Amour

Amour
Twenty Four



Grace mengetuk kamar Bian. Hari ini ia sengaja mengambil cuti untuk bisa bersama anaknya seharian sekaligus meminta maaf. "Bian, ayo bangun sayang. Kita sarapan bersama yuk?"




Merasa tak ada jawaban setelah Grace mengetuk pintunya berulang kali, wanita itu pun masuk ke dalam.




"Bian?"




Mata Grace membulat melihat Bian tidak ada di kamarnya. Grace mulai panik. Dia memanggil bibi Sumi selaku pembantu di rumahnya apa beliau tahu Bian dimana atau tidak.




Sayangnya bibi Sumi menggeleng, sementara motor Bian ada di rumah. Semua pembantu tidak ada yang tahu Bian kemana. Hal ini membuat Grace semakin frustasi. Wanita tersebut pun mengambil kunci mobil dan pergi mencari Bian.






✒️✒️✒️






Gio memandang datar perilaku karyawannya. Ada yang memutar musik keras-keras, menonton drama, bergosip, bahkan ada yang tidur.




"Aku hanya cuti sehari tapi kalian santai sekali ya?" katanya.




"Maafkan kami tuan Ferrald," sahut para karyawan merasa bersalah.




Gio menepuk jidat. Pria itu pun pergi ke ruangannya tanpa mengenakan seragam kantor. Hari ini dia memang berniat ke perusahaan sebentar untuk menandatangani berkas saja, tapi melihat kelakuan para karyawannya membuat dirinya kembali sakit kepala.





Yuna memasuki ruangan. Wanita cantik itu memberikan berkas dokumen pada Gio Ferraldo. "Terima kasih sudah menyimpannya, Yuna."




"Sama-sama tuan Ferrald."




Jefri memerhatikan gerak-gerik Yuna pada Gio. Wanita itu tidak beranjak dari posisinya dan menunggu hingga Gio selesai menandatangani berkas-berkasnya.




"Apa ada masalah selama aku dan Jefri tidak ada?"




"Selain hanya keributan, kurasa tidak ada masalah tuan."




Gio menghela nafas. Ia menyunggingkan senyum. "Kurasa ada baiknya kita liburan sebentar."




Sontak Jefri tersedak begitu pula dengan Yuna yang menatap tidak percaya.




"Maksud tuan Ferrald, kita semua liburan?"




Gio mengangguki pertanyaan Jefri. "Ya, aku akan meliburkan seluruh karyawan kita."




"T-Tapi bagaimana dengan perusahaan? Siapa yang akan menjaganya?" Giliran Yuna yang bertanya.




"Kamu tidak perlu khawatir, aku memiliki seseorang yang aku percaya untuk menggantikan posisiku sementara waktu."




Jefri berteriak kegirangan namun lain halnya dengan Yuna. "Tuan Ferrald, saya harap anda mempertimbangkan hal ini dengan baik."




"Aku sudah merencanakannya Yuna. Mr. Chris menghubungiku dan mengajakku ke Amerika lusa. Dan setelah kupikir-pikir akan lebih baik sekalian liburan. Lagipula kalian juga butuh refreshing bukan? Untuk biaya transportasinya kalian tidak perlu khawatir, kalian hanya perlu membawa uang saku dan pakaian karena kita akan ada disana selama beberapa hari."




Mereka terkejut sekaligus terharu. Gio memberitahukan kepada seluruh karyawan dan semuanya bersorak kegirangan. Biaya yang dikeluarkan Gio tidak main-main. Jumlah karyawannya ada sekitar ratusan tapi pria itu tidak keberatan harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya transport para karyawannya.




Jefri tidak sabar menanti. Pria itu antusias dan tersenyum lebar. Dia terus menerus menanyakan perihal keberangkatan mereka pada Gio. "Ini adalah pertama kali saya ke Amerika. Terima kasih tuan Ferrald," kata Jefri senang.




"Itulah mengapa aku mengajak kalian semua. Dan kamu harus mempersiapkan dirimu karena disana banyak sekali wanita cantik."




"Oh, astaga! Aku harus tampil tampan nanti!"




Gio tertawa melihat tingkah sekretarisnya. Pria itu melihat ke arah jendela. 'Sepertinya, aku harus mengajak Gea juga' pikirnya.






✒️✒️✒️






Matahari semakin meninggi. Cuaca diluar begitu panas sementara Bian tertidur lelap di ranjang milik Gea.




Lelaki itu kelelahan dan matanya sedikit bengkak akibat terlalu banyak menangis. Sebenarnya Gea sedikit kesal karena Bian tidak mengatakan apapun padanya. Sejak mereka berteman, Bian tidak pernah mau membagi cerita ataupun berkeluh kesah. Temannya itu lebih suka menyimpannya sendiri hingga kesakitan seperti ini. Bian itu lemah. Dia tidak pernah bisa berdiri sendiri tapi anehnya dia sangat baik dalam sikap memimpin seolah ia dapat diandalkan meski dalam hatinya dia hanya lelaki rapuh dan kesepian.





Gea keluar dari kamar. Dilihatnya Mia sang kakak dan Alvan dibawah. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Gea sambil menuruni anak tangga.




Mia terlihat khawatir sementara Alvan sepertinya baru saja pulang dari pekerjaannya. "Kamu sudah di rumah rupanya," kata Alvan mengalihkan pertanyaan Gea.




"Kemarin Mama bilang kamu menginap di rumah teman, kupikir siapa rupanya Gio ya?" nada Alvan terdengar meledek.




"Dia sakit dan aku terpaksa merawatnya," Gea menjelaskan dengan agak malas lalu duduk di sofa.




"Oh begitu."




"Lupakan soal kemarin, Papa dan Mama kemana?"




"Papa ada pemotretan, mungkin pulang malam kalau Mama sedang ke event beauty," jawab Mia.




Gea memerhatikan raut kakaknya yang aneh. Gadis itu tidak membicarakannya, Gea sudah mengetahui bahwa Mia pasti mengkhawatirkan tentang Bian yang ada di rumahnya. Ya, sejak Gea mulai dijodohkan, semua orang di rumah menjadi sensitif. Terutama Mia, sebab kakaknya tersebut tidak ingin Gea tertimpa masalah.




"Bian ada di rumah. Dia sedang tidur sekarang," ungkap Gea jujur. Mia terkejut, wanita itu menoleh pada Alvan yang rupanya tidak merespon banyak.




"Apa yang terjadi?" tanya Alvan.




Gea menggeleng. "Dia tidak bercerita padaku. Sebenarnya ini pertama kali aku melihat Bian terlibat tawuran."




"Kamu sudah menghubungi orang tuanya?"




"Tadinya, tapi saat aku melakukannya, Bian memohon padaku untuk tidak menghubungi orang tuanya."




Alvan terdiam. Pria itu berdiri dan melonggarkan dasi. Melangkahkan kaki menuju kamar Gea untuk melihat keadaan Bian yang terlelap.






Gea mengangguk. "Oke," sahutnya tersenyum.




Alvan pun pergi ke kamarmya sendiri diikuti oleh Mia. Alvan terlihat merenung. Mia menghampiri suaminya di tempat tidur dan duduk bersamanya.




"Ini bukan seperti yang aku inginkan, Mia."




Mia menautkan kedua alis. "Setiap kali aku melihat Bian, aku merasa kasihan padanya. Entahlah, aku sampai memiliki pemikiran seandainya Bian dan Gea tidaklah dekat."




"Kamu kasihan karena Bian akan menjadi pihak yang tersakiti bukan?"




Mia menghembuskan nafas. "Kita belum bisa menyimpulkan secepat itu Al. Saat ini Gea belum mengerti perasaannya sendiri dan lagipula kamu belum mengenal sosok Gio Ferraldo. Kalian hanya bertemu kemarin."




"Bagaimana denganmu? Kamu sudah mengenalnya lebih dalam?"




Mia menggeleng. "Sejauh ini belum. Gio terlalu misterius untukku tetapi mengingat Papa dan Mama yang begitu gigih ingin menjodohkan Gea dengan pria itu, ada kemungkinan Gio memang pasangan yang terbaik untuk Gea. Tapi seseorang tidak bisa dilihat hanya dari sampulnya saja bukan?"




Mendengar perkataan Mia, Alvan tersenyum. "Semuanya tergantung pada Gea."






✒️✒️✒️






Bian terbangun dari tidurnya. Hal yang dilihatnya pertama kali adalah Gea yang sedang berada di balkon sambil memegang layar persegi.




Bian bangkit dan mendekat ke arah Gea. Merangkul pundaknya dari belakang dan menyandarkan kepala. Gea terkejut. Ia menoleh mendapati Bian sudah ada disampingnya.




"Sudah bangun?"




Bian menjawab dengan gumaman tidak jelas. Sorot matanya menatap pemandangan diluar sana. "Sedang chat an sama siapa?" tanya Bian.




Gea segera mengesak ponselnya dan tertawa garing. "Chesi, dia menanyakan dirimu," jawabnya.




Bian melepas pelukannya dan beralih bersandar pada pagar balkon. "Kedua orang tuaku bercerai," katanya tiba-tiba.




Gea tersentak sesaat, namun ia berusaha menenangkan Bian. Gea lega Bian mulai membagi masalah padanya. "Kamu marah karena itu?"




"Tentu saja. Di dunia ini tidak ada yang menginginkan orang tuanya bercerai. Apalagi secara diam-diam."




Bibir Gea mengatup rapat. Mata Bian menajam dan tampak dingin. "Aku tidak ingin memihak orang tuamu ataupun dirimu Bian, dan aku tidak bisa menyalahkan." Gea mengalihkan atensi pada lingkungan sekitar.




"Jika aku ada di posisimu tentu aku akan marah, sedih dan kesal. Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah keputusan mereka. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka."




"Jika seperti itu, harusnya mereka tidak menikah. Untuk apa mereka menikah jika akhirnya akan bercerai?"




"Jika mereka tidak menikah, maka kamu tidak akan ada, Bian," sela Gea.




Bian terdiam. Gea menghampirinya. Menepuk pundaknya dengan tersenyum lebar. "Dunia orang tua berbeda dengan dunia kita. Mereka pasti sudah memikirkannya secara matang-matang dan tentunya memikirkan dirimu tetapi apabila masalah mereka sudah tidak bisa di selesaikan dan hanya perceraian satu-satunya jalan, maka semua itu bisa terjadi, Bian."




"Itulah mengapa sebelum menikah kita harus memikirkan dalam-dalam. Pernikahan bukan hal yang dapat di remehkan karena dari pernikahan kita akan terikat dengan seseorang yang kita cintai. Baik senang maupun duka, hidup semati bersamanya."




Setelah mengatakannya Gea sadar. Apa yang mulutnya ucapkan membuka pikiran Gea bahwa tidak seharusnya ia menikah buru-buru. Perjodohannya dengan Gio mungkin boleh saja tapi Gea masih mempertimbangkan pernikahan mereka terlebih Gea masih belum sepenuhnya mengenal Gio Ferraldo.




"Kamu jadi sangat dewasa sekarang." Perkataan Bian membuyarkan lamunan Gea. Lelaki itu menyunggingkan senyum. "Aku jadi semakin menyukaimu."




"Baguslah. Kita kan sudah bukan anak kecil lagi dan ya kamu memang harus senang memiliki teman sepertiku. Aku jadi terharu kamu menyukaiku haha," Gea menyahut sambil tertawa nyaring, lain halnya dengan Bian.




"Sebagai wanita," Gea menghentikan tawanya. Bian tampak serius di hadapannya. "Aku menyukaimu sebagai wanita."




Mata Gea membulat Bian rupanya tidak main-main. Selanjutnya, gadis itu menampar pipi Bian yang membuat lelaki tampan tersebut meringis kesakitan.




"Hei, mengapa kamu malah menamparku?" protesnya.




Gea mencubit pipi Bian. "Kamu gak mabuk karena tawuran tadi kan?" Bian menyingkirkan tangan Gea dari pipinya. "Kamu apaan sih? Aku kesakitan nih!"




Aksi mereka terhenti karena Mia memanggil Gea. Gadis itu pergi menuju pintu dan membukanya.





"Kurasa ibunya Bian mencarinya" kata Mia.




Gea memeriksa ke bawah, dan benar saja wanita berambut panjang dengan mata sembab melihat ke arahnya. "Tante Grace," sudah lama Gea tidak bertemu dengan ibunda Bian Michaelis.




Mendengar suara Gea, Bian mendekat dan mengikuti arah pandang Gea.




"Bian-"




Bian menuruni anak tangga menemui sang Mama sedangkan Mia dan Gea mengikuti dari belakang.




"Setidaknya berilah kabar pada orang tuamu meski hanya sedikit. Kamu tidak kasihan, Mama kamu mencarimu hampir seharian ini?" kata Alvan bersandar di pintu.




Bian tidak merespon. Dia memandang kedua kaki sang Mama yang tidak mengenakan alas. Tampak kotor dan sedikit terluka di jari kelingking.




"Seharusnya Mama tidak mencariku tanpa alas kaki-"




Grace tidak peduli dengan ucapan Bian. Wanita itu memeluk putranya erat. "Aku takut kehilangmu. Aku pikir kamu bakal pergi jauh dan tidak mau menemui Mama lagi. Ponsel kamu juga dirumah dan Mama tidak bisa menghubungimu. Untungnya Gea menghubungi Mama agar kemari."




"Sudah lama Gea tidak bertemu dengan tante."




Grace tersenyum. Ia berterima kasih pada Gea karena memberinya informasi. Grace pun mengajak pulang Bian namun Gea dan Mia sempat menawarkan mereka makan terlebih dahulu tetapi keduanya menolak.




"Maaf sudah merepotkan," kata Bian seraya menatap mata Gea intens. Mereka saling beradu selama beberapa detik. Gea bisa melihat tatapan Bian berbeda padanya.




Entah mengapa terasa begitu hangat.