangat terharu mendengar putriku dipuji cantik oleh pria tampan seperti Gio. Jadi di hari itulah aku mulai berencana menjodohkan putri kita dan betapa beruntungnya Hendry serta Mary tidak menolak. Gio juga terlihat amat senang mendengarnya."




"Lalu bagaimana tentang Gio yang seorang direktur perusahaan?"




"Aku tidak tau apa yang terjadi diantara Hendry dan Gio waktu itu. Tapi saat kami selesai berbincang, Hendry dan Kevin kembali, disitulah aku mengetahui bahwa Gio sudah membangun perusahaannya sendiri. Dan kamu tau? Yang memesan tiket konser untuk Gea adalah Gio. Oh, astaga aku jadi lega putriku memiliki seorang pria yang mencintai dirinya apa adanya." Bobby mulai membayangkan Gea berada di pelaminan. Namun Lisa masih kepikiran.




"Aku tidak mengerti mengapa dia menyembunyikan hal ini."




Bobby memegang tangannya dan tersenyum. "Dia tidak menyembunyikan, dia hanya tidak mengatakan saja. Lagipula kamu juga tidak pernah bertanya apa pekerjaannya bukan? Dan kurasa itu tidak masalah. Semua orang punya privasi."




"Tapi aku kesal karena aku tidak tau pekerjaan utama calon menantuku sendiri."




Bobby tertawa. Lisa terlihat menggemaskan. "Astaga kamu marah hanya karena itu?" tanyanya tak habis pikir.




"Ah, ngomong-ngomong.." Bobby menghentikan tawanya. Dia menatap Lisa. "Aku mendapat pesan dari Gio, dia meminta ijin membawa Gea liburan bersamanya."