
4 tahun yang lalu.
"Bian, aku suka kamu!"
Mata Bian membulat. Di depannya berdiri seorang gadis berambut panjang yang dihiasi pita kecil pada poninya.
Gadis tersebut tidak berani memandang Bian. Kepalanya menunduk karena menahan malu. Ini merupakan pengalaman pertama baginya.
Setelah hening beberapa saat, Bian mencoba menjawab sehalus mungkin agar tidak melukai.
"Maaf Chesi.." Bian menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai."
Chesi mendongak. Wajahnya tampak sedih karena ditolak. Bian mencoba mengulas senyum. "Aku tau kamu dekat dengan Gea, tapi aku tidak menyangka kamu akan menaruh perasaan padaku."
Chesi tidak ingin terlihat menyedihkan. Meski matanya mulai berair, bibir mungilnya membentuk lengkungan.
"Aku terlalu berharap ya," gumamnya putus asa. "Sebenarnya, karena masa SMP kita mulai berakhir, aku pikir lebih baik aku menyatakan perasaanku padamu."
Air mata mulai mengalir di kedua pipi Chesi. "Kedua orang tuaku akan menyekolahkanku di Singapura. Aku hanya takut tidak bisa bertemu denganmu."
Chesi tertawa ringan. Ia mengusap pipinya yang basah karena air mata. "Setidaknya kamu sudah tau perasaanku, itu sudah membuatku lega."
"Chesi-"
"Sampai jumpa Bian!"
Chesi berlari meninggalkan Bian. Setelahnya, mereka menjadi sangat canggung. Terutama Bian, karena lelaki itu merasa bersalah. Perasaannya tidak bersama Chesi dan itu sedikit membuat Bian terbebani.
Dan seperti yang Chesi bilang. Gadis itu benar-benar pergi. Gea mengantar temannya sampai bandara. Awalnya Bian diajak, namun lelaki itu menolak dan memilih mengikuti mereka secara diam-diam.
Dirinya masih takut menampakkan diri di depan Chesi. Karena ia tidak ingin Chesi menaruh perasaan padanya yang bahkan sudah mencintai orang lain. Bian tidak mau Chesi terluka.
Sayangnya, Bian tidak pandai bersembunyi. Chesi menemukannya dan berpura-pura tidak tahu. Meski hanya diam-diam, gadis itu merasa senang dengan apa yang Bian lakukan.
Dan sampai sekarang perasaan untuk lelaki itu masihlah sama.
✒️✒️✒️
Empat tahun sudah berlalu dan Bian masih bersikap dingin kepadanya. Chesi merasa kesal. Sudah cukup ia sakit hati karena ditolak dan sekarang semakin sakit hati karena di abaikan.
"Bian, apa kamu membenciku?"
Lelaki itu menjawab dengan nada pelan. "Aku sama sekali tidak membencimu."
Bian tidak merespon. Matanya menatap ke bawah. Dirinya tak punya keberanian berbicara di depan Chesi sekarang.
"Hanya karena aku menyatakan perasaanku, kita menjadi canggung. Kamu tau, sebenarnya aku rindu akan tawamu."
Chesi memutar kenangan masa lalu. Dimana dia bertemu dengan Bian pertama kali dan menyukainya. Mungkin Chesi terlalu bodoh karena banyak berharap tapi meski gadis itu mencoba melupakan Bian, kenyataannya justru membuatnya semakin merindukan lelaki blasteran Kanada tersebut.
Berulang kali Chesi menerima banyak cinta pada lelaki diluar sana. Termasuk ketika dia ada di Singapura. Tetapi tidak ada yang mampu membuat Chesi benar-benar jatuh cinta.
Dan hari ini Chesi sedang berdiri di depan Bian sama seperti empat tahun lalu. Gadis itu berdebar, wajahnya memanas dan matanya sendu. Bian tidak mengatakan apapun. Tangan Chesi mengepal, dia mendongak menatap Bian yang lebih tinggi darinya.
Perasaan itu masih sama.
Chesi tidak mengerti mengapa diantara semua lelaki haruslah Bian orangnya.
"Bian."
Bian menatapnya perlahan. Ini adalah kesempatan. Dimana hanya ada Bian dan Chesi seorang.
"Aku akan melupakanmu, jadi bisakah kita kembali dekat seperti dulu."
Terasa sakit dan menyesakkan, namun inilah yang harus Chesi lakukan.
Bian menjauhinya karena tidak ingin dirinya terluka. Dan jika Chesi melupakan Bian, maka tidak ada alasan lain untuk Bian mengabaikannya.
Setidaknya mereka bisa berteman.
Itu sudah lebih dari cukup.
Dan Chesi berdoa kepada Tuhan, semoga dia diberi kekuatan. Agar dirinya tidak kembali jatuh pada pesona Bian Michaelis. Biarlah semuanya jadi rahasia diantara mereka berdua. Dan Chesi berharap Bian bahagia.
Walau Chesi sendiri sedikit tidak yakin bisa melalui semuanya. Bian adalah cinta pertamanya dan jika lelaki itu tidak ditakdirkan untuknya. Semoga orang yang akan bersama Bian di masa depan adalah orang yang baik dan mampu menjaga Bian sepenuh hati.
Bibir Bian melengkung tipis. "Tentu," jawaban singkat itu melegakan Chesi. Akhirnya dia bisa melihat Bian tersenyum kepadanya setelah sekian lama.
Dibandingkan dengan Chesi, Bian justru khawatir. Kepalanya masih merasa resah akan kemana Gio membawa Gea pergi. Lelaki itu berpikiran buruk.
Apakah terjadi sesuatu antara Gio dan Gea yang Bian tidak tahu?