
Grace tidak henti-hentinya memegang tangan Bian sementara sebelah tangannya fokus di kemudi. "Aku tidak akan hilang, Ma," kata Bian.
Grace tertawa, dia mencium tangan Bian sebelum melepaskan. "Kamu putra satu-satunya. Harta Mama yang paling berharga. Mama harap kamu tidak mengulangi perbuatanmu seperti hari ini."
"Mama tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengulanginya." Bian mengalihkan pandangan ke arah jalan disampingnya. "Aku tidak akan mempermasalahkan perceraian kalian lagi. Jika itu yang terbaik maka aku tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya mulai sekarang Mama jangan memendam rasa sakit Mama sendirian." Bian tersenyum tipis. Entah ini adalah ucapan untuk Mamanya atau untuk dirinya sendiri. Faktanya, Bian juga orang yang sulit berbagi cerita sedih.
Grace menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Bian sudah dewasa. Wanita tersebut menahan agak tidak menangis. "Mama tidak akan menyembunyikan semuanya lagi darimu, sayang," katanya kemudian.
Beberapa menit suasana menghening. Mereka sudah sampai di halaman rumah. Sebelum Grace melepas sabuk pengaman, Bian dengan mantap mengatakan, "Aku sudah yakin dengan keinginanku sekarang."
Grace mengangkat sebelah alis tak mengerti. "Aku akan kuliah hukum, Ma. Aku ingin menjadi seorang Jaksa."
Detik itulah Grace berdegup kencang. Ia melihat tekad kuat di mata Bian. Wanita itu melengkungkan bibir.
"Kalau begitu bagaimana jika kamu kuliah di Jerman?"
"Eh?"
"Mama punya kenalan disana yang bisa membantu kamu masuk di universitas ternama. Lagipula pekerjaan Mama juga kebetulan akan beralih kesana."
Bian mengubah ekspresi wajahnya. Perasaan cemas mulai menghantuinya. "Tidak bisakah aku kuliah di dekat sini saja?"
"Tidak. Kamu harus mendapat pengajaran terbaik dan selagi Mama kerja disana, Mama bisa sekalian mengawasi kamu."
Sejujurnya ini bukan seperti yang Bian harapkan. Ia memang berencana kuliah di luar kota tapi bukan di luar negara. Jika hal ini terjadi, maka akan semakin sulit baginya untuk bertemu dengan Gea.
Sayangnya, Grace terlihat amat bahagia dan Bian tidak ingin merusaknya. Lantas apa yang harus Bian lakukan?
'Minggu depan? Bukankah ini terlalu cepat?'
"Lisa, ini hadiah untukmu." Gisel memberikan sekotak hadiah berisi produk bermerk dari brand yang mereka event kan hari ini.
"Kamu semakin cantik sekarang, Bobby memang tidak salah memilihmu," lanjut Gisel tersenyum. Lisa tertawa mendengarnya.
"Kudengar, kamu akan menjodohkan putrimu, benarkah itu?"
"Kamu mendengarnya darimana?"
Gisel menepuk lengan Lisa gemas. "Kamu lupa kalau aku tetangga nyonya Mary?"
"Astaga! Iya aku lupa! Apa Nyonya Mary mengatakan sesuatu padamu?" Lisa menatap Gisel intens menyebabkan wanita berambut gelombang tersebut gugup sesaat.
"Nyonya Mary orang yang pendiam, hanya saja kemarin saat aku berkunjung ke rumahnya untuk menawarkan kue yang ku buat, beliau mulai bercerita padaku. Kurasa itu karena sifatnya mengakibatkan dia sulit bersosialisasi dan tidak ada teman curhat."
"Lalu apa yang dikatakannya?"
"Tentang putranya tentu saja, dan juga suaminya. Sepertinya suami nyonya Mary ingin putranya menjadi pengganti dirinya sebagai dokter forensik mengingat Gio lulusan harvard jadi mudah baginya untuk menggantikan posisinya, akan tetapi putranya tetap gigih menolak pekerjaan tersebut."
Lisa menganggukkan kepala. "Bagaimanapun, Gio sudah memiliki pekerjaan sendiri. Ya, meski tidak sebagus dokter forensik, dia memiliki pekerjaan mulia di bidang pendidikan."
Salah satu alis Gisel terangkat. "Pendidikan?" Ia bertanya tak mengerti.
"Gio kan guru biologi putriku di SMA."
Sontak perkataan Lisa direspon tawa oleh Gisel. "Guru? Astaga Lisa, Gio yang merupakan calon menantu kamu masa seorang guru?" wanita tersebut tak henti-hentinya terkikik geli.
"Loh tapi itu benar bukan?" Lisa kebingungan, pasalnya dia serius tentang kalimatnya tapi Gisel menganggapnya sebuah candaan.
Gisel menggeleng dan menghentikan tawanya. "Gio itu direktur. Dia memiliki perusahaan besar di kota. Bergerak pada bidang bisnis pasar. Apa kamu tidak tau?"
Lisa tersedak. Apa yang dikatakan oleh Gisel mengagetkan dirinya. Selama ini yang dia tahu Gio seorang anak yang baik, memiliki pekerjaan sebagai guru tidak tetap dan punya rasa sopan santun. Jujur saja, awal Lisa bertemu dengannya dia memang mengira Gio adalah seorang direktur atau CEO di perusahaan layaknya drama yang sering dia tonton. Dan sekarang perkiraannya adalah sebuah kenyataan. Jadi selama ini Gio menyembunyikan identitas dirnya pada Lisa?
Hendry menurunkan cangkir kopinya diatas meja makan. Pria tersebut mengukir senyum. "Ke Amerika?"
Gio mengangguk. "Ada urusan pekerjaan disana, dan kemungkinan aku akan mengajak Gea. Semoga saja dia tidak keberatan."
Mary terkekeh. "Tentu kamu harus mengajaknya. Gea pasti senang."
"Kamu sukses besar sekarang. Pasti sangat sulit bagimu mengatur waktu. Jangan terlaku dipaksakan, kesehatanmu adalah yang terpenting."
Gio menunduk meski dirinya ikut mengulas senyum. "Maaf jika aku masih tidak bisa mengubah keputusanku."
"Tidak apa." Hendry bangkit dsri tempat duduknya. "Aku harus melakukan otopsi, aku pergi dulu." Pria itu mengambil mantel dan menuju pintu.
"Bersenang-senanglah di Amerika bersama Gea. Jangan terlalu serius, sesekali lakukanlah refreshing. Badanmu jadi kurus karena stress oleh pekerjaan. Itu membuatku cemas."
Mary merasa lega dengan yang diucapkan oleh Hendry. Gio terharu, sejauh ini hubungannya dengan sang Ayah memang sedikit merenggang. Namun mendengar perkataan Hendry, perasaan Gio jadi ikut lega.
"Tentu. Aku akan melakukannya, Ayah"
Gio menuju bandara. Dia menunggu kedatangan seseorang. Pria tinggi tegap dengan rambut blonde dan bermata biru melambaikan tangan.
"Apa kabar?" pria tersebut memberikan pelukan kepada Gio. "Tidak buruk, bagaimana denganmu Sam?"
Samuel melengkungkan senyum lebar. "Sama sepertimu."
Setelah Samuel berkata. Kumpulan orang berjas datang di belakangnya. "Kudengar kamu ingin liburan dan ingin aku menggantikan perkerjaanmu, jadi aku membawa orang-orangku untuk membantu."
Gio mengulas senyum. "Tolong ya?"
"Serahkan saja padaku," balas Samuel percaya diri. "Ngomong-ngomong aku rindu Paman Hendry dan Bibi Mary."
"Mereka juga merindukanmu."
Tepat keluar dari bandara. Samuel dibuat terperangah oleh banyaknya mobil di halaman. "Kamu sudah menyiapkan hal ini ya?" katanya kagum.
"Berhubung aku juga membawa karyawanku ikut serta, alhasil aku sudah berpikir bahwa tentu kamu akan membawa orang banyak jadi sekalian aku menyewa mobil untuk membawa kalian. Dan mengenai tempat tinggal, di perusahaanku sudah disiapkan kamar pribadi untuk staf dan karyawan jadi kalian bisa beristirahat disana."
Samuel menggelengkan kepala tak habis pikir. "Aku tidak menyangka setelah lulus dari Harvard kamu akan sekeren ini," pujinya.
Gio hanya membalas senyum. Mereka memasuki mobil diikuti orang-orang terpercaya bawaan Kevin.
Samuel bukan orang asing. Dia adalah sepupu Gio yang datang dari Thailand. Alasan mengapa Gio mempercayakan sepenuhnya pada Samuel adalah karena dia dapat diandalkan.
Gio tahu mengenai Samuel yang begitu pandai bermain di pemasaran meski pria itu juga memiliki perusahaan sendiri di Thailand. Namun Samuel tidak mempermasalahakan karena sekretaris pribadinya untuk sementara akan menggantikan posisinya sementara Samuel akan berada di perusahaan milik Gio Ferraldo.
"Aku akan selalu mengabarimu dan apabila kamu ingin bertanya padaku, kamu bisa menghubungiku."
Samuel mengangguk. "Baiklah, sebelum kamu berangkat ke Amerika, bisakah kamu menemaniku jalan-jalan? Aku ingin sekali berkeliling di Kota ini."
"Tentu. Besok aku akan mengantarmu."
"Aku mau sekarang."
"Tapi apa kamu tidak capek? Kamu baru saja tiba."
Samuel dengan mantap menggelengkan kepala. "Jangan ragukan staminaku, aku ini pekerja keras loh. Tidak mudah capek."
"Baiklah," Gio menyerah. Sudah biasa baginya menghadapi sifat hiperaktif Samuel. "Kalau begitu sekalian aku mengenalkanmu pada para karyawanku."