Amour

Amour
Fourty Two



Pagi harinya, Bian mengunjungi Gea yang masih berada di apartemen sebentar. Pemuda itu memberi salam dan berbincang bersama keluarga Gea.




"Tidak kusangka kamu bakal secepat ini menemuiku," ucap Gea seraya memakai jaket.




"Aku merindukanmu. Dan anggap saja ini permintaan maaf karena tidak menjemputmu di bandara kemarin. Kegiatan les ku sangat padat akhir-akhir ini."




"Oh ya, tante dengar, kamu sedang les bahasa Jerman ya?" Lisa menyahut.




"Iya tan, rencananya minggu depan mungkin aku sudah pindah ke Jerman."




"Mendadak sekali.." komentar Lisa sedih.




"Sudah yuk, kita jalan" Gea mengambil tas kecil dan berpamitan pada sang mama serta kakaknya.






✒️✒️✒️







"Kamu sulit sekali kuhubungi. Lagi senang menghabiskan waktu sama Pak Gio ya?"




Wajah Gea bersemu. Ia mengalihkan pandangan. "T-Tidak! Jaringan disana tidak sebagus jaringan disini," elaknya.




"Bohong."




Gea melirik Bian kembali. Pemuda itu tampak marah karena mengabaikan pesannya saat Gea di Amerika.




"Sejujurnya aku khawatir," Bian tiba-tiba berkata saat Gea hendak mengeluarkan suara. "Aku kira kamu sudah mulai lupa padaku," lanjutnya.




"Jangan berpikiran begitu! Aku sama sekali tidak pernah bermaksud untuk melupakanmu!" seru Gea bersungguh-sungguh.




Bian mengukir senyum tipis. "Bagaimana jika aku di Jerman nanti? Apa kamu akan merindukanku?"




Mendadak Gea terbungkam. Ia tak merespon. Pertanyaan Bian terlalu mendadak dan ia tidak tahu harus menjawab apa.




"Hei kalian berdua!"




Atensi Bian dan Gea teralihkan. Siapa lagi jika bukan karena pria berambut putih di ujung sana.




"Bisa tidak, kamu gak merusak suasana?" Bian berkata sinis. Samuel tertawa. "Tadinya aku ingin pergi ke kantor, tapi berhubung bertemu kalian di basemen sekalian saja ada yang ingin ku katakan."




"Apa?"




"Aku tidak bicara padamu Bian, tapi aku bicara dengan Gea."




Gea mengedipkan mata. "Bicara padaku? Tentang apa?" Samuel menarik tangannya untuk mengambil jarak agak jauh dari Bian.




"Aku pinjam dia sebentar!" kata Samuel saat mendapat tatapan tajam dari Bian Michaelis.




"Nambah lagi deh sekarang sainganku," gumam Bian kesal.









"Sudah kubilang jangan bilang pada Gio, kamu ingin aku mati ya?" Samuel menghujaninya dengan amarah. Gea memandang datar. "Ini salahmu sendiri. Lagipula kamu menumpang di kamar orang dan tidak sepatutnya membuat kerusakan," sahut Gea tidak peduli.




"Aku kan tidak sengaja melakukannya. Sekarang tamatlah riwayatku."




"Mengapa kamu takut? Kamu kan tinggal membereskan kamar Gio seperti semula. Tidak ada yang sulit."




"Tidak ada yang sulit bagaimana? Hei, aku kasih tau ya, Gio itu maniak kebersihan. Setelah kamu memberitahunya kemarin dia mengamuk padaku dan mungkin membereskan kamar Gio tidak semudah yang kamu bayangkan. Kalau aku salah sedikit, atau meletakkan barangnya tidak simetris, dia alan membunuhku waktu itu juga," Samuel bergidik. Gea mengangkat alis bingung.




"Semenakutkan itukah Gio di matamu?"




"Kamu tidak pernah melihatnya mengamuk. Ya, kemarahannya lebih mengerikan jika berhubungan dengan kebersihan."




"Oh tidak!" Gea terdiam. 'Aku bukan wanita yang suka bebersih, apa Gio bakal menerimaku?!' pikirnya negatif.




"Hei, kamu dengar aku tidak?" merasa diabaikan, Samuel mengayunkan tangan di depan wajah Gea.




"L-Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Gea bertanya.




"Tentu aku akan membereskannya. Aku takut Gio mendadak pulang cepat karena ini."




"Bagus. Semangat." Gea hendak pergi namun Samuel mencekal tangannya.




"Kamu juga harus membantu!" titahnya.




"Hei,kenapa aku?"




"Karena kamu penyebab kelacauan ini. Jadi kamu harus membantuku!"




"Kalau aku tidak mau bagaimana?"




Samuel menyeringai. "Mudah saja. Aku bisa bilang pada Gio bahwa selama dia masih di Amerika calon istrinya sedang kencan bersama orang lain. Atau mungkin Bibi Mary dan Paman Hendry sebaiknya juga mengetahui akan hal ini?" katanya mengancam sambil memperlihatkan foto Gea dan Bian berdua di basemen. Entah kapan pria itu mengambil gambarnya.




"Baiklah, aku akan membantumu." Gea pun menyerah. Samuel tertawa karena berhasil mengamcamnya.







✒️✒️✒️






Beberapa jam kemudian..




"Aku tidak tau ada pantai di sekitar sini." Bian memandang lautan luas setelah sebelumnya memasuki lahan yang dipenihi pepohonan lebat.




"Indah bukan?" Gea mengembangkan senyum. Aku hanya ingin menunjukkan tempat ini padamu."




"Indah sih, tapi hari ini cuacanya panas sekali. Bukankah lebih baik jika kita mengunjungi pantai ini sore hari?"




"Inginnya, tapi kamu bilang ada les sore nanti?"




"Oh.. Iya.." Bian tidak mengatakan apapun lagi. Ia mendekati Gea yang sedang bermain air di tengah teriknya matahari.





Tubuh itu tidak takut sinar matahari membakar kulitnya. Berbeda dengan Bian yang sebenarnya malas ada di pantai dan lebih memilih berada di tempat sejuk tanpa harus berurusan dengan cuaca panas yang menyengat.




"Ge-"




Byurrr!!




Bian terhenti setelah Gea menyipratkan air laut tepat di tengah wajahnya. "Hahahahaha" Gea cekikikan puas.






Mereka berdua kejar-kejaran di pantai. Seperti dejavu. Gea pun pernah merasakan hal yang sama di pantai ini.





Bersama Gio Ferraldo.





Entah mengapa sekelebat ingatan itu membawanya ke dalam sejuta rindu.






✒️✒️✒️






"Kamu yakin ini tidak akan sakit?" Gio bertanya ragu. Vinny mengangguk. "Kamu tidak perlu khawatir, prosesnya cepat dan kamu bisa pulang jika sudah selesai."




"B-Benarkah?"




"Oh ayolah, kamu kuliah jurusan kedokteran mana mungkin kamu tidak tau?" Vinny menyindir.




Gio mengalihkan atensi. Ekspresinya tiba-tiba buruk. "Aku agak trauma," ucapnya pelan.




"Waktu pembedahan mayat ya?" Vinny mencoba mengingat. "Kamu lulus dengan nilai terbaik meski sempat kesulitan dalam praktikum pembedahan mayat. Sejujurnya, kamu sudah bekerja dengan keras. Aku bisa melihat usahamu dalam menyelesaikan praktikum dengan sempurna."




Gio tidak berkata apapun sementara Vinny tertawa. "Aku tidak mengerti denganmu yang pernah menolak membedah mayat hanya karena urusan hati nurani. Kamu bahkan pernah kesal karena menggunakan kelinci dan mencit untuk percobaan sebelum akhirnya ada di tahap praktikum dengan mayat. Kalau kamu mengambil jurusan kedokteran, seharusnya kamu sudah tau konsekuensi yang akan ku terima. Kita melakukannya untuk orang banyak dan metode itu dilakukan agar kita tidak salah mengambil jalan serta keputusan."




"Sudah tidak perlu dibahas. Aku ingin kamu segera melakukan operasinya biar aku cepat pulang."




Vinny tampak terkejut. "Ada yang mengganggumu?" tanyanya.




"Ya, saudaraku membuat kerusakan dan aku harus cepat pulang untuk menghukumnya," jawab Gio dengan senyum mengerikan.




'Mengapa auranya tiba-tiba berubah drastis?' batin Vinny ngeri.







✒️✒️✒️






"Katanya kamu ada les?" Gea menggigit roti burgernya sementara Bian masih sibuk dengan kentang goreng.




"Ya, tapi masih ada sisa 2 jam sebelum lesnya dimulai. Lagipula urusan perut adalah hal yang pertama bukan?"




Gea nyengir. "Bilang aja kamu ingin berlama-lama bersamaku."




"Dasar kepedean!"




Gea pun tertawa. Sudah lama ia tidak mengobrol dengan Bian. Terlebih pemuda itu akan pergi jauh ke Jerman. Gea hanya ingin mengabadikan momen sebelum Bian benar-benar pergi.




"Aku tidak akan pergi selamanya." Bian tiba-tiba bergumam. Memandang foto yang mereka ambil saat di pantai berdua. "Setelah kuliahku selesai, aku akan kembali kesini dan bertemu denganmu," lanjutnya tersenyum.




"Tentu kamu harus menemuiku. Dan aku harap kamu tidak melupakanku apabila nanti kamu punya pacar di Jerman."




"Pasti cewek di Jerman cantik-cantik, tidak seperti dirimu."




"Dasar lelaki!" Gea mencibir.




Kali ini Bian yang tertawa. Merasa puas karena sudah menjahili Gea. "Kamu cemburu?" ia bertanya.




Gea tersedak. "Untuk apa aku cemburu!" serunya.




Gadis itu terdiam. Bersemu merah secara tiba-tiba dan membuat Bian penasaran.




"Lagipula.. aku.. Sebenarnya-"




Ponsel Bian berdering. Pemuda itu mengangkatnya terburu-buru karena ibunya yang menelpon.




"Apa? Baiklah, Bian berangkat sekarang."




Bian mengesak ponselnya kembali dan segera mengambil kunci motor. "Ada apa?"




"Les nya mendadak dimajukan hari ini dan aku lupa tidak membuka pesan. Aku sudah telat 30 menit yang lalu."




"Kalau begitu tunggu apa lagi. Kamu harus ke tempat les sekarang."




"Bagaimana denganmu?"




"Aku kan bisa naik taksi."




"Tapi-"




"Sudah bawa makananmu dan cepat berangkat! Masalah pembayaran biar aku saja!" Gea memberikan burger milik Bian serta kentang goreng untuk ia bawa. Gadis itu mendorong tubuh Bian keluar dari tempat makan.




"Gea-"




"Cepetan bodoh! Lelet banget, heran!"




"Ini aku yang buru-buru kok kamu yang marah.."





Haruskah Gea bilang bahwa dirinya sedang datang bulan dimana sifatnya jadi sangat sensitif sekarang.























Halo, lama tidak berjumpa. Maaf baru bisa update sekarang. Dua minggu lalu sempat hiatus karena masalah kesehatan. Dan terima kasih sudah setia menunggu cerita ini update. Luv untuk kalian💜💚❤️




Ada yang ingin author sampaikan. Dikarenakan author sudah masuk semester 3 tugas kuliah semakin banyak dan menumpuk. Pagi hari bekerja dan sore hari pergi kuliah hingga malam. Author tahu kalian pasti kecewa tapi karena keterbatasan waktu untuk menulis, author tidak bisa update banyak dalam seminggu. Tapi akan author usahakan untuk update setidaknya 1-2 kali dalam seminggu.



Author harap kalian dapat mengerti dan author juga tidak memaksa apabila kalian bakal meninggalkan cerita ini karena tidak dapat update seriap hari.



Maafkan kekurangan author ya teman-teman 🙏 dan terimakasih buat para readers yang tetap setia menunggu.



Selebihnya cerita akan author update 1-2 kali dalam seminggu. Sampai jumpa di chapter depan 😇💗