
"Gea, bisa kita bicara sebentar?"
Gea mengalihkan atensi. Acara wisuda telah selesai. Bian menghampirinya di tengah teman-temannya sibuk berfoto.
"Tentu-"
"Gea, selamat untukmu."
Mia dan Alvan datang menyela lalu memberi buket bunga pada Gea. Gadis itu tertawa. Bian merasa kecil. Matanya menelisik kearah deretan tempat duduk para wali. Teman-temannya yang lain bersama orang tua mereka.
Tatapan Bian berubah sendu. Tanpa bicara, Bian beralih ke tempat lain.
Gea hendak mengikutinya ketika gadis itu menoleh kearahnya. Tapi Mia menyeretnya untuk berfoto. Sedangkan Alvan masih terdiam di tempatnya.
Bian menyendiri di balkon. Memandang kosong kumpulan keluarga dibawah sana.
'Di kelulusan SMA pun, masih sibuk ya?'
Notif pesan masuk dan Bian langsung mengeceknya.
'Selamat wisuda^^'
Bian berpikir pesan tersebut berasal dari orang tuanya. Rupanya tidak.
Chesi yang memberikannya dan Bian pun membalasnya.
'Kamu juga' tulisnya.
Seseorang memegang pundak Bian dan membuatnya tersentak. Pria yang merupakan kakak ipar Gea tiba-tiba berada disampingnya.
"Tidak menemui orang tuamu?" tanyanya merangkul pundak Bian seolah mereka akrab.
"Mereka tidak datang," jawab Bian datar. Alvan terkejut sesaat. Suasana mereka jadi canggung.
"Kamu.. tau aku kan?"
Bian menarik salah satu sudut bibirnya. "Kakak iparnya Gea kan? Tapi aku tidak tau nama kakak"
"Alvan. Alvandi Lesmana, bagaimana denganmu?"
"Bian Michaelis."
"Aku pernah mendengar bahwa kamu blasteran Kanada. Daripada seperti orang barat, kamu lebih kelihatan Asia nya."
Bian tertawa ringan. "Orang-orang juga berpikiran begitu. Mungkin karena aku mewarisi gen Ayahku dibanding ibuku, orang Kanada asli."
Alvan menarik lengan Bian. Pria tersebut tersenyum ramah."Karena orang tuamu tidak datang, bagaimana kalau kamu bergabung dengan kami?"
✒️✒️✒️
Banyak foto yang diambil oleh Mia dan Gea. Mereka berdua asyik dengan dunia mereka sendiri sampai lupa kedua orang tuanya sedang berada di belakang.
Bobby dan Lisa datang bersama Gio serta sekretarisnya. "Setidaknya, ajak kita berfoto juga," kata Lisa.
"Aku bisa jadi juru kameranya!" teriak Jefri mengajukan diri.
"Bagus, kita bisa berfoto bersama."
"Tapi mengapa harus ada Gio?" Gea bertanya. Dia masih tidak nyaman mengingat apa yang Gio lakukan hampir membongkar rahasia mereka.
"Gio kan juga bagian keluarga kita Gea, dia calon suami kamu loh."
"Pa." Mata Gea menajam. "Dibanding memikirkan calon suami, apa Papa tidak ingin aku melanjutkan pendidikan setelah ini?"
Pertanyaan Gea membungkam semua orang disana. Jefri menatap wajah sendu Gio sementara pria itu membentuk senyuman tipis.
"Kamu bisa melanjutkan pendidikan seperti yang kamu mau kok Gea. Aku tidak memaksa."
"Kamu tau kan apa yang kubilang kemarin?"
Gio masih mengulas senyum. "Ya, dan aku mengingat semuanya dengan jelas." Pria tersebut melirik kearah Jefri. "Kita pergi sekarang-"
"Tidak,sebelum kita berfoto." Lisa mencegah Gio. Wanita itu memasang wajah serius. "Mama tidak mengerti apa yang terjadi diantara kalian, tapi Mama tidak bisa membiarkan kamu mengusir Gio. Jadi jangan protes dan ayo berfoto bersama."
"Tapi Ma-"
"Gea," Bobby menyela. "Untuk pertanyaanmu, Papa akan memikirkannya nanti."
Gea pun diam. Mia paham jika adiknya sedih dan menggandeng tangannya seolah berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tunggu, Alvan dimana?" Lisa celingak celinguk mencari keberadaan menantunya.
"Disini Ma."
Wanita itu tersenyum lebar, namun yang membuatnya mengernyit adalah Alvan tidak sendiri, tetapi mengajak seseorang dan itu adalah Bian.
"Bolehkah dia ikut? Orang tuanya tidak datang hari ini."
"Tentu" jawab Gea cepat. "Kamu bisa bergabung, Bian."
Bobby dan Lisa memang tidak bisa menolak. Lagipula Bian adalah teman Gea juga. Tapi melihat respon putrinya, membuat keduanya kembali resah.
Sedangkan Gio mengarahkan kedua bola matanya pada Bian. Ia tidak bicara banyak dan seakan tak peduli Bian ada disana atau tidak.
Gio tidak lagi memasang tatapan menusuk pada Bian.
"Baiklah semuanya siap? 1..2..3."
Cekrek!
✒️✒️✒️
"Apa anda baik-baik saja? Maksudku bocah tadi, itukah orang yang anda maksud? Lelaki yang dekat dengan Gea?"
Jefri melirik Gio dari arah kaca spion seraya fokus mengemudi. Bossnya itu tengah melamun. "Entahlah," jawabnya.
"Hah?"
"Fokus menyetir saja, aku sedang sangat lelah Jef."
Gio menyandarkan kepala pada kaca mobil. Memerhatikan jalanan dengan mata kosong. Pikirannya bergelut akan perkataan Gea juga kedekatan Gea dengan Bian.
'Pada akhirnya, kamu memang pria yang lemah ya, Gio Ferraldo,' batinnya putus asa.
Jefri memarkirkan mobil. Dia membukakan pintu ketika meteka tiba di perusahaan. Gio tampak lelah dan Jefri bisa melihat wajahnya yang pucat.
"Aku baik-baik saja," kata Gio seolah bisa membaca pikiran Jefri. Pria tersebut merapikan dasinya dan masuk ke gedung.
Jefri menatap khawatir dari belakang. Gio hanya tidur 3 jam semalam dan langsung pergi ke acara wisuda. Sekarang dia harus menghadiri acara rapat 30 menit lagi. Terkadang Jefri merasa kasihan. Gio mengelola perusahaannya sendiri. Membangun sedari awal dan sukses besar seperti sekarang.
Jujur saja, menjadi direktur di umur yang masih muda dan mampu membuatnya sukses dalam kurun 3 tahun bukan hal yang mudah. Bahkan Jefri tidak ingat kapan terakhir kali dirinya melihat Gio beristirahat dalam sehari.
"Kamu membawa dokumennya kan Jef?" Gio bertanya. "Ya, tuan Ferrald."
Jefri menyerahkan dokumen. Para anggota sudah hadir dalam ruang rapat. Gio berdiri, menjelaskan beberapa hal penting yang berkaitan dengan pemasaran.
Semua mendengarkan seksama. Namun Jefri tak bisa berhenti cemas melihat wajah bossnya semakin pucat serta berkeringat dingin.
"Karenanya, pada bulan ini kita-"
Mendadak Gio menghentikan pembicaraannya. Pria itu memegang kepalanya yang mendadak pening dan pandangannya mulai buram.
Jefri bergegas menghampiri Gio beserta karyawan lain namun Gio menolak. "Aku bisa melakukannya," tegasnya.
"Tapi anda terlihat sakit-"
"Ini hanya pusing biasa!" Gio masih dalam mode keras kepalanya. Jefri mengepalkan tangannya kesal. Gio tidak pernah memedulikan kesahatan dirinya sendiri dan Jefri mulai muak melihat sikap sok kuat atasannya.
"Gio Ferraldo, sebagai seorang sekretaris, saya memerintahkan anda untuk istirahat sekarang!"
Mata Gio membulat. Barusan Jefri berkata informal padanya. "Jefri kamu-"
"Maaf untuk semuanya, tapi rapat hari ini ditunda untuk sementara," tambah Jefri.
Bukannya merasa kecewa, para anggota justru tersenyum. Mereka setuju akan penundaan rapat karena bagaimanapun kesehatan Gio lebih penting dari semuanya.
"Saya akan mengantar anda pulang, tuan Ferrald."
"Tapi dua jam lagi ada pertemuan dengan Mr. Chris."
"Anda bisa menyerahkan tugas itu kepada saya"
Gio tak berkata apapun lagi. Ia menyerah berdebat dengan Jefri. Kepalanya terlalu sakit dan ia memang harus beristirahat sekarang.
"Baiklah."
Jefri pun mengantar Gio pulang kerumah. Membopongnya sampai terbaring di kasur.
"Anda demam tinggi, tuan," kata Jefri setelah mengecek suhu Gio. "Kalau seperti ini, saya tidak bisa meninggalkan anda sendirian."
"Tidak apa Jef." Gio menatap serius pada sekretarisnya. "Aku akan tidur sebentar dan besok pasti sudah sembuh, jadi pergilah dan temui Mr. Chris."
"Tapi-"
"Mr. Chris datang jauh-jauh dari Amerika untuk perusahaan kita. Sejauh ini aku sudah melakukan terbaik yang aku bisa. Aku akan membuktikan pada ayah jika aku mampu menjadi anak yang ia banggakan tanpa harus mewarisi profesi ayahku."
Gio memegang lengan Jefri. Selanjutnya pria tersebut memasang tatapan Jefri yang ia anggap sebagai tangan kanannya. "Jadi datanglah kesana, Jef," pintanya.
Jefri pun melakukan apa yang dipasrahkan Gio kepadanya. Namun, pria itu tetap tidak akan membiarkan Gio sendirian dalam keadaan sakit. Oleh karenanya tanpa sepengetahuan Gio, Jefri mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang saat sudah berada diluar.
'Untuk apa kamu menelponku?'
Jefri sedikit tersentak mendengar pertanyaan setelah dering telponnya terjawab.
"Maaf, saya adalah sekretaris tuan Ferrald. Hari ini tuan sedang sakit jadi bisakah saya meminta bantuan anda untuk menjaganya sebentar?"
Jefri mengulas senyum. Mungkin tidak seharusnya dia ikut campur, tapi hanya hal ini yang bisa ia lakukan.
'Baiklah, aku akan kesana.'
"Terima kasih, nona Gea."