Amour

Amour
Thirty Six



"Gio, apa kamu sudah tidur?"




"Belum."




Gea membalikkan badan begitu halnya dengan Gio. Mata mereka bertatapan dengan semburat merah pada wajah keduanya.




"Mengapa kamu tidak tidur? Kamu bisa sakit nanti," Gea menasihati.




"Kamu sendiri? Kamu juga tidak tidur," balas Gio.




Gea menelan ludah. Mencengkeram selimut dengan erat. "Aku tidak bisa tidur."



"Sama" Gio bangkit dari tidurnya. "Mau bermain?" tanyanya.





1 jam kemudian..




"Hei, kamu curang!" protes Gea tak terima. Menekan-nekan layar persegi dengan kesal. Gio terus saja menghujani dirinya dengan tembakan.




"Kamu dari tadi ngumpet mulu, takut kalah ya?" sindir Gio yang semakin membuat Gea frustasi.




Mereka berdua saling fokus pada game di ponsel. Beradu tanding diatas kasur berdua.




Waktu berlalu. Hingga tanpa sadar keduanya tertidur. Baik Gea maupun Gio tidak tahu bahwa mereka sedang ada dalam satu ranjang hingga pagi menjelang.




Gio merasakan tamparan telapak tangan pada lehernya. Kemudian seseorang memeluk tubuh Gio bagai guling.




Gio membuka mata. Bersamaan dengan Gea karena merasa ada sesuatu yang ganjil. Mereka bertatapan sesaat.




"AAAAAAAAAAAA!!!!" teriak keduanya.




"Apa yang kamu lakukan padaku?!" tanya Gea buru-buru bangkit.




"Tunggu dulu, aku tidak melakukan apapun!" sahut Gio yang juga bangkit dari tidurnya.




"Bagaimana kita bisa seranjang?" Gea berpikir. Mengingat dirinya dan Gio sedang bermain game hingga larut dan tanpa sadar merebahkan diri bersama Gio Ferraldo.




"Astaga!" Gea menepuk jidat.




Gio merasa bersalah. Dia ingin menenangkan Gea, namun gadis itu malah memandangnya tajam. "Kamu akan keluar pagi ini?"




Gio melihat jam weker. "Iya, tapi masih ada sisa 2 jam lagi sebelum rapat."




"Oh." Bukannya pindah, Gea malah membaringkan tubuhnya lagi di tempat tidur.




"Em, Gea-"




"Aku masih ngantuk."




Gio menelan ludah. Membaringkan diri perlahan di sebelahnya. "Aku juga masih ngantuk," alasannya.




"Bilang saja kamu ingin berdua denganku di kasur lebih lama," cetus Gea yang langsung membuat Gio tergagap. "E-Engga kok," pria itu mengelak namun melihat mata Gea yang tajam, ia jadi takut. "Iya.." ungkapnya.




Gea tertawa. "Kamu itu keterlaluan polosnya. Kamu takut padaku ya?"




"Tentu aku takut." Gio memasang ekspresi serius.




"Aku takut kehilanganmu."




Gea terdiam. Gio menatapnya dalam jarak dekat. "Aku akan selalu disisimu. Kamu tidak perlu takut akan hal itu," balas Gea dan Gio pun tersenyum. Mendekatkan bibir namun segera mengalihkan tujuannya dan mengecup ringan kening Gea.




"Aku akan melakukannya saat kita resmi menikah nanti," ucap Gio seraya menaruh jari telunjuknya di depan bibir Gea yang mungil.




"Hei! Dasar mesum!" Gea berseru marah sambil tersipu atas perkataan Gio padanya. Gadis itu menepuk-nepuk lengan Gio.




"Aw! Sakit!" ringis Gio bercanda. Gea tak memedulikan dirinya dan malah berakhir kejar-kejaran. Keduanya tertawa layaknya anak-anak.







✒️✒️✒️






Seperti biasa, ketika Gio sedang sibuk dengan pekerjaan, Gea akan ikut. Berjalan-jalan di sekitar kantor ataupun bersenda gurau dengan karyawan Gio.




Yuna melihat Gea yang sedang asyik dengan teman-temannya, namun wanita itu tidak banyak merespon karena sibuk dengan pekerjaannya.




Jefri menyempatkan diri untuk menemani Gea. Melihat-lihat gedung perusahaan milik Chris sampai mencicipi restoran cepat saji di dekat gedung.




"Gio lama sekali," keluh Gea sambil menggigit hamburgernya.






Gea menjilati ibu jarinya yang terkena keju mozarella. "Ngomong-ngomong Jef, aku tidak melihat kak Yuna hari ini."




Mendadak membahas Yuna, Jefri terdiam sesaat. "Ada urusan yang harus dia lakukan," jawabnya.




"Oh ya.." segera Jefri mengalihkan pembicaraan. "Karena ini hari terakhir, kemungkinan ada pesta. Dan kurasa tuan Ferrald juga akan sekalian mengadakan reuni bersama teman-temannya di Harvard."




"Lalu?" Gea bertanya tidak mengerti.




"Anda harus berdandan yang cantik nona Gea. Anda tidak mau kan, kalau kalah sama wanita-wanita glamor di pesta? Nanti tuan Ferrald bisa berpaling dari anda loh," Jefri menyarankan.




Gea berdecih. "Buat apa? Kalaupun dia tergoda sama wanita di pesta, itu berarti dia tidak tulus mencintaiku. Dengan begitu aku bisa menyimpulkan jika Gio bukan pria baik-baik," Gea menyahut santai.




"Anda yakin? Soalnya aku pernah dengar rumor jika tuan Ferrald sangat famous di kampus."




"Bodoamat, masih banyak pria diluar sana yang bisa melampaui Gio Ferraldo. Aku tidak peduli, dia akan berpaling padaku atau tidak."




Jefri mengangguk ringan. "Baiklah, kalau anda tidak merasa khawatir."












Beberapa jam setelahnya...





"Yang ini bagus tidak ya? Aku seperti kena gizi buruk kalau pakai ini!" Gea memilah-milah bajunya di koper. "Kenapa sih, tidak ada pakaian yang cocok! Semuanya jelek!" serunya.




Ia melihat jam weker. "Sebentar lagi Gio pulang. Aku harus cepat!"




Gea mengobrak-abrik pakaiannya. Hingga akhirnya dia menemukan satu dress yang sempat ia bawa untuk berjaga-jaga. Dress maroon yang Gea beli bulan lalu. Tanpa pikir panjang, Gea segera memasukkan kembali pakaian yang tidak ia pilih ke dalam koper dan menyembunyikan dress maroon itu ke dalam lemari untuk sementara.




Pintu terbuka. Gio melihat Gea sedang bebersih ruangan. "Gea, kamu sedang apa?" tanyanya.




"Oh, tidak. Ini hanya kelihatan berdebu," dusta Gea.




Gio dapat melihat bahwa kaca yang dikatakan Gea berdebu itu masih kinclong dan bersih.




Gea menelan ludah. Takut jika kebohongannya terbongkar, namun sepertinya Gio tidak membahas lebih jauh. Ia tiba-tiba mengangkat tubuh Gea yang ringan itu ke atas. "Hei, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!"




Gio mengulas senyum. "Tidak, sebelum kamu mengatakan apa yang kamu sembunyikan dariku," jawab Gio.




"Aku tidak menyembunyikan apapun!" elak Gea.




Gio tidak percaya, dia malah mengguncangkan tubuh Gea dan membuat gadis itu ketakutan. "Gio, turunin aku!" teriaknya.




Gio tertawa lalu menghamburkannya ke dalam pelukan. Menggendong Gea layaknya bayi. "Nanti malam ada pesta, kamu mau ikut?" tanya Gio.




Gea merangkul leher Gio. Menikmati digendong oleh pria tersebut. "Ya, aku sudah tau," jawabnya.




"Dari Jefri?"




"Tentu saja."




Gio membuat Gea bertatapan padanya. "Jadi, apa kamu mau ikut?" tanya Gio sekali lagi.




"Kamu pikir aku mau ditinggal sendirian disini? Tentu aku ikut."




"Baguslah."




Gea kembali merangkul leher Gio. "Aku suka digendong begini," ungkapnya jujur.




Gio tertawa. "Apa perlu ku puk puk kamu seperti bayi betulan?"




Pipi Gea bersemburat. "Gak. Cukup seperti ini saja." Gea menekankan kalimatnya. "Ngomong-ngomong aku suka aromamu. Padahal kamu baru pulang kerja. Belum mandi lagi."




Alis Gio terangkat.




Gea menarik kepalanya agar matanya beradu kembali ke Gio. "Rahasia kamu apasih? Mengapa badan kamu selalu wangi? Padahal kamu jarang pakai parfum," Gea bertanya serius.




Gio sedikit gelagapan karena tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya, dia sama sekali tidak punya rahasia khusus dalam merawat tubuh maupun penampilan. Alhasil, Gio hanya menampilkan senyum canggung.






"Tentu rahasianya adalah karena kamu-"




"Jangan coba nge gombal deh!"