Amour

Amour
Eleven



"Anda tersenyum terus hari ini." Pria muda yang merupakan sekretaris tersebut meletakkan secangkir kopi pada meja atasannya.




"Saya terkejut anda terlihat ceria bahkan ketika meeting sedang berlangsung," lanjutnya.




Gio membalikkan badan. "Aku hanya tidak sabar menanti impianku jadi kenyataan," katanya tersenyum lebar.




"Impian untuk menikahi Gea dan menjadi seorang ayah," sahut Jefri sang sekretaris dan dibalas tawa malu oleh Gio Ferraldo.




"Saya sampai tidak menyangka anda mengambil pekerjaan sebagai guru di SMA hanya untuk bisa mendekati Gea, karena perbuatan anda, saya jadi kewalahan."




Gio memeluk Jefri, sekretaris pribadi sekaligus sahabatnya. "Maaf sudah membuatmu repot temanku, dan maaf juga karena semalam aku mengabaikan panggilanmu. Saat itu aku sedang bersama Gea, jadi aku tidak mau Gea mengetahui statusku yang sebenarnya lebih dulu."




Jefri mengangkat alis."Memangnya kenapa? Bukankah itu bagus menarik perhatiannya? Jika Gea mengetahui kalau calon suaminya adalah direktur perusahaan, dia akan semakin mencintai anda."




"Aku tidak ingin dicintai seperti itu." Gio mengukir simpul tipis di bibirnya. "Aku mau Gea melihatku apa adanya. Mencintaiku tanpa memandang latar belakangku."




"Anda sungguh pria yang romantis tuan Ferrald."




Gio beralih pada meja dan menyesap kopinya. "Aku harap kamu juga cepat menemukan seseorang yang tepat untukmu Jef."




Pipi Jefri memerah dan tertawa garing. "Jika Tuhan berkehendak, maka terjadilah."





Ketukan terdengar dari pintu ruangan Gio. Pria itu mengijinkan untuk masuk. Seorang wanita cantik dengan papan nama 'Yuna' membawa beberapa dokumen yang diberikan pada Gio.




"Maaf mengganggu anda tuan Ferrald." Yuna menoleh ke arah Jefri dengan picingan tajam. "Tadi saya sudah berpesan pada sekretaris anda untuk menyampaikan beberapa pesan, tapi sepertinya Jefri lupa akan hal itu."




Jefri menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Em, maaf. Lain kali aku akan berhati-hati," balasnya sedikit takut melihat wajah seram Yuna yang kesal padanya.




Setelah Gio menerima dokumen, barulah Yuna pamit. "Kalau begitu, saya permisi tuan Ferrald."




Wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang yang digulung rapi itu keluar dari ruangan. Jefri terus memandangnya bahkan saat Yuna sudah tidak ada di hadapannya.




Gio tersenyum penuh arti. "Kamu suka dengannya ya?"




"Eh Saya, maksud saya.." Jefri salah tingkah. Gio membenarkan posisi kacamatanya sementara  Jefri merasa malu karena tertangkap basah.







✒️✒️✒️







Sekali lagi Gea melihat tampilannya di cermin. Gadis itu memakai celana dan kaos lengan pendek yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Hari ini Bian akan mengajaknya pergi.




Kakaknya dan Alvan sudah pergi lebih dulu. Mungkin mereka berdua tengah kencan sambil melepas rindu. Dan Gea menyusul, namun dia punya jadwal jalan-jalan, bukan kencan.




Harap dicatat. Ini jalan-jalan, bukan kencan dan itupun ia lakukan bersama Bian yang statusnya hanyalah seorang teman.







"Pa, Ma, Gea berangkat dulu ya.." Gadis itu pamit dan ditatap kedua orang tuanya bingung.




"Putri kita tidak jalan dengan cowok kan?" Lisa mulai berpikir negatif. "Tapi penampilannya kayak cowok begitu, lagian putri kita juga tidak seberapa dekat dengan lawan jenis jadi itu tidak mungkin."




"Memang kamu tau? Kudengar Bian akrab dengan Gea di sekolah"




"Bian?" Bobby mengalihkan atensi dari koran yang dibacanya.




"Itu temannya Gea waktu sekolah dasar. Mereka kan selalu ada di sekolah yang sama sampai SMA sekarang. Satu kelas juga."




Setelah Lisa bicara, Bobby memandang istrinya. Lisa pun melakukan hal yang sama. Pikiran mereka mulai merasa tidak enak.





"Istriku, apa kamu tau yang kupikirkan?"




Lisa mengangguk. "Semoga Bian tidak menjadi saingan untuk Gio. Jika iya, itu akan sangat berat." Hati wanita itu mulai khawatir.




"Tapi bagaimama jika putri kita menyukai Bian?"




Lisa memukul lengan suaminya. "Jangan begitu! Meski Bian sudah bersama dengan Gea sedari kecil, tidak berarti mereka di takdirkan untuk bersama."




Bobby meringis. Perkataan Lisa mungkin benar tapi dia sendiri masih kepikiran.




"Entahlah istriku. Aku tidak mengerti mengapa aku tidak yakin  akan hal itu."







Sementara diluar, Gea menatap terkejut akan penampilan Bian yang tidak biasa dan menaiki motor untuk pertama kalinya.




"Karena masa SMA hampir selesai, sekarang kamu jadi berani ya?"




Bian terkekeh. "Aku keren tidak?"




"Biasa aja," jawab Gea tak terlalu peduli. Bian memerhatikan penampilan Gea dari atas sampai bawah. "Kamu memang tidak suka tampil feminim ya?"




"Masalah? Ah, aku tau.. tipe kamu pasti cewek yang feminim, cantik, rambut panjang dan gak kayak aku yang tomboy dan memalukan."




"Siapa bilang? Kamu manis kok. Selalu manis sedari dulu"




Mata Gea terbelalak. Barusan Bian memujinya. Itu hal yang langka.  Lelaki itu melempar helm padanya.




"Buruan naik."




Dan sejenak Gea melupakan kejadian barusan lalu naik ke motor Bian. Gadis itu memegang kedua pundak Bian untuk pegangan. Bian menyeringai.




"Pegangan yang erat, Gea sayang."




"Hah?"