Amour

Amour
Fourty



Hari itu adalah hari bersiap untuk pulang. Gea membereskan pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper, tapi tidak dengan Gio.




"Kamu tidak mau berbenah?" tanya Gea.




Gio terdiam. Berdiri menatap punggung Gea. Gadis itu menolehkan kepala dan sadar akan ekspresi aneh yang Gio tunjukkan. "Ada apa?"




"Aku tidak akan ikut pulang," ucapnya tiba-tiba dan mengejutkan Gea.




"Mengapa?"




"Ada hal yang ingin kulakukan terlebih dulu."




"Soal pekerjaan?"




Gio menggeleng. "Ini mengenai mataku. Aku mulai berpikir untuk mengambil operasi lasik," ungkapnya.




"Kamu akan operasi? Kapan?"




"Secepatnya. Mungkin setelah kamu pulang."




"Perlu kutemani?"




"Tidak. Kamu harus pulang. Mama dan Papamu mengkhawatirkanmu."




Gea cemberut. "Bagaimana denganmu? Kamu disini sendirian? Siapa yang akan membantumu?"




"Ada Jefri disini. Jangan cemas." Gio mengusap kepala Gea lembut. Gadis itu meraih leher Gio dan jatuh di gendongannya.




"Apa ini? Gea ku yang pemarah, judes, dan tomboy jadi seperti bayi lima tahun," ledek Gio tertawa geli.




"Ijinkan aku bersamamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kamu di operasi? Aku takut."




"Aku yang di operasi, kamu yang takut? Aku baik-baik saja, jangan berpikiran negatif begitu." Gio menenangkan. Mengusap punggung Gea di gendongannya.




"Ini konyol. Mengapa aku tidak bisa membiarkan dirimu disini tanpaku?" Gea bergumam dan disambut tawa oleh Gio. "Itu karena kamu tidak ingin kehilanganku."




Gea memundurkan kepalanya ke belakang. Menatap Gio dengan bibir menekuk ke bawah. "Aku tidak tau seperti ini rasanya jika memliki seorang pacar."




"Siapa bilang kita ini pacar?" Gio menyahut. "Kita bukan pacar, kita adalah tunangan dan kita akan menikah nanti," tambahnya.




"Jika dipikir - pikir. Kamu selalu ingin menikahiku, mengapa? Apakah karena tidak ada gadis lain yang betah singgah di hatimu?" tanya Gea.




"Tentu bukan. Tidak ada gadis yang singgah dihatiku karena hatiku sudah terisi. Satu orang yang selalu ku impikan sejak masa SMA. Gea Emeralda. Dan alasan mengapa aku memaksa untuk menikahimu adalah karena kamu semakin cantik sekarang. Aku tidak ingin ada saingan untuk mendapatkanmu dan aku ingin mengikatmu dalam janji suci agar tidak ada pria manapun yang akan menyentuhmu."




"Posesif sekali," komentar Gea.




"Khusus untukmu."




"Kalau begitu kasih aku alasan mengapa kamu mencintaiku?"




"Tidak ada."




"Tidak ada?" dahi Gea mengernyit.




"Tidak ada alasan dalam mencintai seseorang. Karena Tuhan lah yang berkehendak mempersatukan, dan jika ini adalah takdir yang telah ditentukan, maka tak ada yang bisa kita lakukan."




Gea terdiam. Membeku karena perkataan Gio. Ia semakin yakin bahwa memang ada yang salah dengan dirinya ketika bersama Gio Ferraldo. Itu bukan keanehan. Tapi karena Gea memang menaruh perasaan.




Ya, Gea mencintainya.




Amat mencintainya.






"Bagaimana denganmu? Apa kamu juga punya alasan menerima cintaku?" giliran Gio bertanya.




"Tidak," Gea menenggelamkan kepalanya lagi di pundak Gio. "Aku juga tidak punya alasan," lanjutnya.




"Ngomong-ngomong Gio, apa kamu lelah menggendongku seperti ini?"




"Tentu tidak."




"Bagus, aku mau kamu menggendongku begini sampai besok."




"Kamu ingin menyiksa calon suamimu hm?"




"Ini adalah hukuman karena tidak mengijinkanku ikut denganmu. Oh, hey. Bagaimana kalau kita jalan - jalan?" Gea tiba-tiba antusias.




Gio berpikir sejenak. "Baiklah, kamu mau kemana?"




"Aku tidak tau tempat terbaik disini. Jadi aku serahkan padamu saja. Tapi kita jalan - jalannya berdua saja, oke?"




Gio mengangguk.




"Berdua saja loh. Awas kalau kamu ajak yang lain," ancam Gea.




"Iya ratuku, saya janji tidak ajak yang lain."




Gea pun melebarkan senyuman.






✒️✒️✒️






Sesuai janji, Gio mengajak Gea keluar berdua. Menikmati kota malam New York, mulai dari makan malam hingga belanja di Fifth Avenue.




Gio membelikan pakaian dari brand terkenal untuk Gea maupun keluarganya. Pria itu sungguh menuruti kemauan Gea. Sejujurnya Gea sedikit tidak tertarik dengan pakaian brand mahal itu. Dia lebih melirik sepatu sneakers yang dipajang, namun karena harganya jutaan dollar, Gea mengurungkan niatnya.




Gio menawarkan untuk membeli, tapi Gea tidak ingin Gio membuang - buang uangnya. Dia sudah cukup merasa tidak enak atas semua pakaian yang ia dapatkan dari Gio, dan Gea tidak ingin Gio mengahamburkan uangnya lagi hanya untuk sepatu.






Gea menunggu di taman dekat air mancur. Gio sedang membelikannya kopi. Tangan dan kakinya cukup pegal namun dirinya bahagia bisa bersama Gio malam ini.




Gea menatap layar ponsel. Sesekali membalas pesan Bian yang mengkhawatirkannya. Mengambil foto agar Bian tahu dimana dia berada dan ia baik-baik saja.




Tak lama kemudian sebuket bunga mawar merah dihadapkan padanya. Mengalihkan atensi gea pada sosok pria tampan yang sedari tadi ditunggunya.




"Untukmu," ucapnya.




Gea mengulas senyum. Menerima sebuket bunga itu dari Gio. Lalu terkejut akan kerlipan berlian dari cincin permata yang terselip diantara bunga mawar. Gea jadi tersipu atas perlakuan Gio yang romantis.




"Kita dilihatin banyak orang tau," ucap Gea malu - malu.




"Aku tidak peduli." Gio  menaruh dua gelas es kopinya di bangku taman sebentar, lalu mengambil cincin permata di dalam bunga mawar dan menyematkannya pada jari manis Gea.




"Syukurlah, ukurannya pas," Gio berkata lega. Ia menatap Gea penuh makna. "Jadikan ini sebagai simbol atas janjiku untuk menikahimu," lanjutnya dengan nada lembut.






Pria itu mengecup kening Gea. Menenggelamkannya dalam pelukan hangat.




Namun pikiran Gea mendadak berkecamuk. Dia masih ingin melanjutkan study di universitas tapi dia juga ingin segera menikah dengan Gio.




"Ada apa?" tanya Gio ketika ia merasa Gea sedang gelisah.




"Aku mulai berpikir untuk kuliah, bagaimana menurutmu?"




"Tidak masalah. Aku selalu mendukungmu."




"Tapi aku juga ingin menikah denganmu."




"Bukankah kamu pernah bilang kuliah lebih penting?"




"Iya.. itu dulu," Gea meremat mantel coklat milik Gio dengan bersemu merah. "Sekarang aku ingin menikah denganmu lebih dulu." ungkapnya.




"Jadi?" Gio mengangkat alisnya penasaran.




"Setelah kita menikah, bolehkah aku mengambil study di universitas?"




"Tentu," Gio mengukir senyum.




Mereka kembali berpelukan. "Aku mencintaimu, Gio."




"Aku lebih mencintaimu."






✒️✒️✒️






Pesawat akan lepas landas sebentar lagi. Gio sudah berpesan kepada Samuel bahwa ia akan ada di Amerika untuk beberapa minggu. Para karyawan Gio menekuk sedih, mereka masih belum terbiasa ditinggal oleh atasannya tersebut dan diganti dengan atasan lain untuk sementara waktu.




"Aku menyerahkan tanggung jawab kepadamu, Yuna. Kamu bisa dampingi Samuel disana," kata Gio.




"Saya mengerti."




Yuna melirik Jefri sesaat. Pria itu menatap khawatir. "Aku tidak akan berpindah hati," kata Yuna diiringi senyum tipis.




Jefri tidak bisa menahan perasaannya. Gio yang mendengar hal tersebut, tampak kaget. "Kalian berdua.." Gio memandang Jefri dan Yuna bergantian. "Sejak kapan?"




Jefri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia jadi salah tingkah. "Itu.. emmm.."




"Ngomong-ngomong tuan Ferrald, saya tidak melihat nona Gea," ucapan Yuna mengalihkan pembicaraan. Gio memandang sekeliling. "Oh ya, dimana dia?"




Para karyawan pun kebingungan. Mereka mencari Gea yang mendadak menghilang.




"Tuan Ferrald, Siren juga tidak kelihatan," lapor salah satu karyawan Gio.




Pria itu semakin cemas, ia hendak menelepon Gea, namun Yuna mencegahnya. Ia menunjuk ke arah sebelah dimana Gea bersama Siren ada disana.




"Ada apa?" Gea bertanya bingung.




"Kamu darimana saja?"




"Oh, aku tadi mencari toilet sebentar," jawab Gea.




"Maaf saya tidak bilang pada anda lebih dulu, tuan Ferrald." Siren merasa bersalah.




Gio menghela nafas. "Tidak apa, pesawat kalian akan segera berangkat, berhati-hatilah."




"Baiklah." Gea menarik kopernya namun Gio mendadak menghentikannya. Pria itu memegang lengan Gea agar gadis tersebut berpaling ke arahnya.





"Kamu tidak ingin memelukku?" tanya Gio yang sontak membuat para karyawannya tersedak.




"Kan pas di Hotel aku sudah lama memelukmu."




"Peluk lagi."




Jefri, Yuna serta karyawan lain menatap tak percaya. "Aku tidak pernah tau, Tuan Ferrald bisa ngalus begitu," bisik Yuna tidak percaya.




"Maklum, dia kan gak pernah pacaran," sahut Jefri tak kalah terkejutnya.




"Yasudah sini." Mereka pun berpelukan erat. "Hubungi aku kalau kamu sudah sampai disana," kata Gio yang diangguki Gea.




"Jaga kesehatan dan yang lebih penting jaga hatimu. Aku tidak mau karena kita berjauhan begini, ada laki-laki lain yang menarik hatimu," kata Gio lagi.




"Oh astaga, tentu tidak akan. Kamu tidak perlu khawatir."




"Sesekali bisakah kamu mampir ke apartemenku? Aku punya firasat buruk Samuel mengobrak-abrik tempat tinggalku."




"Baiklah."




"Kamu juga boleh mengunjungi ibuku. Beliau kesepian."




"Tentu."




Jefri mengetuk punggung Gio. "Maaf tuan Ferrald, tapi ini sudah waktunya."




"Oh, ya. Maaf." Gio pun melepas pelukan, begitu pula Gea.




"Aku pergi dulu. Jefri, tolong jaga dia ya?" Gea berpesan.




"Siap laksanakan, nona!" Jefri membentuk pose hormat hingga Gea melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi bersama karyawan lain.





"Padahal umurku lebih tua dari nona Gea, tapi mengapa nona Gea tidak memanggilku kakak seperti yang lain," gumam Jefri.




Ia melirik Gio di sebelahnya.





"Tuan, apa anda menangis?"




"Siapa yang menangis?"




"Mata anda basah."




"Mataku cuma berkeringat."




Gio membalikkan badan, meninggalkan Jefri yang bingung dengan perkataannya.





"Sudah jelas-jelas menangis, malah mengelak," kata Jefri meledak tawa dan menyusul atasannya tersebut.