
"Saya merasa sangat tersanjung, anda mau menghadiri makan malam di rumah kami." Deon tak berhenti bersyukur. Tawaran makan malamnya disetujui tanpa beban. Padahal Gio orang yang sibuk. Dengan begini, hubungan Deon dan Gio akan semakin lebih dekat.
"Saya akan menanti kedatangan anda."
Gio mengiyakan. Setelahnya dia menutup telepon. Memijat pelipisnya sebentar, sementara Gea di pangkuannya menatap heran.
"Ada apa?"
"Tuan Deon, dia menawariku makan malam bersama hari ini. Kau mau ikut?"
Gea berpikir sejenak. Lalu menggeleng pelan. "Tidak bisa, aku ada janji dengan kakak. Membeli perlengkapan bayi."
"Eh, tumben gak sama kak Alvan?"
"Kak Alvan lagi dinas, jadi aku sebagai gantinya."
"Ah begitu.." Gio mengambil buah Cherry. Menyuapi Gea yang masih nyaman ada di pangkuannya sambil sesekali terkekeh gemas. "Sayang sekali, padahal aku ingin mengenalkanmu pada tuan Deon."
Gea menunggu kunyahannya habis lalu membalas ucapan Gio. "Aku bukan orang sepenting itu sampai harus kau kenalkan pada kolegamu."
"Tentu penting. Kau adalah istriku. Ibu dari anakku kelak." Gio menoel hidung mancung Gea yang membuat empunya tersipu.
"Ish.." Gea memukul dada Gio pelan. Beringsut duduk, lalu mendapat ciuman mendadak dari sang suami.
"Manis.. ternyata ada untungnya kamu makan Cherry."
Kesal, Gea pun menarik wajah Gio lalu membalasnya dengan ciuman juga. Lebih lama hingga larut ke dalamnya. Merasakan sensasi kehangatan mereka sendiri. Ketika kedua ujung lidah itu bertemu dan saling mengisi.
"Kau hebat seperti biasanya," puji Gea menjilat salivanya yang keluar.
"Ini masih pagi dan kau malah membuatku ingin masturbasi," balas Gio terkikik geli.
Gea tertawa. Pipi Gio bersemu merah hingga ke telinga. Dia mengecup pipi suaminya ringan. "Aku harap kau tidak merepotkan Jeffry karena kau bolos kerja hari ini."
Bibir Gio membentuk kurva. "Tak perlu khawatir. Dia bawahan yang tegar. Dia tidak akan roboh hanya karena mengganti kan tugasku sehari."
"Padahal kau baru saja mengambil cuti dan sekarang cuti lagi," Gea bangkit dari sofa. Berdiri membenarkan kain piyamanya yang longgar dan menampilkan tulang selangkanya. "Segitu inginkah kau bersamaku?"
Gio mengikuti. Memeluk pinggang ramping Gea lalu mencumbu lehernya. "Sudah jelas bukan? Kita tak punya banyak waktu berdua setelah menikah. Jadi aku hanya ingin mewujudkan. Setidaknya meski tanpa liburan, asal bersamamu itu sudah cukup."
Bibir Gea mengerucut. "Dasar gombal!"
✒️✒️✒️
Malam pun tiba. Gio bersiap. Memakai pakaian terbaiknya yang cukup formal. Meski ini adalah acara makan malam, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa hal yang mungkin dibahas ialah mengenai pekerjaan.
Dikarenakan Gea tak dapat datang, Gio pun terpaksa memanggil Jeffry sebagai gantinya. Sekaligus balasan karena menggantikan pekerjaannya untuk sementara waktu.
"Bagaimana penampilanku?" gio bertanya selagi Gea membenarkan dasi. "Tampan seperti biasa," balas Gea tersenyum simpul.
"Aku jadi khawatir, kau selingkuh dariku," ucap Gea tanpa sadar.
"Hei.. aku tidak mungkin selingkuh dari wanita cantik yang amat kusayangi ini." Gio memberi kecupan. Mengusap puncak kepala Gea sayang. Jeffry sudah menunggu di pintu. Pria itu menatap jengah.
"Lama-lama saya merasa iri," Jeffry tersenyum masam.
"Oleh karena itu, menikahlah cepat! Sampai kapan kau ingin jadi bujang?” sahut Gio diselingi tawa.
"Aku pergi dulu," Gio pun pamit. Diangguki Gea sebagai jawaban. "Sesekali hubungi aku, okey," Gea berpesan.
"Tentu istriku, aku menyayangimu."
"Me too.."
✒️✒️✒️
"Baaimana menurutmu Gea?" mia bertanya. Meminta pendapat Gea mengenai baju bayi yang ia pilih. Gea berpikir sejenak, lalu mengangguk mengiyakan jika pilihan kakaknya itu memang bagus.
Padahal dia sendiri hanya asal menjawab sejujurnya.
Waktu berlalu. Barang bawaan mia semakin banyak. Kakaknya yang sudah mengandung besar itu membuat Gea khawatir. "Biar Gea yang bawa belanjaan kakak," ucap Gea menawarkan diri ketika Mia hendak membayar di kasir.
Setelah selesai belanja kebutuhan, Mia mengajak Gea ke resto untuk makan malam sekaligus mengobrol ringan. Sebelah tangan Mia menyilakkan rambut Gea yang sudah mulai panjang. Bibirnya menyeringai, "hoho.. Gio keras juga ternyata," ucap sang kakak mengetahui kissmark di leher adiknya.
Pipi Gea merona. Dia menepis tangan sang kakak lalu menutupi lehernya dengan rambutnya lagi.
"Katakan padaku, kalian sudah sejauh apa?" Mia bertanya penasaran. "Yah.. tidak banyak yang dilakukan." Gea kembali merona.
Perbincangan mereka terjeda begitu makanan tersaji di meja. Gea menatap sekilas. Entah mengapa perutnya mendadak aneh. Sesuatu ingin keluar dari mulutnya. Gea tidak pernah merasa tidak minat pada makanan.
Ini pertama kalinya.
✒️✒️✒️
Pintu kelurga Deon terbuka lebar. Pria dengan kumis tipis itu mempersilahkan masuk. Sedikit terkejut karena Gio tidak datang sendiri, melainkan bersama asisten serta temannya yakni Jeffry.
Gio dan Jeffry dituntun Deon menuju ruang makan. Berbagai hidangan mewah telah dihidangkan diatas meja.
"Perkenalkan tuan, dia adalah Wenda, istriku. Dialah yang memasak semua ini." Deon memperkenalkan seorang wanita cantik dengan rambut panjang dihiasi pita kecil pada poninya. "Senang bertemu dengan anda, tuan Gio."
"Saya juga, nyonya Wenda."
Perbincangan pun berlangsung sedikit lama. Diselingi dengan makan bersama. Tidak hanya percakapan formal, Deon tak takut mengajukan beberapa pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi Gio Ferraldo.
"Bukankah akan sangat baik jika mengobrol mengenai perusahaan? Kita sedang dalam lingkup kerja tuan Deon," Jeffry menyahut. Sikapnya sedikit dingin karena mulai merasa tak nyaman. Deon tertawa renyah. "Anda terlalu kaku," tanggapnya.
"Saya hanya ingin mengubah suasananya sedikit. Mohon jangan tersinggung."
Gio tidak berkata banyak. Ia menyesap teh nya. Melirik ponsel yang tak kunjung menampilkan balasan pesan. Sebenarnya dimana Gea sekarang?
"Loh, siapa?" Seseorang mengalihkan perhatian mereka semua. Gadis yang mungkin seumuran dengan Gea itu terkejut karena di rumahnya ada tamu.
"Ah, maaf.." Gwen hendak melenggang pergi jika saja Deon tak menariknya. Memperkenalkan di depan dua pria asing yang merupakan rekan kerja bisnis sang papa.
"Dia putri ku, Gwen."
Gio mengulas senyum. "Salam kenal. Saya sering mendengar cerita mengenai anda nona."
"Dia Gio Ferraldo." Deon berbisik di telinga putrinya. Pipi Gwen bersemu merah. Tidak disangka idolanya bakal datang ke rumah.
Gio?
Orang yang ada di rumahnya saat ini adalah pebisnis muda sukses lulusan Harvard, Gio Ferraldo!
✒️✒️✒️
"Hoeek .. Hoeekk"
"Gea kamu baik-baik saja?" Mia bertanya khawatir. Adiknya itu tampak pucat. "Aku hanya merasa mual." jawaban Gea sontak membuat Mia terkejut sesaat. Wanita itu menyengir lebar.
"Gea, jangan-jangan kamu hamil!"
Gea melebarkan mata. Menggeleng tak percaya. "Masa aku hamil?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Hei, harusnya kamu senang dong!" Mia masih terlihat antusias. "Kita coba check dulu gimana?"
Gea memandang kakaknya yang sudah mengambil ponsel dari saku. "Sebelum itu kita hubungi Gio dulu." wanita itu menekan nomor.
Pandangan Gea perlahan buram. Lalu..
Bruk!
"Gea!"
✒️✒️✒️
"Gwen adalah putri kami satu-satunya. Dia cantik dan juga rajin." Deon tak henti-hentinya bercerita mengenai Gwen dikala mereka harusnya fokus pada suatu bisnis.
Gio tak tertarik begitu pula dengan Jeffry. Sedari tadi pria itu tak nyaman dan ingin mengakhiri obrolan. Tapi Jeffry tak punya kuasa dan berharap Gio mendengar isi hatinya yang merengek minta pulang.
"Papa, sudahlah.." Gwen menghembus nafas. Dia merona malu. Bahkan menatap Gio yang duduk di depannya, jantungnya berdegup kencang.
"Seperti yang anda katakan. Saya juga sempat terkejut melihat putri anda," komentar Gio menampilkan senyum tipis.
Gwen sekali lagi tersipu. Wanita manakah yang tak mabuk jika melihat pria setampan dan secerdas Gio berada di depannya?
Deon dan istrinya saling bertatapan penuh arti. "Tuan Gio, tidakkah putri kami sangat cocok jika berada disamping anda?"
Perkataan sang papa mengalihkan atensi Gwen. Mata gadis itu membola seolah tak percaya. Jeffry masih menahan kesal lalu ponsel Gio berdering.
Pria itu mengangkat telepon segera. Seseorang memberi kabar dan mengejutkan Gio saat itu juga. Lantas, Gio pun berdiri. Dia mengambil mantel miliknya yang tersampir pada kursi, diikuti Jeffry di sebelahnya.
"Maaf tuan Deon, sepertinya saya harus pergi" kata Gio berpamitan. Ia menoleh sejenak, menampilkan senyum lalu mengangkat telapak tangannya yang terselip cincin perak.
"Maaf juga, karena saya sudah menikah."
Jawaban telak bagi Deon serta keluarga. Tentu Deon tak pernah menyadari jika cincin perak yang selalu tersemat pada jari manis Gio adalah cincin suci pernikahan.
"Terima kasih, dan selamat malam."