
"Ini kamu mau makan apa mau buka warung nasi padang?"
Bian menganga lebar menatap apa yang Gea pesan. Padahal lelaki itu menawarkannya makan di kafe tapi malah mengajak Bian buat masuk ke rumah makan pinggiran. Dan menuntut Bian buat bayarin semua pesanannya nanti.
"Lagian kalau di kafe itu gak buat kenyang. Enakan juga disini. Udah murah, bikin perut kenyang lagi," kata Gea dengan senyum semringahnya.
"Iya sih murah. Tapi kalau pesan sebanyak ini bukan murah lagi namanya, tapi perampokan."
Gea tertawa. Dia menyuruh Bian duduk di sebelahnya. "Ini kan buat makan kita berdua."
"Tapi ini terlalu banyak Gea!" Bian masih memprotes tak habis pikir Gea pesan banyak makanan. Dan Bian tidak yakin semua makanan tersebut akan habis tanpa sisa. "Ini bisa mubazir loh."
"Gabakal mubazir kalau aku yang makan," Gea menyahut tak peduli. Perutnya sudah teriak minta diisi, lalu meraih sendok untuk menyuap nasi.
"Buset dah! Sudah berapa tahun kamu gak makan?" Bian cuma bisa gedek akan cara makan Gea yang rakus.
Dan bukannya sungkan, Gea malah dengan santainya menyuruh Bian membayar pesanan. Sudah 30 menit mereka di rumah makan dan diwaktu itu pula Gea menghabiskan makanan tak tersisa. "Hei, aku cuma makan sate sama es teh doang loh tadi. Yang lainnya, kamu yang makan."
"Tapi kan kamu sudah bilang kalau mau mentraktir, dan ini sudah perjanjian. Jadi cepat bayar!"
Bian cuma bisa menelan batin tanpa menyanggah ucapan Gea. Dan meski berat hati, janji adalah janji, jadi Bian harus membayar meski dompetnya akan tipis.
✒️✒️✒️
Setelah makan, Gea menarik Bian ke Mall untuk jalan-jalan. Bian tak banyak bicara dan Gea sudah merasa kalau lelaki itu tengah merajuk.
"Bian yang tampan, kamu kalau merajuk lucu deh," kata Gea berusaha menghibur.
"Aku sedang dalam mood buruk hari ini," sahut Bian datar.
Gea menyenggol lengan Bian. "Sebagai gantinya aku akan mentraktir tiket nonton, bagaimana?"
"Sungguh?" Mata Bian berbinar-binar.
"Iya, makanya aku ajak kamu kesini."
"Baiklah tunggu apa lagi, kita pesan tiket sekarang. Ada film baru yang ingin kutonton."
"Oh ya? Apa itu?"
"Toy Story 4."
Bibir Gea membentuk lengkungan lebar. "Bagus, karena aku juga ingin menontonnya."
Mereka berdua pun segera menuju lantai atas dimana tempat bioskop berada.
"Gimana kabar kakakmu sekarang?" Bian bertanya setelah keluar dari bioskop.
"Sama seperti biasa, kadang dia menyebalkan."
"Lalu kakak ipar?"
Pertanyaan kedua Bian, ditatap bingung oleh Gea. Sadar akan perkataannya, Bian segera memperbaiki pertanyaannya. "Maksudku kakak iparmu."
"Dia masih ada diluar kota, kudengar bulan besok baru pulang. Aku salut dengan kakakku. Tiga bulan lalu baru menikah dan langsung ditinggal suaminya kerja diluar kota."
"Kamu salut karena kakakmu kuat LDR an kan?"
Bian tak menunggu jawaban dari Gea. Lelaki itu menarik lengan Gea yang membuat langkahnya terhenti. "Apa kamu juga bakal sekuat kakakmu?"
"Maksudmu?" Gea bertanya tak mengerti.
Bian menggaruk tengkuknya. "Kamu tau kan, setelah ini masa SMA kita selesai dan kita sudah sering bersama sejak Sekolah Dasar"
"Kamu bosan denganku?" sela Gea yang dibalas Bian dengan terbata-bata. "Bukan gitu, tapi misalnya kamu sudah ada rencana kuliah, bisa saja jurusan yang kita inginkan tidaklah sama jadi.."
"Bagus dong!" Gea bersorak. "Lagipula aku sudah bosan ketemu kamu terus sejak Sekolah Dasar" Gadis itu mengambil beberapa langkah di depan Bian, lalu menoleh dengan senyum manis.
"Apa kamu berencana keluar kota setelah ini?"
Bian tak mampu berkata. Sorot matanya berubah sendu. Terlalu terkejut karena Gea rupanya bisa membaca isi pikirannya.
"Kamu tidak perlu khawatir. Meski nanti kau benar-benar pergi dan kita tidak bertemu entah berapa lama, aku tidak akan melupakanmu, Bian. Percayalah."
Seketika bibir Bian mengembang. Mengukir lengkungan indah dan menghampiri Gea di depannya. "Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah ada rencana?" tanya Bian mengalihkan pembicaraan.
"Belum. Tapi aku penasaran denganmu. Kamu ingin kuliah jurusan apa?"
"Hukum. Menarik bukan?"
"Wow, aku terkesan. Padahal Undang-Undang Dasar saja kamu gak hapal"
Bian mencubit hidung Gea gemas. "Hei, tidak hapal Undang-Undang bukan berarti gagal masuk jurusan hukum ya."
Gea meringis, sedangkan Bian tertawa. Lelaki itu mengalihkan pandangan. Matanya terpaku pada sosok Gadis berambut panjang dengan dress warna peach selutut yang berdiri di depan mereka.
"Bian?"