
Gea membelalakkan mata. Beberapa detik lalu dokter yang menanganinya berkata bahwa dia positif hamil. Mia sang kakak langsung bersorak. Dia menciumi Gea penuh kasih sayang. Menelpon orang tua mereka atas berita kebahagiaan ini.
Di ambang pintu, Ryo mengawasi. Pemuda itu hanya terdiam lalu pergi. Gea meraba perutnya. Mengulas senyum tipis hingga Gio datang dengan raut cemas.
"Gea, kamu baik-baik saja kan?"
Gea mengangguk. Pipinya merona lalu beralih pada perutnya. Gio sudah menyadari hal tersebut. Mia telah memberitahunya di jalan. Pria itupun berdeham. "Aku tak menyangka bakal jadi secepat ini," ungkap Gio sedikit malu.
"Terima kasih," Gio mengecup kening Gea.
✒️✒️✒️
Keesokan harinya. Suara gaduh membuat Gea mau tak mau harus membuka mata. Ia menatap ke samping yang kosong. Gio pasti sudah bangun lebih awal. Gadis itu pun beringsut duduk lalu turun dari ranjang.
"Gio,apa yang-" dua wanita cantik yang sedang bersama suaminya menyita perhatian Gea. Ia mendekat. Merasa bingung karena kedatangan mama dan ibu mertuanya.
"Ma.. ibu.. kok kalian disini pagi-pagi?"
Lisa mengembangkan senyuman. Mengecup pipi sang putri dengan sayang. "Tentu aja ngerayain hari bahagia ini dong," ucap Lisa. Mary mengangguk. "Duduklah, kita sarapan bersama," ajak Mary lalu memanggil yang lainnya untuk datang.
Bobby serta Hendry ikut bergabung. Begitupula dengan Mia dan Alvan. Mengetahui berita mendadak, Alvan sampai ijin pulang sebentar dan baru tiba subuh tadi. Sekarang rumah mereka pun ramai. Gio berjalan mendekat. Merangkul Gea dari belakang. "Sebentar lagi aku akan jadi ayah," gumamnya mengecup leher Gea sesaat.
Pipi Gea merona. Ia menarik senyum simpul lalu duduk di meja makan dengan Gio di sampingnya.
"Aku masih tidak bisa membayangkan bakal jadi nenek. Ini sebuah berkah. Kita akan punya dua momongan. Bagaimana perasaanmu Mary?" Lisa merasa terharu. Mary mengangguk mengiyakan. "Putraku satu-satunya akan menjadi ayah. Kupikir aku baru melahirkannya kemarin, tapi sekarang dia bahkan sudah menjadi orang tua seperti kita."
"Kamu harus mengajari anakmu dengan baik nanti," pesan Hendry yang diangguki Gio cepat.
"Kalian berdua benar-benar memgejutkanku. Bagaimana pun selamat untuk kalian!" Mia mengangkat gelas berisi jus. "Bersulang?"
Semuanya pun ikut mengangkat gelas. Saling bersulang atas momen bahagia keluarga mereka.
"Kak Alvan, apa kakak baik-baik saja?" Gea bertanya. Pasalnya, Alvan tampak lemas.
"Aku baik-baik saja. Cuman kurang tidur, tidak perlu khawatir."
"Seharusnya, kamu tidak perlu memaksanya datang, Mia," Bobby menasihati.
Mia mengerucutkan bibir. "Aku tidak memaksanya. Aku haya bilang kalau Gea hamil terus tanpa beri kabar dia ada di depan pintu subuh tadi."
"Tidak apa Pa, Alvan memang sudah berencana pulang. Lagipula Alvan khawatir karena Mia sendirian," ucap Alvan merangkul Mia sayang.
Di tengah kebahagiaan itu, ponsel Gio berdering. Notif oesan muncul dari nomor tak dikenal. Gio pun membuka pesannya. Matanya sedikit membulat karena terkejut lalu segera mengesak ponselnya kembali.
"Ini untukmu."
Gea mengambilkannya makanan di piring untuk Gio. Pria itu mengucapkan terima kasih. Tapi kepalanya masih berkecamuk akan pikiran mengenai pesan tadi. Ia tidak tahu siapa pengirimnya. Mungkin Gio harus mengurusnya nanti.
✒️✒️✒️
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Rose bertanya. Sudah hampir sejam adiknya tersebut melamun menatap jendela. Keadaanya mulai membaik tapi sepertinya tidak dengan adiknya. Ia lebih sering menyendiri akhir-akhir ini. Entah apa yang mengusiknya.
Ryo menoleh. Menggeleng pelan sebagai jawaban. Dia mengambil duduk di sebelah kakaknya. Menggenggam tanganya dengan tatapan lembut. "Aku harus berterima kasih pada Gwen nanti," ucapnya.
Rose tersenyum. "Selama ini kamu menjaga kakak. Maaf ya jika kakaksudah membuat repot"
"Kakak adalah duniaku sekarang. Sudah sewajarnya aku menjaga kakak dan mementingkan kakak di atas segalanya."
Rose terkekeh. Kornea matanya menangkap seseorang yang berdiri di ambang pintu. Ryo mengikuti arah mata sang kakak. Dia terkejut.
"Bagaimana kabar kak Rose?"
"Gea kamu.. oh, kakak sudah sangat baik sekarang."
Ryo berdiri. "Mengapa kamu disini?"
Gea mengangkat sekeranjang buah-buahan. "Apa perlu dijelaskan?" Gadis itu malah membalas dengan pertanyaan. Rose menyenggol lengan Ryo. Menegurnya lewat tatapan.
"Masuklah Gea," Rose mempersilahkan. Gea pun berjalan ke dalam. Menaruh buah-buahan di meja sampai Ryo memengang lengannya.
"Maaf kak, aku perlu bicara sebentar dengannya," ucap Ryo lalu menyeret Gea keluar tanpa mendengar sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu.
"Kau pergi kesini sendiri?" Ryo langsung mengajukan pertanyaan. Mereka ada di taman rumah sakit. Gea melihat tingkah Ryo yang aneh, menurutnya.
"Ya, aku sendiri. Memang kenapa?"
Tampak helaan nafas keluar dari mulut Ryo.
"Seharusnya kamu tidak pergi kesini sendiri."
"Kamu kan sedang hamil. Kalau terjadi apa-apa di jalan gimana?"
Gea tersenyum masam. Ia berpikir reaksi Ryo terlalu berlebihan. "Ryo, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tidak perlu-"
"Kau tidak bisa!" Ryo kelepasan. Dia tidak paham, mengapa ia begitu memikirkannya. "Kau membuatku khawatir," suara Ryo lebih rendah dibanding sebelumnya.
Ryo menatap Gea. Iris matanya yang tajam bertumbuk dengan mata Gea yang lebar. Pemuda itu memasang raut serius sementara Gea masih kebingungan dengan sikapnya.
"Ini tidak akan terjadi jika aku sudah tau kamu telah bersuami sejak awal."
✒️✒️✒️
Gio menenggak kopinya. Pekerjaannya sudah usai beberapa jam lalu. Dia mengambil mantelnya dan bersiap pulang.
Mobil Gio pun melaju cukup kencang. Sejenak pikiran mengenai pesan di ponselnya melesak dalam pikiran nya.
Atensi Gio teralih. Di seberang jalan tampak seorang pria tengah menganiaya wanita. Ia pun terhenti. Berniat mengabaikan tapi teriakan keras mengurungkan keinginannya.
"Sudah kubilang aku tidak punya uang!"
"Jangan bohong padaku ******!"
Pria berkumis dengan jenggot tipis itu hendak menampar tapi Gio segera menghalanginya. Ia melepas cengkeraman sang oria pada rambut wanita tersebut.
"Apa masalahmu!?" Pria itu bertanya. Karena takut, wanita itu pun bersembunyi dibalik punggung Gio.
"Saya hanya mencegah anda menyakitinya lebih jauh. Saya tidak paham akan permasalahan kalian tapi pertengkaran kalian cukup keras sampai saya merasa terganggu."
Pria itu tersedak. "Ini adalah masalahku dengan putriku. Mengapa orang asing seperti mu harus ikut campur?"
"Kemari kau!" Pria itu memanggil sang wanita yang masih enggan menghampiri. Gio menoleh. Melihat wajah sang wanita yang tiba-tiba terasa familiar. Mata mereka saling membulat tak percaya.
Sementara orang-orang berkerumun melihat pertengkaran diantaranya. Pria berkumis itu berusaha menarik wanita tersebut kembali tapi tangan Gio menghalanginya. Ia memasang senyuman ketika sang pria menatapnya bengis.
"Sepertinya saya tidak bisa membiarkannya ikut dengan anda," Gio segera melepaskan cengkeraman sang pria,lalu menyembunyikan wanita itu dibalik badannya. Memandnag sang oria berkumis dengan tajam. "Melakukan kekerasan pada putri anda sendiri bisa dihukum pidana. Apa anda ingin saya melaporkan tindakan anda pada pihak berwajib?"
Pria itu kehabisan kata-kata. Ia berdecih lalu menendang angin. Menunjuk anaknya sendiri. Memperingati dan pergi.
✒️✒️✒️
"Aku tidak sadar bahwa itu kamu," wanita tersebut tersenyum. Sudut bibirnya berdarah. Tangannya penuh memar dan ada bekas luka di dahi. Gio memberikan secangkir minuman hangat. Mereka duduk di salah satu cafetaria. "Melihat keadaanmu yang begini, sepertinya kamu tidak baik-baik saja."
Ucapan Gio dibalas gelakan ringan. Mata wanita tersebut mulai berkaca-kaca. "Orang tuaku bercerai tiga tahun lalu. Kemudian ibuku menikah lahit dengan seorang lelaki yang bahkan... tidak pernah bisa berperilaku baik." Lina, wanita yang merupakan teman semasa SMA Gio itu menangis. Ia menutup wajahnya. "Aku malu kamu melihatku begini," katanya.
"Apa ibumu tau?"
Lina menggeleng. "Ibu meninggal setahun yang lalu."
"Ah,maaf aku tidak bermaksud.."
"Tidak apa."
Keheningan pun menyelimuti mereka beberapa saat. Lina menenguk minuman hangatnya, lalu membentuk lengkungan bibir. "Terima kasih atas bantuan mu."
Gio mengangguk ringan. Ia memerhatikan Lina yang entah mengapa membuatnya iba. "Setelah ini kamu berencana kemana?"
"Pulang, tentu saja."
"Ke rumahmu tadi?"
Lina mengangguk. "Aku tidak punya tempat tinggal lain. Lagipula pekerjaannku hanya bisa buat makan sehari-hari. Aku menyedihkan bukan?"
Sekali lagi suasana menghening. Gio masih terdiam sampai minuman Lina habis dan gadis itu berdiri. "Terima kasih. Lain kali aku akan membalas kebaikanmu. Dan terima kasih juga untuk traktiran minumannya."
✒️✒️✒️
Malam semakin larut. Gea termenung dalam pikirannya. Gadis itu mendadak tak bisa tidur dan merasa khawatir. Ia mengalihkan atensi ketika mendengar suara pintu terbuka. Gea segera menyambut kedatangan suaminya dengan pelukan.
"Mau kubuatkan minum?" Gea memberikan tawaran.
"Aku mau langsung tidur saja."
Gea memandang suaminya yang berjalan menjauh. Melepaskan dasi dan seragamnya. Namun tetap saja ada yang aneh. Sesuatu yang tidak biasanya Gio lupakan. Padahal pagi tadi ketika bekerja ia kenakan.
"Mantel cokelatmu kemana?"