Amour

Amour
Prolog



"INI GILA!"




Gea berteriak keras mengetahui keputusan orang tuanya yang mendadak menjodohkan dirinya dengan seorang pria. Baru saja Gea memperoleh kebahagiaan karena dia berumur 18 di tahun ini dan sebentar lagi masa SMA nya usai. Gea juga sudah berencana mengambil study sarjana di salah satu fakultas meski masih kebingungan dalam memilih jurusan.





Tapi dijodohkan? Itu adalah hal yang mengejutkan bagi Gea. Demi apapun, mengapa kedua orang tuanya ikut dalam urusan asmaranya dan menurut Gea perjodohan ini terlalu mendadak.





"Percayalah pada papa, Gio itu pria yang baik dan kamu pasti suka."




Gea menghentakkan kaki. "Tapi pria yang ingin papa jodohin ke aku itu guruku sendiri Pa!" Masih dengan suara protesnya.




Mama menyahut diikuti senyum lebar. "Bagus dong. Kalian bisa sering ketemu, dengan begitu kamu cepat akrab dengannya. Lagian, si Gio itu ganteng loh, nyesel kalau kamu gamau." ucap Mama yang semakin membuat Gea frustasi.




"Pokoknya Gea gamau Papa sama Mama jodohin Gea! Apalagi kalau sama guru Gea sendiri!"





Dengan wajah kesal, Gea menaiki tangga dan menuju kamar. Meninggalkan kedua orang tuanya yang masih ada di ruang tamu.






Lisa melirik suaminya. "Gimana nih Pa?"




Bobby menghela nafas. Ia sendiri juga merasa khawatir dengan putrinya yang cenderung lebih suka menutup diri. Bahkan di umur 18 tahun, putri kesayangannya itu masih kaku dan sulit membuka hati untuk para lelaki.




"Mama tenang saja. Papa yakin Gea bakalan suka dengan Gio. Kalaupun Gea masih belum suka, Papa akan tetap jodohin mereka."




"Pokoknya Mama pengen cepet-cepet punya cucu dari Gio sama Gea."





Bobby menggelengkan kepala. Pria hampir berkepala empat itu tak habis pikir akan kemauan istrinya walau dirinya juga menginginkan hal yang sama.





✒️✒️✒️








Mendengar namanya saja sudah membuat Gea kesal bukan main. Papa dan Mamanya memang benar jika Gio adalah orang yang baik. Ini terbukti karena Gea sendiri tidak pernah mengeluh jika Gio mengajar di kelas. Apalagi pria yang berumur 24 tahun itu adalah guru baru yang ramah dan tampan.




Harus Gea akui jika dirinya sendiri tidak bisa menolak apabila Pak Gio akan menjadi suaminya nanti. Hanya saja Gea masih ingin melanjutkan sekolah hingga universitas. Dan belum sama sekali berpikir untuk menikah di usianya yang menurutnya masihlah belia.





'Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan?'




Pintu kamar Gea terbuka, gadia berambut bob pendek yang merupakan kakak Gea berjalan masuk dan menghampiri Gea.




"Sedang memikirkan calon suamimu nanti ya?" Mia merangkul Gea dari belakang. Adik kecilnya itu sedang asyik melamut di sudut ruangan.




"Apaan sih kak? Jangan ngaco deh!"




"Aduh, adik kakak sekarang suka marah-marah."




Tak memperdulikan suasana hati sang adik yang buruk, Mia justru mencubit hidung Gea hingga dia meringis kesakitan.




Dua kakak beradik tersebut pun terlibat pertengkaran kecil. Dan karena perbuatan jahil kakaknya, Gea tertawa.





"Kakak tidak ingin ikut campur masalahmu, tapi kakak hanya berharap kamu bertemu pria yang pantas. Entah itu adalah Gio ataupun pria lain," tutur Mia.




"Tidak bisakah untuk sekarang kita tidak membahas tentang pria? Jujur saja aku masih merasa marah."





Dengan cepat Mia memeluk adiknya dan mengusap kepalanya lembut. "Baiklah maafin kakak ya."




Mia tidak heran. Gea memang selalu begini. Dia begitu sensitif dengan seorang lawan jenis. Bahkan Mia sendiri tidak pernah tahu Gea dekat dengan seorang lelaki diluar sana.






Sejujurnya Mia takut bahwa adiknya mungkin punya kelainan. Ataukah dia suka dengan sesamanya? Oh Tuhan.. semoga saja tidak.