Amour

Amour
Seven



"Masih merajuk?"




Gio nyengir memerhatikan Gea yang memanyunkan bibir. "Kamu tau, aku rasa dengan perbedaan tinggi kita yang jauh, kamu jadi terlihat seperti anakku sungguhan."




"Lagian, mengapa Bapak mau aja dijodohin ama murid SMA? Apalagi saya murid anda sendiri."




Gio menutup bagasi lalu memasangkan jaket tebal pada tubuh Gea yang basah. "Ini memang tak masuk akal kan?"




Pertanyaan Gio justru mengundang keernyitan di dahi Gea. Mata pria itu tampak sendu, dan Gea pikir mungkin perkataannya sedikit menyinggung dirinya.




"Kita pulang sekarang. Apartemenku dekat dari sini."




Baru saja Gea hendak menyela ketika Gio menyebut 'apartemen', pria itu segera menambahi kalimatnya.




"Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya tidak ingin kamu sakit karena terlalu lama kedinginan."




"Inikan salah Bapak. Karena Bapak, saya-"




"Gio."




Gea tercekat. Barusan Gio menyela ucapannya. Wajah penuh kesabaran itu entah mengapa membuat Gea sedikit terenyuh. Sebelah tangan Gio membuka mobil dan tersenyum. Ia memandang Gea sekali lagi.





"Sejujurnya, aku senang kamu memanggil namaku tadi. Dan aku ingin seterusnya kamu memanggilku seperti itu."






✒️✒️✒️






Keduanya tidak bicara setelahnya. Keadaan di mobil semakin canggung. Jantung Gea berdegup kencang ketika mobil Gio memasuki basemen apartemennya.




Baru saja Gio memarkirkan mobil, ponsel pria tersebut berdering, dan ini sudah yang ke belasan kali Gea mendengarnya. "Mengapa tidak diangkat?" Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Gea setelah hening begitu lama.




"Tidak apa, aku akan menjawabnya nanti," sahut Gio lalu melepas sabuk pengaman. Mereka berdua keluar dari mobil dan memasuki apartemen.




Gea mengikuti dari belakang. Banyak pasang mata melihat mereka berdua. Mungkin berpikir pada penampilan mereka yang basah dan acak-acakan.




Gea merapatkan jaket Gio di tubuhnya. Gadis itu berusaha menyembunyikan rona merah pada pipinya.




Gio menekan tombol lift dan menunggu sampai lift terbuka. Detik berikutnya, dua orang wanita melihat mereka. Ah, lebih tepatnya ke arah Gio dan mereka terpesona.




Dua wanita itu berbisik sambil menatap Gio kagum. "Dia sangat tampan." Gea dapat mendengar bisikan mereka dan tak menghiraukannya lalu masuk ke lift bersama Gio.




"Astaga ini salahku, maaf."




Sontak Gea mendongak. Memandang Gio yang buru-buru merapikan rambutnya dan menutup keningnya yang sudah terekspos lama.




"Aku lupa membawa kacamata ku." lanjut pria itu cemas.




"Kenapa?"




"Aku tidak ingin ada orang yang melihat penampilanku seperti ini selain kamu."






Sayangnya, Gea tidak merasa itu benar. Karena walaupun Gio memakai kacamata dan berpenampilan culun, kenyataannya adalah ketampanan pria itu tak berkurang sama sekali.




"Lalu mengapa tadi kacamatanya dilepas? Aku pikir Bapak minus."




"Aku memang minus kok," Gio menunjukkan pupil matanya. "Ini contact lens."




Gea mengedipkan mata. Ia tidak menyadari bahwa Gio memakai contact lens yang bahkan tak terlihat olehnya.




Lift terbuka di lantai 7 tempat kamar Gio berada. Pria itu mengetikkan sandi dan membuka pintu. "Masuklah."




Gea terkesima akan kerapihan trmpat tinggal milik Gio Ferraldo. Gea pikir lelaki kebanyakan adalah prang yang pemalas dan tidak suka kebersihan. Nyatanya, Gio tidaklah seperti itu. Kamarnya begitu rapi dan bersih.




Baru saja Gea selesai melepas sepatu dan menuju ruang tamu, Gio sudah menghampirinya. Memberikan handuk dan baju ganti.




"Aku yakin ini pas denganmu meski nantinya agak kebesaran sedikit. Setidaknya ukuranmu dengan Chesi tidak berbeda jauh kan?"




Piyama berwarna pink itu diberikannya pada tangan Gea. Gadis tersebut mengangkat alis. "Ini terlihat baru."




"Memang itu adalah piyama baru yang mau aku berikan pada Chesi, tapi berhubung kamu disini, mungkin untuk Chesi akan kubelikan lain kali."




"Tapi-"




"Kumohon terimalah. Aku akan senang jika kamu memakainya."




Beberapa detik kemudian, Gio memukul kepalanya sendiri. "Aku lupa akan sesuatu."




"Apa?"




"Kamu kan juga butuh pakaian dalam."




Plak!




Tamparan mendarat di pipi Gio dengan tidak elitnya.





"Mengapa kamu menamparku?" Gio meringis. Memegangi pipi kirinya yang mulai terasa perih.




"Kamu bodoh ya? Bagaimana kamu bisa mengatakannya semudah itu?"




"Tapi aku benar kan? Kamu basah kuyup dan tentu bagian-"




Belum selesai Gio melanjutkan ucapannya, Gea melototkan mata. "Baiklah, maaf," kata Gio berikutnya. Pria itu sedikit takut dengan wajah Gea yang terlihat galak di hadapannya.




Gadis berambut pendek itu menghela nafas. Pipinya kembali merah dan membuat suasana mereka sunyi sedikit lama.




"Jadi.." Gea mengalihkan bola mata. Menggigit bibir beberapa saat karena menahan rasa malu.




Gio yang di depannya mendongak. Menunggu kalimat Gea berikutnya dengan tampang ragu.





"Pakaian dalamku, bagaimana?"