
Pagi hari itu, Alvan membuka mata dan melirik sampingnya dimana Mia masih tertidur nyenyak. "Eunggh.." Wanita itu melenguh lalu perlahan bangun dan tersenyum melihat wajah Alvan. "Pagi," sapanya.
"Pagi honey." Alvan mencium kening Mia lembut lalu memeluknya. Wajah Mia memerah. Ia merasakan ada yang mencium tengkuk lehernya. "Kamu lelah?"
Mia menggeleng. Ia mengecup Alvan lalu berlanjut memeluknya lagi.
"Hari liburku akan berakhir besok. Tapi kamu jangan khawatir, kali ini aku tidak ditugaskan kerja diluar kota, jadi kita masih bisa bertemu."
"Baguslah."
Alvan melepas pelukan. Dia beranjak dari tempat tidur dan menampilkan tubuh atasnya yang tak dibaluti pakaian.
Mia ikut duduk di sebelah Alvan dengan sebelah tangan memegangi selimut guna menutupi tubuhnya. Wanita itu memandang khawatir.
"Kemarin aku melihat Gea bersama Bian," katanya.
"Lalu?" Mia tak mengerti.
"Aku tau aku tidak boleh ikut campur, tapi aku rasa Bian menaruh perasaan pada Gea."
Mia terdiam. Dia mendekat kearah suaminya. "Bian adalah teman Gea. Mereka sudah bersama sejak kecil."
"Lalu kamu percaya pertemanan itu?" Alvan bertanya.
"Tidak."
Suasana mereka berubah dingin. Alvan memegang tangan Mia. "Awal aku mencintaimu adalah karena kita teman. Dan melihat kedekatan Gea dengan Bian membuatku berpikir buruk. Aku hanya ingin Gea mendapat yang terbaik. Jika dia tidak menyetujui perjodohannya, aku tidak akan memaksa."
Mia tersenyum. "Aku juga berpikir demikian."
"Tapi pendapat Papa dan Mama pasti berbeda," tambah Mia dengan nada sedih.
✒️✒️✒️
"Jangan tutup matamu Gea! Mama sedang makein eyeliner nih!" Lisa menggerutu merasakan Gea tidak bisa diajak kompromi. Putrinya itu terus saja bergerak tak bisa diam ketika Lisa mendandaninya.
"Gea takut Ma! Entar kalo pensil eyelinernya nusuk bola mata Gea gimana? Terus bola mata Gea meletus, Mama mau tanggung jawab?"
"Eyelinernya gabakal nusuk kalau kamu bisa diam dan nurut kata Mama. Daritadi gerak mulu, entar make up kamu jelek. Hari ini kamu kan wisuda, harus tampil cantik."
"Tapi Ma.."
"Sudah diam!"
Mendengar keributan, Mia masuk kedalam kamar Gea. Adiknya masih belum siap sejak subuh tadi. Hal yang paling susah adalah ketika mendandani Gea Emeralda. Lisa sampai berkeringat karena mengurus putrinya sendiri selama tiga jam.
Mia tertawa melihat perdebatan sang Mama dan adiknya, lalu ikut membantu. Ia memegangi Gea agar tidak berkutik ketika Lisa memoles wajahnya dengan rangkaian make up miliknya.
Beruntung semuanya tepat waktu. Bobby dan Alvan sedang main catur bersama di bawah. Hari ini mereka berdua sedang menikmati liburan. Dan saat Gea menuruti anak tangga, Kedua pasang mata tersebut teralihkan.
Gea kelihatan anggun dan cantik. Bobby sampai menganga melihat putrinya sendiri.
"Duh, anak Papa cantik sekali" pujinya merasa terharu. "Kamu harus sering-sering dandan gini dong. Jangan dekil mulu! Biar Gio makin nempel ke kamu," lanjut sang Papa yang ditatap kesal sama Gea.
"Papa mah bawaannya Gio mulu, sebel! Gea kan udah bilang ratusan kali, Gea tuh gak mau dijodohin ama guru Gea sendiri."
Melihat suasana menjadi tegang. Alvan segera menarik Gea. "Kakak antar kamu ya?"
Bobby terdiam. Lisa mendekat kearah suaminya dan memegang bahunya. "Aku tidak mengerti mengapa putri kita tidak tertarik pada Gio sama sekali."
"Belum waktunya, suamiku. Mungkin hubungan mereka butuh proses."
Mia tak menanggapi. Ia tidak ingin semuanya menjadi rumit jika dirinya bilang bahwa bisa jadi ada orang lain yang Gea sukai. Tapi, Mia sendiri belum yakin akan hal ini.
✒️✒️✒️
Alvan melirik Gea yang sedari tadi sibuk dengan penampilannya. Gadis itu hendak melepas higheels yang terpasang di kaki sebelum Alvan menghentikannya.
"Apa yang kamu lakukan, kita hampir sampai di sekolah loh."
"Tapi aku trauma pakai sepatu ginian kak. Sakit pula. Mending pakai sendal."
Alvan menepuk jidat. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi. "Kakak paham, tapi wisuda itu adalah acara penting. Masa kamu mau pakai sendal? Kamu mau diejek teman sama gurumu nanti?"
"Tapi kak-"
"Gak ada tapi-tapi an, pasang balik!" ucap tegas Alvandi Lesmana.
Gea cemberut, sementara Alvan menghela nafas. "Setidaknya, cobalah untuk merubah dirimu. Kamu sudah beranjak dewasa Gea. Sebagai wanita kamu harus menjaga penampilan dan sikap. Nanti tidak ada laki-laki yang melirik kamu loh."
Gea memasang kembali higheelsnya dengan berat hati. "Apakah laki-laki lebih suka dengan gadis yang berdandan? Apakah perlu menjaga penampilan hanya untuk dilirik oleh laki-laki? Jika iya, maka aku benci dengan laki-laki. Karena mereka tidak mau menerima sisi wanita apa adanya. Mereka hanya menyukai gadis cantik dan memiliki banyak keahlian yang cocok dijadikan idaman."
"Memandang dari hati? Kurasa itu hanya mitos. Penampilan adalah hal yang dilihat pertama. Dan entah mengapa itu berbeda dengan persepsiku. Apa saat bertemu dengan kak Mia, kak Alvan juga seperti itu?" Gea memandang Alvan sembari menunggu jawabannya.
Alvan tersenyum. "Tidak."
"Kamu tau sendiri saat SMA kakakmu itu gendut, tomboy, sering ikut tawuran, dan dekil." Alvan jadi tertawa mengingat bagaimana dirinya bisa jatuh cinta pada Mia yang dulunya amat dijauhi lelaki.
"Tapi bagiku, Mia adalah wanita tercantik yang pernah kutemui di dunia ini. Dan lihat, setelah menikah denganku, dia banyak berubah. Dia mulai diet, perawatan dan memakai make up, meski bagiku itu tidak perlu."
Mendengar perkataan Alvan, Gea tersenyum bahagia. "Aku senang kak Mia mendapat orang seperti kakak."
Keduanya pun tiba di sekolah. Alvan serta Gea turun dari mobil. Alvan mengecek ponselnya sambil menggandeng tangan Gea karena gadis itu kesusahan berjalan akibat higheels miliknya.
"Papa, Mama dan Mia akan menyusul sebentar lagi. Untuk semenatara kamu ditemani kakak ya?"
Gea mengangguk. Mereka berjalan sampai aula. Gea melepas genggaman, selanjutnya gadis itu ingin berjalan sendiri karena tempat duduk para wisudawan berbeda dengan tempat duduk wali.
Banyak pasang mata melihat mereka. Entah karena asing dengan sosok Gea atau karena sosok Alvan yang rupawan.
"Gea?" seseorang menyapa. Desi, teman sekelasnya memandang takjub. "Wah, kamu cantik banget."
Desi melirik Alvan lalu menoleh kembali kepada Gea seolah bertanya 'Siapa dia?'
"Kakak iparku. Eh, kita duduk dimana?"
"Oh, di sebelah sana."
Gea pun pamit pada kakaknya untuk mencari tempat duduk. Setelah jarak mereka sudah jauh, Desi berbisik padanya. "Ngomong-ngomong, hidupmu beruntung sekali."
"Beruntung apa?" tanya Gea tak mengerti.
"Kamu dikelilingi cowok tampan. Si Bian, lalu Pak Gio abis itu Kakak Iparmu. Tidak semua orang bisa sepertimu loh. Pantes kamu biasa aja kalau lagi sama Bian, soalnya mata kamu udah kebas sama orang-orang tampan. Aku jadi penasaran seperti apa rupa Papamu, apa dia juga tampan?"
"Hehehe, nggak juga kok." Gea tertawa garing. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Papanya seorang model majalah Elle, dan penulis novel. Kehidupan Gea bisa jadi berantakan nantinya.